Suma Oriental, Buku yang Membuka Peta Dunia Timur Abad ke-16
Suma Oriental, Buku yang Membuka Peta Dunia Timur Abad ke-16
Ketika bangsa-bangsa Eropa mulai menembus Samudra Hindia pada awal abad ke-16, mereka memasuki sebuah dunia yang telah lama hidup dalam jaringan perdagangan internasional.
Kapal-kapal Arab, Gujarat, Persia, Jawa, Melayu, Tiongkok, hingga Jepang telah berlayar selama berabad-abad, memperdagangkan rempah-rempah, emas, kain, keramik, dan berbagai komoditas bernilai tinggi.
Di tengah perubahan besar itu, lahirlah sebuah karya yang kemudian menjadi salah satu sumber sejarah paling penting mengenai Asia.
Buku tersebut adalah Suma Oriental que trata do Mar Roxo até aos Chins, atau lebih dikenal sebagai Suma Oriental.
Ditulis oleh Tomé Pires antara tahun 1512 hingga 1515, karya ini menjadi jendela yang memperlihatkan wajah Asia sebelum kolonialisme Eropa berkembang sepenuhnya.
Bagi Indonesia, nilai buku ini sangat besar. Banyak informasi mengenai Malaka, Sumatera, dan Jawa yang hanya dapat ditemukan secara rinci melalui catatan Tomé Pires.
Karena itulah, selama puluhan tahun Suma Oriental menjadi rujukan utama para sejarawan yang ingin memahami Nusantara pada awal abad ke-16.
Seorang Apoteker yang Berubah Menjadi Penulis Sejarah
Tomé Pires lahir sekitar tahun 1468 di Portugal. Awalnya ia bukan pelaut ataupun penjelajah, melainkan seorang apoteker yang bertugas mengurus perdagangan obat-obatan bagi istana Portugal.
Pengalamannya dalam dunia perdagangan membuat pemerintah mempercayainya untuk bertugas di wilayah Asia.
Pada 1511, Portugal berhasil merebut Kesultanan Malaka di bawah komando Afonso de Albuquerque. Penaklukan ini membuka jalan bagi bangsa Portugis untuk menguasai salah satu pelabuhan dagang paling penting di dunia.
Setahun kemudian, Tomé Pires ditempatkan di Malaka sebagai kepala akuntan perdagangan kerajaan. Jabatan itu memberinya kesempatan bertemu pedagang dari berbagai negeri.
Setiap hari ia mendengar cerita mengenai pelabuhan-pelabuhan di India, Sumatera, Jawa, Borneo, Filipina, hingga Tiongkok.
Alih-alih hanya mencatat transaksi dagang, Pires mulai mengumpulkan informasi mengenai negeri-negeri tersebut.
Ia berbicara dengan pedagang Arab, Gujarat, Melayu, Jawa, Tiongkok, dan banyak pelaut lain yang singgah di Malaka. Ia juga melakukan pengamatan langsung dalam sejumlah perjalanan ke Sumatera dan Jawa.
Hasil pengumpulan data itulah yang kemudian disusun menjadi Suma Oriental.
Bukan Buku Perjalanan Biasa
Sekilas, Suma Oriental tampak seperti catatan perjalanan. Namun sebenarnya buku ini merupakan laporan resmi kepada Raja Manuel I dari Portugal.
Pemerintah Portugal membutuhkan gambaran mengenai kekayaan Asia, jalur perdagangan, pelabuhan strategis, hingga kerajaan-kerajaan yang layak dijadikan mitra maupun sasaran ekspansi.
Karena itu, isi buku ini jauh lebih luas daripada sekadar kisah petualangan.
Tomé Pires menulis mengenai letak geografis berbagai negeri, kondisi masyarakatnya, agama yang dianut, bahasa, hasil bumi, sistem perdagangan, mata uang, ukuran timbangan, hingga kebiasaan penduduk setempat.
Ia juga mencatat jalur pelayaran antarpelabuhan yang sangat berguna bagi armada Portugis.
Dengan kata lain, Suma Oriental merupakan ensiklopedia perdagangan Asia pada awal abad ke-16.
Dari Laut Merah hingga Jepang
Judul lengkap buku ini berarti "Ikhtisar Wilayah Timur, dari Laut Merah hingga ke Cina". Sesuai judulnya, cakupan wilayah yang dibahas sangat luas.
