10 populer curl

Enak Juga Menjadi Orang Biasa

Waktu kecil, sebenarnya aku kurang suka bergaul dengan anak orang kaya.

Dia kerap bercerita hal-hal yang jelas tidak bisa kami jangkau. 

Misal, dia membeli mainan model terbaru, baru berkunjung ke sebuah tempat wisata, atau makan menu mahal di restoran.

Tiap kali kami, anak orang biasa, ini bercerita suatu yang menurut kami baru, si anak orang kaya akan menimpali yang lebih.

Seperti ketika aku membeli nintendo dari hasil uang saku lebaran, si anak orang kaya bilang kalau dia punya playstation.

Pun ketika kami mengajak dia pergi ke suatu tempat, Sumber Udel misalnya, dia akan menjawab kalau itu hal biasa dan tak menarik.

Padahal bagi kami, pergi ke kolam renang adalah suatu kemewahan.

Bagiku, anak orang kaya itu menyebalkan dan membosankan, kurang asyik untuk berteman.

Di satu sisi, juga memicu rasa iri, kenapa ya orang tuaku tak sekaya orang tua mereka?

Btw, kaya pada zaman itu tandanya ada 3: punya telepon rumah, mobil dan kulkas.


Beranjak dewasa, pikiran itu mulai terkoreksi. Sepertinya lebih enak menjadi orang biasa.

Perasaan itu muncul ketika di usia 18 tahun, untuk pertama kali aku menginap di hotel, tentu bukan dengan uang sendiri, lewat sebuah program.

Pertama kali masuk kamar dengan hanya menempel kartu pada engsel pintu.

Merasakan sarapan prasmanan dengan aneka menu racikan tukang masak profesional.

Pada usia 19 tahun, pertama kali naik pesawat Surabaya-Bandung meski hanya kelas ekonomi.

Perasaan antusias sejenis ini mungkin tak dialami orang kaya, yang baginya, tinggal di hotel adalah hal biasa. Naik pesawat apalagi.

Aku justru menikmati "sisi kampunganku" lewat pengalaman-pengalaman baru itu.

Bahkan saking kampungannya, aku selalu membuat catatan tiap kali menginap di hotel.

Catatan itu rupanya lumayan banyak, 50 lebih. Hingga, menginap di hotel bukan lagi suatu keistimewaan.

Mungkin itupula yang dialami orang kaya, ketika semua hal sudah dia lakukan, mau apalagi?

Sementara, sebagai orang biasa, masih banyak hal baru yang belum aku lalui.

Dan itu menyenangkan, minimal untuk diriku sendiri.

Sepertinya aku beruntung, justru karena miskinnya pengalaman.

Justru karena, pada akhirnya, aku mengalami itu tanpa menghabiskan duit orang tua.

Justru, aku berterima kasih pada Tuhan karena dilahirkan dari orang biasa, keluarga biasa dan lingkungan biasa-biasa saja.

Tak ada bayang-bayang apapun untuk harus menjadi ini itu.

Lebih bebas mendesain diri sendiri sebagai apa, dan lebih berkesempatan melalui rekor-rekor baru dalam keluarga.

Bisa kuliah misalnya, itu adalah rekor baru dalam keluarga besar kami. Tak menyangka, kan?

Sekarang, justru aku berpikir sebaliknya. Sepertinya berat jadi anak orang kaya, anak tokoh, anak pejabat.

Tuntutan keluarga, ekspektasi sosial, konflik identitas dsbnya mungkin lebih berat.

Persis seperti teori Reproduksi Sosial Pierre Bourdieu, yang beberapa tahun silam aku pelajari gegara harus memoderatori bedah bukunya.

Tabik,
Ahmad Fahrizal Aziz