Guru Inspiratif Laskar Pelangi, Bu Muslimah, Wafat
BELITUNG TIMUR – Dunia pendidikan Indonesia kembali berduka. Muslimah Hafsari, guru inspiratif yang dikenal luas sebagai Bu Muslimah atau Bu Mus, sosok yang mengilhami karakter utama dalam novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata, meninggal dunia pada Sabtu, 27 Juni 2026, sekitar pukul 03.30 WIB.
Beliau wafat pada usia 74 tahun setelah menjalani perawatan intensif di ruang ICU RS Muhammad Zein, Manggar, Belitung Timur, selama hampir tiga pekan.
Kondisi kesehatan Bu Muslimah dikabarkan terus menurun sejak Jumat malam sebelum akhirnya mengembuskan napas terakhir pada dini hari. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, masyarakat Belitung Timur, serta dunia pendidikan nasional.
Bu Muslimah meninggalkan suami, Hazali Ali, tiga orang anak, dan delapan cucu. Kabar wafatnya pertama kali disampaikan oleh Andrea Hirata melalui akun Instagram pribadinya.
"Innalillahi wa inna ilaihi raji'un. Telah berpulang ke Rahmatullah Ibunda Guruku Ibu Muslimah. Alfatihah."
Unggahan tersebut segera dibanjiri ucapan belasungkawa dari para pembaca, tokoh pendidikan, hingga masyarakat yang mengenal perjuangan Bu Muslimah melalui novel maupun film Laskar Pelangi.
Muslimah Hafsari lahir di Dusun Rasau, Desa Gantung, Kabupaten Belitung Timur, pada 27 Februari 1952. Ia merupakan putri keempat dari tujuh bersaudara pasangan K.A. Abdul Hamid, salah satu pelopor berdirinya sekolah Muhammadiyah di Belitung, dan Salma Syarif.
Sejak muda, dedikasinya terhadap dunia pendidikan sudah terlihat. Setelah menamatkan pendidikan di Sekolah Kepandaian Putri (SKP) Muhammadiyah, ia mulai mengajar ketika usianya masih sekitar 17 tahun. Pilihannya untuk menjadi guru bukan demi mengejar kehidupan yang mapan, melainkan sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat.
Sebagian besar masa baktinya dihabiskan di SD Muhammadiyah Gantung, sebuah sekolah sederhana yang berada di kawasan pertambangan timah dengan fasilitas sangat terbatas. Bahkan, pada masa-masa awal mengajar, gaji yang diterimanya hanya sekitar Rp7.000 per bulan, bahkan tidak jarang tidak dibayarkan sama sekali.
Namun, keterbatasan tersebut tidak pernah menyurutkan semangatnya untuk terus mendidik anak-anak.
Bu Muslimah juga pernah menjabat sebagai Kepala SD Muhammadiyah Gantung pada periode 1975–1984. Setelah kemudian diangkat menjadi pegawai negeri sipil, ia mengajar di sejumlah sekolah dasar negeri hingga memasuki masa pensiun pada Februari 2012.
Meski telah pensiun, pengabdiannya tidak berhenti. Dari rumahnya, Bu Muslimah membuka kelas belajar gratis bagi anak-anak yang mengalami kesulitan belajar, termasuk anak-anak berkebutuhan khusus. Baginya, pendidikan adalah hak setiap anak tanpa memandang latar belakang ekonomi maupun kondisi fisik.
Sosok Bu Muslimah dikenal sebagai guru yang sederhana, penuh kasih sayang, sabar, serta memiliki dedikasi luar biasa. Di tengah kekurangan tenaga pendidik, ia kerap mengajar hampir seluruh mata pelajaran seorang diri.
Kerendahan hatinya juga menjadi teladan. Saat Andrea Hirata menyebutnya sebagai seorang pahlawan, Bu Muslimah pernah menjawab dengan rendah hati bahwa dirinya hanyalah manusia biasa.
Menurutnya, seseorang tidak perlu terlalu disanjung karena pada akhirnya semua akan kembali menjadi manusia biasa.
Salah satu kisah yang paling dikenang adalah ketika ia tetap berangkat mengajar saat hujan deras hanya dengan menggunakan pelepah daun pisang sebagai pelindung dari hujan. Sesampainya di sekolah, murid-muridnya berkumpul di sudut kelas karena khawatir bangunan sekolah yang rapuh akan roboh. Namun, keadaan tersebut tidak memadamkan semangat belajar mereka.
Bersama K.A. Harfan, Bu Muslimah juga berjuang mempertahankan SD Muhammadiyah Gantung yang nyaris ditutup akibat kekurangan murid. Perjuangan itulah yang kemudian diangkat Andrea Hirata dalam novel Laskar Pelangi yang terbit pada 2005.
Novel tersebut menjadi fenomena sastra Indonesia dan diterjemahkan ke berbagai bahasa. Adaptasi filmnya juga meraih kesuksesan besar serta menginspirasi jutaan orang mengenai pentingnya pendidikan, terutama bagi anak-anak dari keluarga sederhana.
Sebagai bentuk penghargaan atas pengabdiannya, Bu Muslimah menerima Satya Lencana Pendidikan dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 2008. Penghargaan itu menjadi pengakuan atas dedikasinya yang telah mengubah kehidupan banyak murid melalui pendidikan.
Kepergian Bu Muslimah menandai berakhirnya perjalanan hidup seorang guru yang selama puluhan tahun mengabdikan dirinya bagi dunia pendidikan. Namun, semangat, ketulusan, dan nilai-nilai yang diwariskannya akan terus hidup melalui murid-muridnya, serta melalui kisah Laskar Pelangi yang telah menginspirasi generasi demi generasi.
Bu Muslimah membuktikan bahwa seorang guru dengan ketulusan, kesabaran, dan keyakinan terhadap pentingnya pendidikan mampu menjadi cahaya harapan di tengah berbagai keterbatasan. Warisan itulah yang akan terus dikenang sebagai bagian penting dari sejarah pendidikan Indonesia. []

