Hari-hari Setelah Lulus Sekolah (3-habis)
Jika tidak kuliah, mau kerja apa? Atau, kalau kuliah pun uangnya dari mana?
Pertanyaan itu muncul di penghujung kelas XII. Kondisi keuangan keluarga sedang kurang baik.
Meski ada beasiswa bidikmisi, terlalu sulit juga untuk menyebut kami keluarga tak berpunya.
Namun kuliah juga bukan hal mudah untuk dijalani, apalagi di luar kota. Biaya hidup, biaya studi, dlsb.
Belum pernah ada satupun dari keluarga bapak dan ibu yang pernah kuliah.
Kuliah menjadi suatu yang teramat mewah.
Namun, ketika sekolah di MANKot, untuk pertama kalinya aku punya cita-cita: menjadi wartawan musik.
Sepanjang hidup aku tak berani punya cita-cita, apalagi ketika sekolah di SDNKM.
Heroisme film Laskar Pelangi ternyata tak terwujud di SDNKM kami. Padahal dari segi bangunan, SDNKM jauh lebih layak dibandingkan SD Muhammadiyah Gantong.
Toh tetap saja, kami tumbuh dalam pesimisme akut. Pun diriku saat itu.
Cita-cita menjadi wartawan musik terbit ketika aku terpukau dengan majalah Rolling Stone.
Kulirik syarat jadi wartawan, rata-rata minimal S1, apapun jurusannya.
Seperti yang kuceritakan sebelumnya, aku ikut ekstrakurikuler Jurnalistik.
Setahun setelah diklat, aku terpilih menjadi ketua.
Rada aneh memang ketika aku menang pemilihan ketua ekskul, dan itu sangat bergengsi.
Ada penjaringan calon, ada penyampaian visi misi, ada debat kandidat, lalu pemilihan.
Ternyata aku menyukai dunia Jurnalistik, menyukai reportase, wawancara orang, menulis dan menjadi penyiar radio.
Sekolah yang awalnya tak kuharapkan, ternyata justru yang paling menghargai talentaku, plus memberi ruang sepenuh penuhnya.
Beberapa kali aku diikutkan diklat, dan dibiayai. Beberapa kali pula aku mendapatkan tugas khusus meliput acara, termasuk wawancara walikota, kala itu Pak Djarot Saiful Hidayat.
Aku juga menyukai musik, mengikuti berita tentang musik, dari prestasi hingga skandalnya.
Punya temen ngeband kecil-kecilan hingga menciptakan lagu bersama.
Referensi musikku lumayan banyak berkat terlalu sering ke warnet, mengenal Internet Download Manager (IDM), mendownload lagu-lagu terbaru.
Mendengarkannya dari MP3 Player yang ukurannya mungil, bahkan lebih kecil dari walkman.
Itu era ketika mayoritas ponsel masih Polyponic, segelintir saja yang punya Symbian, itupun dengan memori terbatas.
Jurnalis dan musik adalah dua kombinasi yang membuatku percaya diri untuk mendeklarasikan cita-cita menjadi wartawan musik.
***
Kembali ke cerita awal, pada akhirnya aku beranikan diri ikut tes SNMPTN (dulu adalah jalur tes tulis, kalau jalur nilai rapor disebut PMDK).
Dengan beberapa teman berangkat ke Malang, numpang menginap di komisariat HMI Ekonomi UM, atas rekomendasi Pak Nanang, guru MANKot.
Aku mendapatkan lokasi ujian di UGM (Universitas Gajayana Malang). Lokasi tes di Aula besar, seperti film-film Jepang yang pernah kutonton.
Tak terpikir akan lolos ujian SNMPTN, sebab harus ikut rumpun IPS, sementara jurusanku adalah Bahasa. Jurusan bahasa mau tak mau harus ikut IPS.
Aku hanya membeli buku soal-soal SNMPTN IPS, berusaha mengerjakan soal-soal ekonomi, akuntansi dan geografi, yang tak pernah lagi kupelajari sejak mengambil jurusan bahasa.
Kalaupun nantinya tak diterima, minimal aku pernah merasakan atmosfer ujian masuk perguruan tinggi.
Tak ada puasa atau tirakat apapun layaknya menanti pengumuman UN kemarin.
Saat membuka pengumuman, begitu terkejutnya, ternyata aku diterima.
Tuhan begitu baik. []
Tabik,
Ahmad Fahrizal A.

