Sejarah Nabi Muhammad SAW dari Sumber Terpercaya (1)
Silsilah Nabi Ismail AS hingga Nabi Muhammad SAW, Ini Urutan Nasab dan Keturunannya
Pembahasan tentang nasab Nabi Muhammad SAW membawa kita pada sejarah panjang bangsa Arab.
Dalam kitab As-Sirah an-Nabawiyah karya Ibnu Hisyam, terdapat uraian mengenai keturunan Nabi Ismail AS, hubungan mereka dengan berbagai kabilah Arab, hingga munculnya jalur nasab yang berujung kepada Nabi Muhammad SAW.
Riwayat tersebut bersumber dari sejumlah periwayat, terutama Muhammad bin Ishaq. Ibnu Hisyam juga menjelaskan bahwa dalam persoalan nasab terdapat sejumlah perbedaan pendapat di antara ahli sejarah dan ahli nasab.
Karena itu, membaca silsilah ini perlu dilakukan dengan melihatnya sebagai riwayat sejarah yang memiliki beberapa versi.
Nabi Ismail AS memiliki 12 anak laki-laki
Menurut riwayat Ibnu Ishaq yang dikutip Ibnu Hisyam, Nabi Ismail AS memiliki 12 anak laki-laki. Anak sulungnya bernama Nabita. Setelah itu terdapat Qaidzar, Adzbul, Mibisy, Misma’, Masyi, Dimma, Adzar, Thaima, Yathur, Nabisy, dan Qaydzuma.
Ibu mereka bernama Ra’lah binti Mudhadh bin Amr Al-Jurhumi.
Dari sini pembahasan nasab mulai bersinggungan dengan masyarakat Jurhum. Ibnu Hisyam menjelaskan bahwa Jurhum merupakan keturunan Qahtan dan termasuk kelompok yang memiliki hubungan dengan wilayah Yaman.
Hubungan antara keturunan Ismail dan masyarakat Jurhum juga berkaitan dengan sejarah awal kehidupan keluarga Nabi Ismail AS di kawasan Makkah.
Skema 12 anak Nabi Ismail AS
Agar lebih mudah dipahami, urutannya dapat ditulis sebagai berikut
Nabi Ismail AS
├── Nabita
├── Qaidzar
├── Adzbul
├── Mibisy
├── Misma’
├── Masyi
├── Dimma
├── Adzar
├── Thaima
├── Yathur
├── Nabisy
└── Qaydzuma
Ibu mereka
Ra’lah binti Mudhadh bin Amr Al-Jurhumi
Perlu dicatat bahwa daftar tersebut merupakan riwayat yang dikutip dalam karya Ibnu Hisyam. Tidak semua rincian nasab setelahnya memiliki tingkat kepastian yang sama.
Berapa umur Nabi Ismail AS
Ibnu Ishaq juga menyebutkan bahwa Nabi Ismail AS hidup selama 130 tahun menurut riwayat yang mereka sampaikan.
Setelah wafat, Ismail AS disebut dimakamkan di kawasan Hijr bersama ibunya, Hajar.
Keterangan ini memperlihatkan kedudukan penting Ismail AS dalam sejarah Makkah. Ia bukan hanya tokoh yang memiliki hubungan langsung dengan Nabi Ibrahim AS, tetapi juga menjadi bagian penting dari sejarah keluarga yang kelak melahirkan Nabi Muhammad SAW.
Hajar berasal dari Mesir
Dalam pembahasan berikutnya, Ibnu Hisyam menyebut Hajar sebagai perempuan yang berasal dari Mesir.
Ada riwayat yang menghubungkan Hajar dengan sebuah desa di wilayah Mesir. Dalam bagian lain disebutkan pula Mariyah Al-Qibthiyyah sebagai perempuan dari Mesir yang kemudian menjadi ibu Ibrahim, putra Nabi Muhammad SAW.
Riwayat tersebut memperlihatkan adanya hubungan historis antara keluarga Nabi Ibrahim dan wilayah Mesir.
Dari Ismail menuju Adnan
Bagian yang menarik adalah uraian mengenai keturunan Ismail hingga Adnan. Dalam riwayat yang dikutip Ibnu Hisyam, terdapat rangkaian nama yang panjang.
Skemanya dapat dibuat seperti berikut
Ismail AS
↓
Nabit
↓
Yasjuh
↓
Ya’rub
↓
Tairah
↓
Nahur
↓
Muqawwin
↓
Udad
↓
Adnan
Dalam riwayat lain, terdapat perbedaan mengenai beberapa nama dalam rangkaian tersebut. Bahkan Ibnu Hisyam mencatat bahwa Adnan juga disebut sebagai anak Udd.
Adnan kemudian menjadi tokoh penting dalam pembahasan nasab bangsa Arab bagian utara.
Keturunan Adnan
Menurut Ibnu Ishaq, Adnan memiliki dua anak laki-laki, yaitu Ma’ad bin Adnan dan Akk bin Adnan.
Dari Ma’ad kemudian berkembang berbagai cabang keturunan. Salah satu cabangnya berkaitan dengan Nizar, sementara cabang lainnya berkaitan dengan Qudha’ah, Qunush, dan Iyad.
Skema ringkasnya
Adnan
├── Ma’ad
│ ├── Nizar
│ ├── Qudha’ah
│ ├── Qunush
│ └── Iyad
└── Akk
Dari jalur Ma’ad inilah pembahasan nasab kemudian bercabang ke berbagai kelompok dan kabilah Arab.
