Bursa Calon Ketua Umum PBNU 2026 Menghangat, Dua Tokoh Resmi Nyatakan Siap Maju
Menjelang pelaksanaan Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35 yang dijadwalkan berlangsung pada 27–31 Agustus 2026 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Jombang, dinamika pemilihan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mulai menghangat.
Sejumlah nama terus diperbincangkan sebagai kandidat yang berpeluang memimpin organisasi Islam terbesar di Indonesia tersebut untuk periode 2026–2031.
Hingga pertengahan Juli 2026, baru dua tokoh yang secara terbuka menyatakan kesiapan untuk maju sebagai calon Ketua Umum PBNU.
Sementara sejumlah nama lain masih berada pada tahap pembicaraan, penjajakan dukungan, atau menyatakan kesiapan dengan syarat tertentu.
Gus Yahya Siap Kembali Maju
Nama pertama yang telah memastikan kesiapannya adalah KH Yahya Cholil Staquf atau yang akrab disapa Gus Yahya. Sebagai Ketua Umum PBNU periode 2021–2026, ia telah beberapa kali menyampaikan kesediaannya untuk kembali mengikuti kontestasi pada Muktamar NU mendatang.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa Gus Yahya akan kembali menawarkan kepemimpinannya kepada para peserta muktamar.
Selama masa kepemimpinannya, PBNU menjalankan berbagai program pembaruan organisasi, penguatan tata kelola, digitalisasi administrasi, hingga memperluas peran NU dalam berbagai forum internasional.
Keputusan Gus Yahya untuk kembali maju dinilai memberikan kepastian bahwa petahana tetap menjadi salah satu figur utama dalam bursa pemilihan Ketua Umum PBNU.
Dengan pengalaman memimpin organisasi selama lima tahun terakhir, ia diperkirakan masih memiliki basis dukungan yang kuat dari berbagai kalangan di lingkungan NU.
Namun demikian, seperti tradisi dalam Muktamar NU, seluruh proses pemilihan tetap bergantung pada dinamika dukungan dari pengurus wilayah (PWNU), pengurus cabang (PCNU), serta peserta muktamar yang memiliki hak suara.
Gus Salam Resmi Menyatakan Kesiapan
Selain Gus Yahya, tokoh kedua yang telah menyatakan secara terbuka kesiapannya maju adalah KH Abdussalam Shohib atau Gus Salam.
Pernyataan tersebut menjadikan Gus Salam sebagai penantang pertama yang secara resmi masuk dalam bursa calon Ketua Umum PBNU. Langkah ini menarik perhatian karena membuka peluang munculnya persaingan yang lebih kompetitif menjelang muktamar.
Gus Salam dikenal sebagai salah satu tokoh muda NU yang memiliki pengalaman panjang di lingkungan pesantren serta aktif dalam berbagai kegiatan organisasi. Dengan deklarasi tersebut, ia mulai membangun komunikasi politik dan konsolidasi dukungan dari berbagai daerah.
Meski demikian, peta dukungan terhadap Gus Salam masih terus berkembang mengingat proses konsolidasi di tingkat wilayah maupun cabang masih berlangsung.
Zulfa Mustofa Belum Mendeklarasikan Diri
Di luar dua nama tersebut, KH Zulfa Mustofa juga kerap disebut sebagai salah satu figur potensial.
Wakil Ketua Umum PBNU itu memang pernah menyatakan kesiapannya apabila terdapat aspirasi yang kuat dari pengurus cabang maupun pengurus wilayah. Namun hingga pertengahan Juli 2026, ia belum secara langsung mendeklarasikan diri sebagai calon Ketua Umum PBNU.
Sikap tersebut menunjukkan bahwa peluang Zulfa Mustofa masih terbuka, tetapi sangat bergantung pada perkembangan dukungan menjelang pelaksanaan muktamar.
