10 populer curl

Nasib Selada di Piring Kita




Teramat sering aku melihat daun selada tertinggal di piring, apalagi di ompreng MBG. Kadang bersama mentimun. 


Sebagian orang mungkin mengira selada hanyalah hiasan, pelengkap plating.


Sebagian yang lain menyisakannya karena tidak suka, tidak ada rasanya, hambar, cenderung agak pait.


Padahal dalam satu porsi makanan, seladanya paling hanya selembar.


Hanya perlu berapa detik untuk mengunyah dan menelannya. Apa susahnya?


Saat melihat banyak daun selada "terbuang" dari ompreng MBG, ada rasa sedih dan geram.


Sedih karena seporsi menu yang sudah minimalis itu, tidak semuanya terserap ke tubuh.


Kalkulasi ahli gizi di atas kertas, tertolak oleh lidah siswa yang tak selalu berselera melumat daun tipis itu.


Geram karena sejak proyek MBG berjalan, harga selada naik bahkan hingga 3-4 kali lipat, karena stok sering habis.


Aku salah satu yang kerap mengumpat dalam hati, ketika belanja ke warung sayur, dan stok selada habis. Kalaupun ada hanya tersisa yang layu-layu.


Semakin geram karena di tengah rebutan stok, dan pemenangnya pasti SPPG/MBG, ujungnya hanya masuk ke kantong sampah makanan sisa, sebagian dibawa untuk pakan bebek.


Beruntung sekali kan bebeknya?


Pengelola dapur dan supplier sayur tak akan merisaukan hal tersebut. Dana sudah ditransfer, cair, beres.


Mungkin petani agak menebah dada. Terutama saat mengingat betapa penuh perjuangannya menanam sayuran tersebut. 


Tak kurang dari 45 hari hingga daunnya layak dipetik, dan ujungnya banyak yang tersisa di sudut-sudut piring.


Padahal, selada mungkin "sayur terbaik" untuk tubuh, jika dilihat dari kandungan air dan seratnya.


Selada mudah dimakan dan dicerna tubuh, bahkan dalam keadaan mentah.


Selada sangat baik dimakan terlebih dahulu sebelum nasi dan lauknya.


Selada membantu "mengamankan" pencernaan sebelum menerima protein dan karbohidrat.


Pesaing beratnya adalah kubis. Itulah kenapa lalapan rata-rata pakai sayur kubis, dan tak jarang juga yang memperlakukannya sebagai hiasan.


Sesekali, kita harus berusaha menelan apa yang baik, meski tidak menyukainya.


Selada yang hanya selembar dalam satu porsi makanan, tentu sangat ringan untuk kita telan.


Memang tidak enak, namun itu diperlukan tubuh untuk menyeimbangkannya dari gempuran protein dan karbohidrat.


Meskipun dalam konteks kuliner, peran lidah sangat dominan, bahkan otak bisa bertekuk lutut padanya.


Distorsi itu tak bisa dilawan manusia. Diksi "enak" adalah perspektif yang dibangun dari lidah.


Aku pun tak kuasa untuk misalnya, menyeduh kopi tanpa gula. Padahal kopi lebih baik tanpa gula.


Namun dalam beberapa hal, aku masih bisa berkompromi untuk melahap, setidaknya 3 lembar selada, sebelum nasi dan lauknya.


Kukira selada masih lebih enak jika dibandingkan obat generik, terutama ketika pencernaan bermasalah karena kekurangan serat.


Hidup selada!


Tabik,

Ahmad Fahrizal Aziz