Hari-hari Setelah Lulus Sekolah (2)
Aku berpuasa sunnah pada hari pengumuman hasil Ujian Nasional (UN). Meski dipikir², puasa itu tak akan mengubah apapun, sebab hasilnya tentu sudah ada sebelumnya, kan?
Berharap dengan puasa itu, hasilnya akan sesuai harapan. Begitu menakutkannya tidak lulus UN, hingga perlu penenang batin seperti berpuasa.
Kala itu, murid yang tidak lulus akan dikunjungi ke rumah. Berdasar data tahun-tahun sebelumnya, yang tidak lulus "hanya" hitungan jari.
Artinya, bukan hal berat bagi pihak sekolah untuk ngalahi datang ke rumah.
Sebab, tidak lulus UN sangatlah berat. Sedih. Hancur. Frustasi. Suatu mimpi buruk jika itu terjadi.
Syukur wal Hamdulillah, aku lulus, dengan nilai minimalis untuk mendaftar ke SMAN area Tanjungsari yang populer itu.
Aku ingin sekolah di sana, bukan karena sekolahnya, namun karena "seseorang".
Di atas kertas, kemungkinan diterimanya super kecil, mungkin lebih kecil dari mikroba atau bakteri mycoplasma.
Jika tidak diterima, aku akan mendaftar ke sekolah kejuruan negeri di jalan Kenari. Kakak keponakanku sekolah disitu, jurusan mesin.
Sayangnya, nilaiku hanya bisa masuk jurusan bangunan. Aku sempat mengambil formulir meski tak pernah mengembalikannya.
Teman sebangkuku melanjutkan ke sekolah kejuruan itu. Adalah hal praktis jika aku juga melanjutkan kesana. Teman ada, kakak ponakan ada.
Namun ini soal hati. Apa jadinya pabila aku sekolah di tempat yang bahkan sama sekali tak kuinginkan? Dilema.
Saat seluruh pendaftaran sekolah negeri hampir tutup, aku masih belum menentukan pilihan.
Satu-satunya adalah MANKot, itupun pendaftarnya sudah membludak. Sudah melebihi batas penerimaan.
Terlalu mudah lulusan MTsNK untuk masuk MANKot. Peluang diterimanya 90% ke atas. Dulu demikian, sekarang mungkin berbeda.
Kebijakan zonasi ini sepertinya membuat MANKot justru berkibar, karena di bawah naungan Kemenag, tidak kena zonasi.
Ibuku sudah khawatir, takut aku tak diterima. Pertama, nilai UN ku minimalis. Kedua, daftarnya sudah injury time.
Aku tak diharapkan sekolah di swasta, padahal kedua ortuku juga tamatan sekolah swasta. Ibuku adalah alumnus SMEA dr. Ismangil yang melegenda pada zamannya.
Kembali lagi soal hati, toh pada akhirnya aku juga bersekolah di tempat yang tak kuinginkan.
Sepertinya aku tidak layak punya impian. Sekalinya punya impian, kandas juga oleh realitas.
Sepertinya, ayat Wallāhu ya'lamu wa antum lā tā'lamun sangat berlaku bagiku.
Dengan "separuh hati yang patah" aku memulai hidup baruku sebagai murid Aliyah.
Awal-awal sekolah kondisiku drop, sakit typus, masuk-ijin-masuk-ijin hingga hampir 3 bulan.
Sakit-sakitan ini juga faktor psikologis, barangkali. Pingsan saat upacara bendera juga baru pertama ini kualami.
Langganan masuk UKS karena badan lemas, letih, tak ada gairah.
Sering ketinggalan pelajaran, bahkan saat acara diklat ekstrakurikuler Jurnalistik, aku hanya bisa ikut sesi materi karena belum fit.
Bagaimana jadi jurnalis kalau badan seringkih ini?
Tiba-tiba semangat hidupku muncul lagi. Hari-hari yang terasa suram tiba-tiba berseri kembali.
Karena apa? Aku lupa, namun itulah kuasa Tuhan: Yā Muqallibal qulūb, yang maha membolak balikkan hati manusia. (Bersambung)
Tabik,
Ahmad Fahrizal A.

