Fazlur Rahman, Guru Intelektual Syafii Maarif yang Mengubah Wajah Pemikiran Islam Modern
Di antara nama-nama besar pembaru Islam abad ke-20, sosok Fazlur Rahman menempati posisi yang istimewa. Ia bukan hanya seorang filsuf dan ahli studi Islam kelas dunia, tetapi juga guru bagi banyak intelektual Muslim yang kemudian berpengaruh besar di berbagai negara, termasuk Indonesia.
Salah satu muridnya yang terkenal adalah Ahmad Syafii Maarif, yang berkali-kali mengakui besarnya pengaruh Rahman terhadap cara pandangnya tentang Islam, demokrasi, dan kemanusiaan.
Lahir pada 21 September 1919 di Hazara, wilayah yang kini masuk Pakistan, Fazlur Rahman tumbuh dalam keluarga ulama mazhab Hanafi.
Ayahnya, Maulana Shihab al-Din, merupakan lulusan Darul Ulum Deoband yang dikenal terbuka terhadap pendidikan modern.
Di bawah bimbingan sang ayah, Rahman telah menghafal Al-Qur'an sejak usia sepuluh tahun.
Pendidikan awalnya berlangsung dalam tradisi Islam klasik melalui sistem Dars-i Nizami. Namun, ia juga menempuh pendidikan modern hingga meraih gelar sarjana dan magister Bahasa Arab di Punjab University, Lahore.
Perjalanan akademiknya mencapai puncak ketika ia melanjutkan studi doktoral di Oxford University, Inggris, dan menyelesaikan disertasi tentang psikologi filsuf Muslim besar Ibn Sina pada 1949.
Karier akademiknya berkembang pesat. Ia mengajar di Durham University dan McGill University sebelum kembali ke Pakistan pada awal 1960-an.
Saat itu Presiden Ayub Khan menunjuknya sebagai Direktur Central Institute of Islamic Research. Tugasnya tidak ringan. Rahman diminta membantu merumuskan pembaruan pemikiran dan hukum Islam agar lebih relevan dengan kebutuhan masyarakat modern.
Namun gagasan-gagasannya yang progresif memicu perlawanan dari kelompok konservatif. Kontroversi yang terus berkembang akhirnya membuat Rahman meninggalkan Pakistan dan menetap di Amerika Serikat.
Sejak 1969 hingga wafatnya pada 26 Juli 1988, ia menjadi profesor di University of Chicago, salah satu pusat studi Islam paling berpengaruh di dunia.
Keistimewaan Fazlur Rahman terletak pada kemampuannya menjembatani tradisi Islam klasik dengan pemikiran modern. Ia menguasai tafsir Al-Qur'an, hukum Islam, filsafat, tasawuf, hingga sejarah pemikiran Muslim.
Dalam bidang tafsir, ia mengembangkan pendekatan yang menekankan pemahaman terhadap konteks sejarah turunnya Al-Qur'an tanpa mengabaikan pesan moral universal yang terkandung di dalamnya.
Menurut Rahman, umat Islam perlu membedakan antara Islam normatif dan Islam historis. Islam normatif adalah nilai-nilai universal Al-Qur'an yang berlaku sepanjang zaman, sedangkan Islam historis merupakan praktik yang berkembang dalam kondisi sosial tertentu.
Gagasan ini kemudian menjadi fondasi penting bagi pembaruan pemikiran Islam kontemporer.
Pemikirannya tertuang dalam berbagai karya penting seperti Islamic Methodology in History, Major Themes of the Qur'an, dan Islam and Modernity. Melalui buku-buku tersebut, ia mendorong kebangkitan ijtihad, penguatan etika Al-Qur'an, penghormatan terhadap hak asasi manusia, kesetaraan perempuan, dan pembangunan masyarakat yang demokratis.
Pengaruh Rahman di Indonesia sangat besar. Selain membimbing Ahmad Syafii Maarif, ia juga menjadi guru bagi Nurcholish Madjid.
Melalui kedua tokoh tersebut, gagasan Islam yang inklusif, rasional, dan humanis menyebar luas ke kalangan akademisi, aktivis, serta organisasi Islam seperti Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama.
Syafii Maarif bahkan pernah menggambarkan pengalaman intelektualnya saat belajar kepada Rahman di Chicago sebagai proses "pencucian otak" dalam arti positif.
Melalui kajian Al-Qur'an yang mendalam, ia diajak melihat Islam bukan sekadar kumpulan aturan formal, melainkan sebagai sumber nilai moral yang membela keadilan, kemanusiaan, dan kemajuan peradaban.
Hingga kini, lebih dari tiga dekade setelah wafatnya, karya-karya Fazlur Rahman masih menjadi rujukan utama di berbagai perguruan tinggi Islam.
Meski tetap menuai kritik dari sebagian kalangan tradisionalis, warisannya sebagai pemikir Muslim visioner tidak terbantahkan.
Ia berhasil menunjukkan bahwa Islam dapat tetap setia pada nilai-nilai dasarnya sekaligus mampu menjawab tantangan dunia modern.
Dengan warisan intelektual itu, Fazlur Rahman tetap dikenang sebagai salah satu arsitek utama pembaruan pemikiran Islam di era modern.
Diolah oleh team Jurnal Rasa Media
