Hanya Soal Waktu, Komunitas Akan Bubar



Setidaknya ada beberapa orang bertanya, apakah komunitas menulis yang dulu kami kelola, bisa diaktifkan kembali?

Mengaktifkan komunitas mungkin bukan perkara sulit, namun bukan itu yang terpenting.

Sebagai komunitas resmi, hirarkis-struktural, lengkap dengan AD/ART dan periodesasi, perlu ada target yang harus dicapai.

Komunitas menulis itu tidak didesain menjadi "hak milik" dan sebaiknya ada batas maksimal seseorang mengelolanya.

Batas waktu itulah yang nantinya menjadi target: selama kurun waktu tersebut, apa yang kita lakukan dan akan jadi apakah kita?

Sehingga pertanyaannya bukan lagi, apakah komunitas tersebut bisa diaktifkan, melainkan ketika komunitas tersebut masih aktif, sudah seberkembang apakah kita?

Itu penting, sebab komunitas bisa bubar kapan saja, bisa berganti orang setiap periodenya, bisa sangat eksis, bisa juga redup.

Sebab komunitas biasanya hanya mendapatkan sisa porsi dari waktu luang kita, bukan prioritas.

Prioritas utama kita tetap pekerjaan, lalu jika ada waktu luang, barulah kita bagi prosentasenya.

Berapa persen buat rebahan, berapa persen buat liburan, keluarga, dan sisanya adalah komunitas.

Komunitas itu "fana", kita harus "abadi".

Dan anehnya, semakin banyak yang bertanya, apakah komunitas itu bisa diaktifkan kembali? Justru aku semakin yakin bahwa sebaiknya memang tidak aktif lagi, atau bahkan bubar saja.

Sebab begini, kadang kita lupa bahwa komunitas hanya wadah, ruang berkumpul, menjaga iklim dan semangat. Tujuannya adalah agar orang-orang di dalamnya berkembang.

Berkembang di sini bisa dalam banyak aspek. Selain kemampuan menulisnya, terutama. Relasi sosial, komunikasi publik, juga menjadi kompetensi yang berkembang beriringan.

Komunitas menulis itu, selain melahirkan penulis, juga melahirkan "guru menulis" yang juga cakap menjadi narasumber dan juri kepenulisan.

Tujuan komunitas itu bukan agar komunitasnya eksis, namun agar lahir "bibit literasi" yang terus tumbuh.

Sehingga, tak perlu risau komunitasnya bubar. Sebab aku melihat "anak panahnya" sudah melesat kemana-mana, dan juga masih melestarikan kegiatan-kegiatan literasi, meski dalam format yang lain.

Ada yang aktif menjadi writerpreneur, mengelola komunitas sastra, menginisiasi diskusi-diskusi buku, menulis ke berbagai platform, menerbitkan buku dll.

Lagipula, dengan aktif di komunitas menulis, tidak otomatis menjadi penulis, kan?

Apalagi yang datang hanya untuk menambal kegabutan, tanpa ada target dan ketekunan.

Hanya soal waktu, komunitas akan bubar, dan itu alamiah/sunnatullah.

Karena pada saatnya semua akan menjadi kenangan, dan sejauh ini, hal-hal manis lah yang kukenang dari komunitas tersebut. []

Tabik,
Ahmad Fahrizal A