Pires memulai pembahasannya dari kawasan Mesir dan Laut Merah, kemudian bergerak menuju Teluk Persia dan Ormuz.
Setelah itu ia menguraikan berbagai wilayah di India, termasuk Gujarat dan Bengal yang terkenal sebagai pusat perdagangan kain berkualitas tinggi.
Dari India, pembahasan berlanjut menuju Asia Tenggara.
Di sinilah bagian yang paling menarik bagi pembaca Indonesia.
Malaka mendapat porsi yang sangat panjang karena merupakan pusat perdagangan internasional terbesar pada masanya.
Setelah itu, Tomé Pires menjelaskan kerajaan-kerajaan di Sumatera, kemudian pelabuhan-pelabuhan di Jawa, wilayah Kalimantan, Filipina, hingga Tiongkok dan Jepang.
Susunan geografis tersebut membuat pembaca seolah mengikuti perjalanan kapal dagang yang berlayar dari barat menuju timur.
Malaka sebagai Jantung Perdagangan Dunia
Bagian mengenai Kesultanan Malaka merupakan salah satu yang paling terkenal dalam Suma Oriental.
Tomé Pires menjelaskan sejarah berdirinya Malaka oleh Parameswara yang berasal dari Palembang. Ia menghubungkan tokoh tersebut dengan warisan Sriwijaya dan pengaruh Majapahit.
Lebih menarik lagi, Pires menggambarkan bagaimana Malaka menjadi tempat bertemunya pedagang dari berbagai penjuru dunia.
Di pelabuhan itu, kapal-kapal dari Arab membawa kuda, kain, dan logam. Pedagang Gujarat menawarkan tekstil. Pedagang Jawa menjual beras dan kayu. Dari Maluku datang rempah-rempah. Dari Sumatera dibawa lada dan kapur barus. Dari Tiongkok datang keramik dan sutra.
Malaka bukan hanya kota dagang, melainkan simpul yang menghubungkan hampir seluruh Asia.
Deskripsi semacam ini sangat berharga karena menggambarkan keadaan Malaka sebelum berubah akibat penaklukan Portugis.
Sumatera yang Kaya Komoditas
Bagi sejarah Indonesia, bagian mengenai Sumatera merupakan salah satu yang paling sering dikutip.
Tomé Pires menyebut berbagai kerajaan seperti Aceh, Pedir, Pasai, Siak, Jambi, Palembang, dan Minangkabau.
Ia menjelaskan hasil bumi masing-masing wilayah secara rinci.
Aceh dikenal menghasilkan lada.
Daerah Barus terkenal karena kapur barus yang menjadi komoditas bernilai tinggi di dunia.
Wilayah lain menghasilkan emas, gaharu, kemenyan, madu, lilin, kapas, rotan, belerang, hingga sutra.
Pires juga mencatat keberadaan pulau-pulau seperti Karimun, Kundur, Lingga, dan Bangka yang telah menjadi bagian dari jaringan perdagangan maritim.
Informasi tersebut menunjukkan bahwa Sumatera bukan daerah terpencil, melainkan salah satu pusat ekonomi penting dalam perdagangan internasional.
Jawa yang Sedang Mengalami Perubahan
Ketika Tomé Pires menulis Suma Oriental, Pulau Jawa sedang berada dalam masa transisi politik.
Majapahit mengalami kemunduran, sementara kerajaan-kerajaan Islam mulai berkembang di pesisir utara.
Pires mencatat keberadaan Kerajaan Sunda di bagian barat Jawa beserta pelabuhan-pelabuhannya. Ia juga menyinggung munculnya pengaruh Demak dan perkembangan kota-kota pesisir seperti Cirebon.
Catatan ini menjadi salah satu sumber asing yang membantu sejarawan memahami perubahan politik di Jawa pada awal abad ke-16.
Selain kondisi politik, Pires juga menulis mengenai aktivitas ekonomi masyarakat, perdagangan hasil bumi, serta hubungan antarpelabuhan.
Catatan tentang Kalimantan, Filipina, Tiongkok, dan Jepang
Perjalanan naratif Suma Oriental tidak berhenti di Jawa.
Tomé Pires melanjutkan pembahasan mengenai Borneo atau Kalimantan yang dikenal sebagai penghasil emas dan kapur barus.
