10 populer curl

Boros Pikiran




Sembari bergurau, aku merespon keluhan teman yang saldo gajinya terkuras nyaris separuhnya, padahal baru lewat seminggu gajian.

Tak usah disesali, boros duit tidak selalu buruk, itu ada baiknya.

Nominal saldo tidak hilang, hanya berpindah ke dompet atau rekening orang lain.

Kamu menyesali sikap borosmu, membeli sesuatu yang sebenarnya tak perlu. Misalnya seblak seharga 25rb per porsi. Jika dikali 10, lumayan juga kan?

Andai kamu masak sendiri, atau beli Nasi Padang 12rb, mungkin pengurangan saldo bisa diminimalisir.

Lagian, kamu juga tidak akan mati, hanya karena tidak makan seblak.

Namun tak perlu menyesal terlalu dalam. Itu rezekinya penjual seblak. Penjual seblak bahagia karena dagangannya laku.

Kamu juga bahagia karena bisa makan seblak kesukaanmu.

Artinya, ada baiknya juga sikap boros itu untuk orang lain, meski setelah ini kamu harus "puasa" makan seblak hingga tanggal gajian berikutnya.

Boros duit itu jangan terlalu disesali, karena selalu ada rasionalisasinya.

Boros pikiran itu yang bahaya, dan mungkin tak terlalu ada gunanya.


Sayangnya, pelajaran soal hidup hemat atau efisiensi, selalu berkaitan dengan duit.

Hemat berpikir, efisiensi berpikir itu perlu juga. Tidak semua hal harus kamu pikirkan. Kondisi Negara, misalnya.

Kecuali kamu Presiden, atau Wakilnya.

Mikirin negara belum tentu bikin negara lebih maju, kata Dahlan Iskan, mantan bos Jawa Pos pada suatu kesempatan.

Mikir saja bagaimana anda bisa maju, kalau 200 juta rakyat Indonesia hidupnya maju, otomatis negara akan ikut maju, pungkasnya.

Mendengar kalimat itu, rasanya banyak juga pemborosan yang sudah kulakukan selama ini. Boros pikiran.

Semakin rumit jika ketemu orang yang juga boros pikiran, istilah populernya (mungkin) overthinking.

Sepertinya mayoritas teman ngobrolku tipe yang demikian, bahkan pada saat-saat yang tak semestinya.

Misal, saat aku mengajaknya jalan-jalan ke pantai, sekaligus belanja ikan segar untuk stok di rumah.

Saat duduk di tepi pantai sambil menyeruput es degan, tiba-tiba dia membahas dana silpa KPU, atau dana desa yang dipotong untuk kopdes dsj.

Waduh, batinku. Alih-alih menikmati suara ombak dan awan-awan yang berlarian, otak harus bekerja keras untuk memikirkan sesuatu yang sebenarnya tak penting-penting amat untuk kita pikirkan.

Sebatas pengetahuan, oke. Namun tidak semua hal... penting untuk kita ketahui.

Atau saat akhir pekan, tiba-tiba seorang teman melempar topik bagaimana jika rupiah tembus 20rb/1$.

Harga-harga melambung, keuangan negara jebol, hutang tak terbayar, rakyat menderita.

Mendengar itu, aku ikut khawatir. Iya juga ya? Apalagi Purbaya baru dipecat, ngeri kan?

Kami begitu keras berpikir soal ini, padahal Presiden dan Wakilnya masih terlihat santai-santai saja, kan?

Mungkin kita perlu membuat skala prioritas pikiran. Kita mulai dari apa yang bisa kita lakukan, berikutnya apa yang sekiranya berdampak buat kita.

Kalau dalam Enchiridion, butir-butir ajaran Epictetus, ada istilah dikotomi kendali.

Pembaca buku "Filosofi Teras" pasti sudah paham ini, karena sama-sama mengambil Filsafat Stoik.

Dalam Enchiridion 8, ada kalimat menarik, yang bila diterjemahkan kira-kira seperti ini:

Kerjakan apa yang menjadi bagianmu, terima kenyataan yang berada di luar pikiranmu.

Tabik,
Ahmad Fahrizal Aziz