Bila Budi Jualan Telur Gulung



Motor Sespan penjual telur gulung terparkir di seberang Indomaret Point. Bau gurihnya membuatku berhenti dan memesan 10 gulung.

Ini sudah lewat tengah malam. Penjual tampak lelah, matanya sayu.

"Tadi berangkat jam berapa pak?" Tanyaku.

"Jam 4 sore mas, dari sungai talang (Darungan), lalu setelah magrib di depan alfamidi sampai jam 11, terus pindah kesini," jawabnya.

Bapak ini asli Solo. Merantau ke Blitar, mengontrak rumah tak jauh dari Indomaret Point Kademangan.

Tengah malam masih bekerja, pun aku yang tengah malam itu sebenarnya juga baru pulang dari rapat panjang.

Di sekitar lokasi, juga masih ada penjual bakso dan cilot keliling. Warung-warung sudah banyak yang tutup.

Sepertinya telur gulung lebih "ringan" untuk menemani midnight hunger atau lapar tengah malam seperti ini.

Meskipun konskwensinya, besok aku harus mulai makan di atas jam 12 siang sesuai disiplin intermittent 12/12.

Itu aturan yang kubuat sendiri karena untuk orang sepertiku, 12 jam tidak makan sepertinya sudah cukup, meskipun pola minimalnya adalah 16/8. 16 jam tidak makan, dan 8 jam waktu makan.

Kukira pola ini lebih sederhana untuk menjaga agar badan tetap ramping, dan tak perlu resah ketika harus makan di atas jam 9 malam.

Banyak yang takut gemuk ketika makan malam hari, kan?

***

Jualan telur gulung rupanya cukup sederhana, setidaknya jika dibandingkan cilok atau sempol yang harus diolah sebelumnya. Apalagi bakso yang lebih kompleks.

Bahan utamanya telur dan bumbu yang divariasikan dengan sedikit tepung tapioka agar bisa digulung.

Skill yang menentukan adalah teknik mengocok hingga berbusa, lalu teknik menggulung di dalam wajan saat proses menggoreng.

Entah siapa yang mencetuskan ide jualan telur gulung ini, cukup brilian karena efisien, proses masaknya di tempat, tidak khawatir ada sisa, karena yang dipersiapkan hanya bahan baku.

***

Jualan makanan mungkin bisa menjadi alternatif pekerjaan bagi yang belum terserap lapangan pekerjaan.

Hanya saja, perlu kreatifitas tertentu agar tidak terkesan menjual sesuatu yang sudah ada.

Pun diperlukan mental untuk berani berjualan. Apalagi bergelar sarjana, masa jualan makanan keliling?

Hal yang sesungguhnya tak perlu dihiraukan, sebab tak ada yang salah dengan berjualan.

Bahkan pada rumpun ilmu sosial, atau sosial-sains misalnya, lulusan diharapkan menjadi wiraswasta dengan sentuhan kreatifitas yang berkelanjutan.

Misal, beberapa alumnus teknik lingkungan, setelah lulus juga banyak yang mulung sampah, keluar masuk TPA, namun dengan pengamatan dan tujuan yang tentunya berbeda.

Di jagat sosial media juga banyak kita temui penjual pecel, nasi kuning, es jeruk peras dll yang well-educated.

Yang dijual sama, namun cara berjualannya lebih menarik. Cara mengkomunikasikan dagangannya juga reasonable.

Suatu ketika ada pembeli nasi padang yang request tidak pakai sayur, lalu penjual menjelaskan fungsi sayur sebagai penyeimbang karbohidrat dan protein. Menarik sekali, bukan?

Ada sisi edukasi dan ada nilai yang dia petik dari pekerjaannya.

Kenapa mereka gak ngantor aja? Sebab tidak semua orang "betah" buat ngantor.

***

Telur gulung sebenarnya sudah lama ada, namun jumlahnya mungkin tak sebanyak penjual cilok dan bakso.

Barangkali itu bisa menjadi pertimbangan.

Tabik,