Ia juga menyebut masyarakat Luções yang diyakini merujuk pada penduduk Filipina. Menurut catatannya, beberapa komunitas di sana belum memiliki kerajaan besar dan dipimpin oleh para tetua masyarakat.
Bagian mengenai Tiongkok menggambarkan negeri yang besar dengan pemerintahan yang kuat serta perdagangan yang sangat maju.
Sementara Jepang, yang ia sebut sebagai Jampon, muncul sebagai salah satu penyebutan paling awal mengenai negeri tersebut dalam literatur Eropa.
Walaupun informasi tentang Jepang belum selengkap bagian Asia Tenggara, catatan ini tetap memiliki arti penting dalam sejarah pengetahuan Eropa.
Hilang Selama Berabad-abad
Ironisnya, karya sebesar Suma Oriental tidak pernah diterbitkan ketika Tomé Pires masih hidup.
Naskahnya menghilang selama ratusan tahun.
Baru pada 1944, sejarawan Portugis Armando Cortesão menemukan manuskrip paling lengkap di Bibliothèque de l'Assemblée Nationale di Paris.
Penemuan tersebut mengubah banyak penelitian mengenai sejarah Asia.
Hakluyt Society kemudian menerbitkan edisi ilmiah dalam dua jilid yang memuat teks Portugis asli beserta terjemahan bahasa Inggris.
Sejak saat itu, Suma Oriental menjadi salah satu sumber primer yang paling sering dirujuk dalam kajian sejarah Asia Tenggara.
Dalam beberapa tahun terakhir, buku ini juga telah hadir dalam terjemahan bahasa Indonesia sehingga dapat dibaca lebih luas oleh masyarakat.
Penting, tetapi Tetap Harus Dibaca Kritis
Walaupun sangat berharga, para sejarawan mengingatkan bahwa Suma Oriental bukanlah dokumen yang bebas dari sudut pandang penulisnya.
Tomé Pires adalah pejabat Portugis yang bekerja untuk kerajaan kolonial.
Sebagian informasi diperoleh melalui wawancara sehingga tidak semuanya berasal dari pengamatan langsung. Ada pula bagian yang kemungkinan bersumber dari cerita para pedagang.
Karena itu, setiap informasi dalam buku ini perlu dibandingkan dengan sumber lain, baik prasasti, naskah lokal, catatan Tiongkok, Arab, maupun temuan arkeologi.
Meski demikian, para ahli menilai bahwa catatan Pires secara umum memiliki tingkat konsistensi yang tinggi dan jarang mengandung kekeliruan mendasar. Banyak keterangannya terbukti sesuai dengan bukti sejarah lain yang ditemukan kemudian.
Mengapa Suma Oriental Masih Relevan?
Lebih dari lima abad telah berlalu sejak Tomé Pires menyusun laporannya. Namun nilai buku ini tidak memudar.
Bagi sejarawan, karya ini menjadi salah satu fondasi dalam merekonstruksi sejarah perdagangan Asia sebelum kolonialisme mencapai puncaknya.
Bagi Indonesia, Suma Oriental membantu mengisi kekosongan sumber tertulis mengenai berbagai kerajaan di Sumatera, Jawa, dan Malaka pada awal abad ke-16.
Banyak informasi mengenai pelabuhan, komoditas dagang, serta hubungan antarkerajaan yang tidak ditemukan dalam sumber lokal.
Bagi pembaca umum, buku ini memperlihatkan bahwa Nusantara telah menjadi bagian dari jaringan ekonomi global jauh sebelum kedatangan bangsa Eropa.
Rempah-rempah, kapur barus, emas, dan berbagai hasil bumi telah menghubungkan kepulauan Indonesia dengan India, Timur Tengah, Tiongkok, bahkan Eropa.
Karena itulah, Suma Oriental tidak hanya layak dipandang sebagai laporan perdagangan Portugis. Ia juga merupakan potret rinci mengenai dunia maritim Asia pada masa ketika pelabuhan-pelabuhan Nusantara menjadi simpul penting perdagangan internasional.
Di balik sudut pandang kolonial penulisnya, buku ini tetap menjadi salah satu kesaksian paling kaya untuk memahami sejarah Indonesia dan Asia Tenggara pada awal abad ke-16.
Diolah oleh Tim Jurnal Rasa Media

