4 Tahun Suara Sastra
Satu dekade silam, seorang pria bertubuh kurus datang menghampiriku yang sedang duduk santai di selasar Perpus BK.
"Salam kenal mas," sapanya.
Prolog singkat tentangnya telah disampaikan oleh bapak berambut gondrong, pembina komunitas kami.
Dia suka puisi, mengelola komunitas di dunia maya, mengenakan topi pet. Konon itu adalah topi khas penyair.
Dia sedang bertransformasi dari mekanik ke penyair, atau tengah berusaha memadukan keduanya.
Setahun kemudian dia memamerkan akun YouTube, kontennya viral tembus jutaan viewers, namun konten pawai modifikasi Vespa... bukan puisi.
Dia (masih) harus berjuang keras untuk menjadi penyair.
***
Penghujung tahun 2019, aku berpapasan dengan guru berkacamata di halaman Graha Patria (kini mal pelayanan publik).
Sosok ini familiar. Kami berada di grup whatsapp yang sama, namun entah sejak kapan kami kenal.
Kami saling tahu nama, namun tak secara pasti ingat kapan pernah berkenalan.
Tidak mungkin juga lewat forum "aktivis" itu, apalagi beda kota.
Namun tak penting bagaimana kami kenal. Pada tahun itu, dia sudah cukup moncer. Seniman multitalenta yang piawai memetik kata dan menggores nada.
Dia bisa bernyanyi, nadanya tepat. Bisa main gitar, bisa menulis puisi, bisa mendeklamasikannya sekaligus.
Bisa menjadi ustad. Semua dia borong. Keahlian terakhir jarang ia tonjolkan.
Adalah hal yang rada musykil bagiku ketika dia memilih profesi guru. Bangun pagi, berseragam dan berkelindan dengan urusan administrasi.
Dia sedang menyamar, barangkali. Atau, seperti pria bertopi pet di atas, berupaya memadukan keduanya. Tak mudah, bukan?
***
2019 adalah tahun "penghabisan". Sayonara Blitar, aku akan hijrah ke kota lain yang berjarak ±270km.
Segalanya telah kupersiapkan, tekad sudah bulat. Sialnya, tahun berikutnya ada Pandemi Covid19.
Tuhan punya rencana lain. Pada penghujung 2020, aku justru berjumpa dua pegawai Dispusip Kab. Blitar. Perjumpaan itu sekaligus "memperpanjang kontrak sosial" sebagai pegiat/aktivis literasi.
Lewat wadah yang bernama GPMB, aku pun menelepon pria bertopi pet tadi. Membujuknya agar mau melengkapi squad tim tarkam.
Kenapa harus membujuknya, sebab aku menduga dia anti birokrasi. Usut punya usut ternyata adalah anak lurah. Dugaanku keliru.
Ternyata dia bertetangga dengan guru berkacamata. Diam-diam mereka membuat kongsi.
Ada proyek yang tengah mereka susun. Ini di luar GPMB. Proyek itu mulai berjalan September 2022.
Dua bulan berikutnya, GPMB dilantik oleh Bupati. Setelah dilantik, kami rapat di warung Bebek Goreng Pak Imam Riyadi.
Suara Sastra akan dikawinkan dengan GPMB. Suara Sastra menjadi "program", bukan komunitas tersendiri.
Namun ada yang perlu dipertimbangkan, bahwa GPMB itu terbatas periodisasi. Suara Sastra harusnya tidak.
GPMB adalah wadah/komunitas milik Perpustakaan, Suara Sastra mestinya tidak. Lebih fleksibel dan lincah.
Pria bertopi pet kemudian membisikiku agar mau jadi MC, seingetku mulai edisi ke-3.
Aku tak begitu cocok jadi MC, namun apa boleh buat. Kukira Suara Sastra ada manfaatnya sebagai "panggung permulaan" untuk belajar puisi dan sekaligus membacakannya.
Pada akhirnya aku direkrut jadi squad Suara Sastra, dan tak terasa "proyek" itu telah berjalan hingga edisi ke-80.
***
Pria bertopi pet bercerita jika konten vespa di akun YouTubenya telah ia hapus, sepenuhnya fokus pada puisi.
Kini, dia telah menjadi penyair cum guru, juri, mentor dan narasumber puisi.
(B E R S A M B U N G)
