10 populer curl

Matematika Santai Ala Bu Lilis




Bukan salah Bu Lilis jika aku tak kunjung paham persamaan dan pertidaksamaan trigonometri. Apalagi limit dan turunan dalam kalkulus dasar.


Aku memang sebal dengan matematika. Pun saat memilih kelas bahasa, mapel itu masih saja menguntit.


Kalian tidak akan bisa lepas dari matematika, ujar Bu Lilis. Kalimat itu terngiang terus hingga lebih dari satu dasawarsa.


Mau lari hingga ke ujung kutub utara pun, akan dikejar oleh matematika.


Semakin menyebalkan, bahwa ukuran "pintar" anak jurusan bahasa ternyata adalah lancar mengerjakan soal matematika.


Itu tercermin dari porsi jam pelajaran tiap minggunya, hingga regulasi negara yang menjadikannya mapel UN semua jurusan.


Orang sepertiku yang ketua jurnalistik, bisa menulis, membaca belasan novel, puisinya masuk majalah sastra, di hadapan sistem pendidikan, bisa apa?


Bahkan tidak ada jalur seleksi Perguruan Tinggi khusus jurusan bahasa. Hanya jalur IPA, IPS dan IPC (anak IPA yang ikut seleksi prodi IPS).


Sejak berabad abad, kelas idaman adalah IPA. Mapel standar anak pintar adalah matematika.


Ya sudahlah, mungkin nasibnya memang demikian.


Untungnya, guru matematika kami Bu Lilis. Mapelnya jelas bukan favoritku, namun gurunya masuk kategori guru idaman. Kenapa?


Bu Lilis nyaris tak pernah memberi PR. Lalu, yang biasa mendapatkan "jackpot" mengerjakan soal matematika di depan kelas hanyalah mereka yang dianggap mampu.


Murid sepertiku, belum tentu terpilih. Namun itu menyenangkan. Untuk pertama kalinya aku merasa kelas matematika sangatlah santai.


Selain itu, kira-kira 30% dari jam mengajar beliau terselipi cerita, humor dan sejenisnya.


Justru cerita-cerita beliau itulah yang kerap kuingat.


Beliau banyak bercerita tentang bisnisnya, yang itu perlu perhatian khusus.


Hal itu juga yang membuatnya berpikir untuk pensiun dini dari ASN.


Bahwa beliau adalah Agnia', tak diragukan dari ponsel Nokia 9500, atau mobil sedan mewahnya.


Meski tak jarang beliau mengendarai motor, sebab jarak sekolah dari rumahnya hanya sekian ratus meter.


Bu Lilis juga kerap menyoroti hal-hal detail, seperti misalnya saat melihat muridnya menyalip truk.


Cara menyalipnya berbahaya, karena kadang dari kiri, atau misal dari kanan tapi langsung serong ke kiri setelah lewat kepala kendaraan yang disalip.


Menurutnya, ketika sudah menyalip, kasih jarak kira-kira 3-4 meter dulu baru serong ke kiri.


Tentu beliau menjelaskannya dengan kalkulasi matematika mulai dari kecepatan dan potensi tertabrak jika tiba-tiba mesin motor error.


Beliau juga mengkritik kenapa seragam siswi pakai rok span, itu berbahaya kalau dipakai berkendara motor, karena geraknya kurang leluasa.


Konon kritik itulah yang membuat model seragam siswi angkatanku berubah, tidak lagi pakai rok span, namun celana.


Bukankah siswi lebih anggun pakai rok span? Pilih terlihat anggun atau resiko kecelakaannya tinggi? jawab beliau.


Masih banyak sebenarnya hal menarik, termasuk ketika beliau menjadi mualaf, dan cerita² dari relasi pebisnis Tionghoanya.


Namun ingatanku soal itu sebagian telah memudar.


Selamat jalan Bu Lilis, maafkan muridmu ini. Setidaknya tulisan singkat ini menjadi persaksian bahwa engkau orang baik. Laha-Al Fatihah.


Tabik,

Ahmad Fahrizal Aziz



Bu Lilis Rusilawati, Purna Guru Matematika MAN Kota Blitar