Akk dan hubungan dengan Yaman
Ibnu Hisyam juga membahas Akk. Menurut riwayat yang dikutipnya, Akk tinggal di Yaman setelah menikahi perempuan dari kalangan Asy’ariyyun.
Asy’ariyyun sendiri dihubungkan dengan rangkaian keturunan yang panjang hingga Qahtan.
Di bagian ini terlihat bahwa pembahasan nasab Arab dalam kitab tersebut tidak selalu bergerak dalam satu garis lurus.
Berbagai keturunan saling berhubungan melalui perkawinan, perpindahan tempat tinggal, dan perkembangan kabilah.
Karena itu, istilah kabilah dalam sejarah Arab kuno tidak dapat dipahami seperti nama keluarga modern.
Dari mana asal bangsa Arab
Ibnu Hisyam mencatat sebuah pandangan bahwa bangsa Arab secara keseluruhan merupakan keturunan Ismail dan Qahtan.
Namun bagian ini juga memperlihatkan adanya perbedaan pendapat. Sebagian riwayat menyebut Qahtan sebagai keturunan Ismail, sementara pendapat lain memandang Qahtan sebagai leluhur tersendiri dalam silsilah bangsa Arab.
Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa sejarah nasab Arab telah menjadi bidang kajian yang kompleks sejak masa awal Islam.
Nama-nama seperti Ad, Tsamud, Judais, Thasm, Imlaq, dan Umaim juga muncul dalam pembahasan mengenai kelompok Arab kuno.
Ma’ad dan cabang keturunannya
Ma’ad bin Adnan disebut memiliki empat anak
Ma’ad bin Adnan
├── Nizar
├── Qudha’ah
├── Qunush
└── Iyad
Qudha’ah kemudian dikaitkan dengan wilayah Yaman dan Himyar. Sementara Qunush dikaitkan dengan sejumlah keturunan yang dalam riwayat berikutnya bersambung dengan tokoh-tokoh tertentu, termasuk Nu’man bin Mundzir, Raja Hirah.
Namun Ibnu Ishaq juga mencatat adanya pendapat berbeda mengenai asal-usul Nu’man bin Mundzir. Sebagian masyarakat Arab mengaitkannya dengan Lakhm.
Hal ini menunjukkan bahwa para ahli nasab pada masa tersebut juga melakukan perdebatan mengenai hubungan antar-kabilah.
Nasab Lakhm
Lakhm dalam riwayat Ibnu Hisyam memiliki beberapa versi silsilah. Salah satunya menyebut
Lakhm bin Adi bin Harits bin Murrah bin Udad bin Zaid bin Humaisi’ bin Amr bin Arib bin Yasjuh bin Zaid bin Kahlan bin Saba’
Ada pula pendapat yang memberikan susunan nasab berbeda.
Lakhm disebut tetap tinggal di Yaman setelah Amr bin Amir meninggalkan wilayah tersebut. Dari perkembangan berbagai kelompok inilah kemudian muncul jaringan kabilah yang semakin luas di Jazirah Arab.
Mengapa nasab Nabi Muhammad penting dipelajari
Nasab dalam masyarakat Arab kuno mempunyai arti sosial yang besar. Identitas seseorang sangat berkaitan dengan keluarga, kabilah dan leluhurnya.
Karena itu, ketika Ibnu Hisyam menyusun As-Sirah an-Nabawiyah, ia tidak langsung memasuki kisah kehidupan Nabi Muhammad SAW. Ia terlebih dahulu membahas garis keturunan yang menghubungkan Rasulullah dengan Nabi Ismail AS dan Nabi Ibrahim AS.
Secara ringkas, jalur yang paling dikenal dalam riwayat tersebut dapat digambarkan sebagai berikut
Nabi Ibrahim AS
↓
Nabi Ismail AS
↓
Nabit
↓
Yasjuh
↓
Ya’rub
↓
Tairah
↓
Nahur
↓
Muqawwin
↓
Udad
↓
Adnan
↓
Ma’ad
↓
Nizar
↓
Mudhar
↓
Ilyas
↓
Mudrikah
↓
Khuzaimah
↓
Kinanah
↓
An-Nadhr
↓
Malik
↓
Fihr
↓
Ghalib
↓
Lu’ay
↓
Ka’ab
↓
Murrah
↓
Kilab
↓
Qushay
↓
Abdu Manaf
↓
Hasyim
↓
Abdul Muththalib
↓
Abdullah
↓
Muhammad SAW
Inilah garis besar nasab Nabi Muhammad SAW melalui Nabi Ismail AS sebagaimana dikenal dalam literatur sirah.
Hal yang penting diperhatikan adalah adanya perbedaan riwayat terutama pada bagian antara Ismail AS dan Adnan. Ibnu Hisyam sendiri mencatat sejumlah perbedaan pendapat.
Karena itu, daftar tersebut lebih tepat dipahami sebagai bagian dari tradisi penulisan nasab dan sirah Islam klasik, bukan sebagai silsilah yang setiap mata rantainya memiliki tingkat kepastian sejarah yang sama.
Sumber utama
Ibnu Hisyam, As-Sirah an-Nabawiyah, dengan materi yang berasal dari riwayat Muhammad bin Ishaq.
