Saat-saat untuk Tidak Merokok
Ketika masih kecil, kita dilarang merokok bukan karena merokok itu buruk untuk kesehatan, namun karena belum bisa cari uang sendiri.
Orang tua tidak sudi mensubsidi rokok anaknya, sekalipun dia sendiri seorang perokok.
Lebih baik untuk biaya sekolah, beli baju, makan bergizi dsj. Anak-anak lebih membutuhkan protein ketimbang nikotin.
Dan mungkin karena itupula, larangan merokok jadi berbatas waktu, atau ada pengecualian. Misalnya, kan aku beli rokok dari uang sendiri?
Misalnya, si anak baru menang lomba, dapat uang transport dari acara sekolah, atau uang saku karena mengikuti event tertentu. Atau dari konten sosial media miliknya.
Asalkan membelinya tidak pakai duit pemberian orang tua, kan?
Untungnya, orang tuaku bukan perokok aktif. Bapakku merokok sesekali saja pas acara yasinan, itupun tidak serius. Karena terkadang dia berhenti menghisap ketika batangnya masih panjang.
Tidak ada habit merokok di keluargaku sebelum aku sendiri yang memulainya, itupun nun jauh di kota seberang, pakai uang sendiri pastinya.
Sebagai pekerja lapangan dan "mahasiswa kelelawar", membuatku harus terjaga hingga dinihari dengan energi yang sudah terkuras untuk liputan dan mendengar omelan redaktur.
Akhirnya, aku mendengarkan usul seorang teman untuk membeli dua batang dunhil. Tak perlu belajar lama untuk bisa menikmati sensasi asap tersebut.
Lambat laun, kami pun akrab. Semakin besar beban pikiran, mempengaruhi jenis rokoknya. Jika sedang santai, nyari yang jenisnya lebih ringan, mild misalnya.
Untungnya, tak ada yang percaya jika aku perokok, atau pernah menjadi perokok.
Ya tentu saja, aku hanya merokok malam hari, sembari mengerjakan seabrek tugas, atau hanya ketika berteduh siang hari sambil mereview hasil liputan.
Aku merokok hanya ketika ada perlunya. Barangkali aku tipe "perokok fungsional", bukan "perokok adiksional". Memangnya bisa? Entahlah.
Terakhir merokok, aku hanya mampu menghisap L.A Menthol atau Camel Purple. Surya dan Andalan sudah terlalu berat untuk dadaku.
Belakangan, aku merasa tidak begitu memerlukan rokok. Tak seperti saat masih di kota seberang yang stres dan nyaris gila karena pekerjaan.
Setahun terakhir ini aku alihkan budget rokokku untuk membeli air galon kemasan yang harganya sedikit lebih murah dari sebungkus rokok.
Ide ini muncul setelah aku menjenguk seorang teman yang baru operasi batu ginjal.
Menurutnya, air sumur di daerahnya mengandung kapur karena dekat pegunungan kras.
Menurutnya pula, bertahun-tahun air yang dia minum membentuk kerak dan terjadilah batu ginjal.
Sekarang dia disarankan minum air mineral kemasan, khususnya demineral selama masa pemulihan.
Jika begitu, bukankah orang-orang sekitar juga berpotensi mengalami hal yang sama?
Ternyata tidak demikian. Itu mitos, dan kalaupun terjadi sifatnya kasuistik.
Penyebab batu ginjal paling utama justru karena kurang minum air putih.
Juga tidak perlu beli air galon kemasan. Air sumur juga sehat, selama tidak tercemar, selama bau dan rasanya netral.
Tabik,
Ahmad Fahrizal A.