Nama-Nama Lain Masih Sebatas Bursa
Selain tiga tokoh tersebut, sejumlah nama juga terus muncul dalam berbagai diskusi internal maupun pemberitaan media.
Beberapa di antaranya adalah Menteri Agama Nasaruddin Umar, KH Yusuf Chudlori (Gus Yusuf), KH Muhammad Kholid atau Gus Kikin, serta KH Ahmad Rozin Mufid (Gus Rozin).
Nama-nama tersebut memang cukup sering disebut sebagai figur yang memiliki kapasitas untuk memimpin PBNU.
Namun hingga kini belum ada deklarasi resmi dari masing-masing tokoh mengenai kesediaan mereka maju sebagai calon Ketua Umum.
Karena itu, status mereka masih berada pada level pembicaraan publik maupun dukungan dari sebagian kalangan, bukan sebagai kandidat yang telah menyatakan diri secara resmi.
Gus Ulil Tak Lagi Masuk Bursa Utama
Salah satu perkembangan menarik dalam dinamika Muktamar NU adalah meredupnya nama KH Ulil Abshar Abdalla atau Gus Ulil.
Pada Februari 2026, Gus Ulil sempat menyatakan kesiapannya untuk maju dalam pemilihan Ketua Umum PBNU. Pernyataan tersebut sempat menarik perhatian publik dan memunculkan berbagai analisis mengenai kemungkinan konfigurasi persaingan di muktamar.
Namun memasuki pertengahan Juli 2026, namanya tidak lagi banyak muncul dalam pembahasan utama mengenai bursa calon Ketua Umum PBNU.
Berbagai analisis politik organisasi maupun pemberitaan terbaru lebih banyak memusatkan perhatian pada Gus Yahya dan Gus Salam sebagai dua figur yang telah secara terbuka menyatakan kesiapan maju.
Dinamika Diperkirakan Masih Berubah
Meski demikian, peta persaingan menuju Muktamar NU ke-35 masih sangat dinamis. Waktu sekitar satu bulan sebelum pelaksanaan muktamar masih memungkinkan munculnya nama-nama baru.
Dalam tradisi NU, dukungan dari PWNU dan PCNU memiliki peran penting dalam menentukan arah pencalonan. Tidak sedikit tokoh yang baru menyatakan kesediaan maju setelah memperoleh dorongan kuat dari berbagai daerah.
Situasi tersebut membuat kemungkinan perubahan konfigurasi kandidat masih terbuka lebar. Dukungan yang berkembang di tingkat akar rumput organisasi juga dapat memengaruhi munculnya calon-calon baru menjelang hari pelaksanaan muktamar.
Muktamar Jadi Penentu Arah PBNU Lima Tahun ke Depan
Muktamar NU merupakan forum permusyawaratan tertinggi organisasi yang diselenggarakan setiap lima tahun sekali. Selain memilih Ketua Umum PBNU, forum ini juga menetapkan berbagai kebijakan strategis organisasi, memilih Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, serta merumuskan arah gerakan NU pada periode berikutnya.
Pelaksanaan Muktamar ke-35 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Jombang, diperkirakan akan menjadi salah satu agenda organisasi terbesar tahun ini karena melibatkan ribuan peserta dari seluruh Indonesia.
Hingga pertengahan Juli 2026, baru terdapat dua tokoh yang secara resmi dan terbuka menyatakan kesiapan maju sebagai calon Ketua Umum PBNU, yakni KH Yahya Cholil Staquf sebagai petahana dan KH Abdussalam Shohib sebagai penantang.
Sementara itu, sejumlah nama lain masih berada dalam tahap pembicaraan, menunggu perkembangan dukungan dari berbagai daerah.
Dengan masih tersisa waktu sekitar satu bulan sebelum Muktamar NU digelar, dinamika politik organisasi diperkirakan akan terus berkembang.
Tidak menutup kemungkinan muncul kandidat baru yang ikut meramaikan kontestasi pemilihan Ketua Umum PBNU periode 2026–2031.

