Menulis untuk Terapi Jiwa
Jauh hari Pak Jesus Anam mengundangku untuk ikut dalam agenda Peer Support. Katarsis: Seni Journaling untuk Pemulihan Jiwa, diadakan oleh PJS Jatim yang diketuainya.
Ini sejalan denganku, yang ketika kembali ke Blitar pada 2016 silam, memilih mengelola komunitas menulis, ketimbang klub buku.
Meskipun dengan tujuan yang sekilas berbeda, namun ada titik persamaannya.
Sama-sama sebagai media katarsis, namun menulis dalam konteks komunitas tersebut adalah bentuk aktualisasi diri, khususnya dalam teori hirarki kebutuhan Abraham Maslow.
Ada tujuan untuk melahirkan penulis-penulis baru, dan komunitas tersebut sebagai tangga pertamanya.
Memang sempat berpikir untuk membuat klub buku, seperti booklicious, terinspirasi saat dulu masih di Malang.
Namun membaca dan menulis jelas dua aktivitas yang tak terpisahkan. Menulis pasti membaca, dan belum tentu sebaliknya.
Akhirnya bulat tekad untuk melanjutkan dan menghidupkan kembali komunitas kepenulisan yang sempat kami rintis sejak 2008 itu.
Meski, toh akhirnya pada 2018, bersama beberapa Pustakawan Perpus BK terutama Pak Budi Kastowo dan Alm. Mbah Gudel/Bambang In Mardiono, kami mendirikan "klub buku" bernama Komunitas Malas Baca yang kemudian berubah menjadi Muara Baca.
Meskipun buku yang kami diskusikan spesifik ke tema ideologi dan kebangsaan.
***
Kembali ke agenda PJS kemaren. Meski pernah sedikit belajar tentang konsep Individuasi Carl Gustav Jung, ternyata penjabaran Pak Jesus Anam lebih kaya dan multiperspektif.
Sayang waktunya terbatas. Tentu tidak mungkin mengupas satu per satu kurang dari 3 jam.
Akan tetapi, sebagai sebuah pemantik itu sangat menarik.
Setiap hari aku rutin membuat esai ringan, reflektif, terkesan curhatan receh atau nostalgia masa lalu.
Pagi itu seperti mendapatkan legitimasi. Oh, ternyata yang aku lakukan selama ini ada manfaatnya, ya?
Sebab tujuanku menulis esai-esai reflektif itu awalnya agar otak tetap aktif.
Namun lewat penjelasan Pak Jesus Anam, dengan keluasan referensi yang dimilikinya, hal sederhana itu menjadi sangat penting.
Bahwa mungkin sebagian hidupku juga turut "terselamatkan" karena menulis.
Bahwa menulis ternyata cukup berdampak secara personal maupun sosial.
Aku sendiri mengagumi Carl Jung, dan sejak lama tergabung dalam klubnya di facebook.
Menurut Jung, untuk mencapai pada diri sendiri/self, kita akan berkonfrontasi pada persona dan shadow.
Persona adalah "topeng" yang kita ciptakan dalam realitas, dan shadow adalah sisi lain yang tak kita munculkan.
Kadang aku menciptakan karakter "shadow" dalam karya fiksi.
Ternyata membongkar diri sendiri itu tidak gampang, ya?
Aku pun menceritakan tulisan obituariku tentang guru matematika yang baru wafat.
Bahwa matematika adalah mapel yang tak kusukai, bahkan cenderung kubenci, namun tidak dengan gurunya.
Matematika dengan segala traumatiknya justru padam oleh guru tersebut.
Masalahku ternyata bukan pada matematikanya, namun pada gurunya.
Ah, ehm… bukan juga. Masalahnya ternyata ada pada pikiranku sendiri tentang matematika.
Suatu perasaan aneh yang kudapat justru ketika aku menulisnya.
Menggali pikiran tersembunyi, yang (mungkin) kita sebut alam bawah sadar.
Lantas tak terlalu keliru ketika blog pribadiku bernama Jurnal Rasa.
Agar isinya tidak sekadar luapan pikiran yang menjenuhkan.
Agar kita tidak terjebak pada formalisme struktur bahasa, namun juga melibatkan rasa.
Jadi, jangan sungkan menulis.
Tabik,
Ahmad Fahrizal Aziz
*PJS= Perhimpunan Jiwa Sehat

