10 populer curl

Setelah Nenek Meninggal



Sejak lama aku penasaran apa "penyakit" nenek. Ia sering bicara sendiri, sering tiba-tiba bertanya soal uang yang jumlahnya jutaan.


Jiwanya agak terganggu, namun sulit juga menyebutnya gangguan jiwa, sebab kesehariannya biasa saja seperti orang pada umumnya: memasak, membersihkan halaman, merawat tanaman dll.


Diajak bicara pun responsif, seperti umumnya orang-orang normal, apalagi pada cucu-cucunya. Tidak ada yang aneh.


Bahkan sering nenek membuatkan kami makanan, seperti apem kukus daun nangka, atau krupuk puli dari sisa nasi yang dikeringkan lalu digoreng.


Kedua makanan itu tidak gampang membuatnya, namun bagi nenek itu bukan hal sulit.


Sering juga ia membawakan dua hingga tiga sisir pisang susu. Di depan dan belakang rumahnya banyak tumbuh pohon pisang.


Tak ada yang aneh. Ia seperti umumnya nenek-nenek desa yang punya anak dan cucu.


Meskipun, ia sangat sulit menerima perubahan zaman, misalnya tentang harga-harga bahan makanan.


Ia kerap berdebat dengan penjual sayur keliling karena merasa harga sayurnya kemahalan.


Dunia nenek sepertinya berhenti di tahun 90-an, karena harga-harga bahan makanan yang kerap ia utarakan adalah harga-harga jauh sebelum krismon 98.


Bisa dibayangkan ketika sekarang seikat sayur sawi dihargai Rp2000, bagi orang 90-an itu akan terasa sangat mahal, bukan?


Nenek seperti terjebak pada satu putaran realitas atau memori hidup.


Ia bahkan sering "lupa" bahwa anaknya sudah meninggal. Beberapa kali nenek bertanya apakah bapakku ada di rumah?


Sekalipun tidak mudah mengabarkan bahwa bapakku, atau anak ketiganya sudah meninggal, nenek ternyata tidak selalu mengingat kabar tersebut.


Bahkan saat aku datang untuk menengok apakah sudah makan, dia ternyata sudah memasak khusus untuk bapak dan nitip agar diberikan.


Nenek lupa bahwa keempat anaknya sudah berpulang lebih dulu. Mulai dari anak pertama, keempat, kedua dan ketiga. Anak pertama dan keempat meninggal saat masih kecil.


Nenek mungkin telah mencecap banyak peristiwa kelam di masa lalu. Kehilangan, pengkhiatan dan entah penderitaan lainnya.


Karena itulah ia sangat over protektif soal aset. Surat tanah misalnya. Tak ada seorang pun yang boleh menyentuhnya.


Sikap itupula yang akhirnya "menyelamatkan" tanah keluarga dari juragan tanah yang pernah ekspansi membeli tanah di sekitar situ.


Itulah sisi heroik nenek yang barangkali sulit tertandingi pada masanya, di zaman krisis hebat 70-an, duit tak punya, namun berpikir bahwa tanah tersebut diperuntukkan untuk anak-anaknya.


Dahsyat bukan? Meskipun nenek tidak pernah mengeyam pendidikan formal, dia tidak bisa membaca dan menulis huruf latin, namun uniknya, ia mahir membaca dan menulis arab pegon. [bersambung]


Tabik,

Ahmad Fahrizal Aziz