10 populer curl

Jenis Pohon dan Tanaman yang Menjaga Sumber Air Alami


Hutan dan mata air memiliki hubungan erat. Banyak sumber mata air ditemukan di kawasan yang masih memiliki tutupan vegetasi baik. 

Pepohonan tumbuh rapat. Tanah tertutup serasah daun. Akar tanaman menjalar ke dalam tanah. Lumut tumbuh di bebatuan. Air mengalir dari sela-sela tanah dan batuan.

Kondisi tersebut bukan kebetulan. Hutan memiliki peran penting dalam siklus air. Vegetasi melindungi permukaan tanah, mengurangi erosi, memperlambat aliran air hujan, dan membantu proses peresapan air ke dalam tanah.

Karena itu, membangun hutan konservasi mata air tidak cukup dengan menanam pohon sebanyak-banyaknya. Jenis tanaman dan susunan vegetasinya perlu diperhatikan.

Hutan yang baik memiliki beberapa lapisan vegetasi, mulai dari pohon besar hingga tumbuhan bawah dan organisme tanah.

1. Pohon Besar sebagai Pelindung Tanah

Lapisan pertama adalah pohon-pohon besar yang membentuk tajuk hutan. Tajuk berfungsi mengurangi pukulan langsung air hujan terhadap tanah.

Beberapa jenis pohon yang dapat ditanam antara lain beringin (Ficus benjamina), gayam (Inocarpus fagifer), kepuh (Sterculia foetida), bendo (Artocarpus elasticus), dan trembesi (Samanea saman).

Beringin memiliki tajuk lebar dan akar yang berkembang luas. Gayam cocok untuk kawasan lembap. Kepuh dan bendo merupakan pohon hutan berukuran besar. Sementara trembesi memiliki tajuk yang dapat memberikan naungan luas.

Aren (Arenga pinnata) juga layak menjadi bagian dari vegetasi kawasan hulu.

Pohon-pohon tersebut membantu membentuk struktur hutan. Tajuknya melindungi tanah, sedangkan akar membantu mempertahankan struktur tanah dan mengurangi risiko erosi.

2. Pohon Buah untuk Menambah Keanekaragaman

Hutan konservasi tidak harus dipenuhi pohon kayu. Pohon buah juga memiliki fungsi ekologis.

Beberapa jenis yang dapat dipertimbangkan adalah duwet (Syzygium cumini), kepundung (Baccaurea racemosa), buni (Antidesma bunius), kecapi (Sandoricum koetjape), nangka (Artocarpus heterophyllus), dan durian (Durio zibethinus).

Buah-buahan tersebut menjadi sumber pakan burung, kelelawar, dan satwa lainnya.

Kehadiran satwa juga membantu penyebaran biji. Dengan demikian, hutan memiliki peluang untuk tumbuh dan berkembang secara alami.

Pohon salam (Syzygium polyanthum) dan picung (Pangium edule) dapat menjadi tambahan vegetasi sesuai kondisi lahan.

Keanekaragaman pohon membuat hutan memiliki struktur yang lebih baik dibandingkan kawasan yang hanya ditanami satu jenis tanaman.

3. Bambu dan Tanaman Kawasan Lembap

Di kawasan sekitar sumber air, terdapat jenis tanaman yang menyukai tanah lembap.

Bambu petung (Dendrocalamus asper) merupakan salah satu pilihan. Sistem perakarannya dapat membantu mengikat tanah, terutama pada lokasi yang sesuai.

Selain bambu, terdapat elo (Ficus racemosa), jambu air (Syzygium aqueum), dan berbagai jenis tumbuhan lokal yang mampu tumbuh di kawasan lembap.

Pada bagian yang lebih dekat dengan aliran air, dapat dijumpai purun (Cyperus sp.), teki rawa (Cyperus sp.), talas (Colocasia esculenta), genjer (Limnocharis flava), dan pandan rawa (Pandanus sp.).

Tanaman tersebut membantu melindungi tepian air dan menyediakan habitat bagi organisme perairan.

Penanamannya perlu disesuaikan dengan kondisi tanah. Tanaman rawa ditempatkan di lokasi yang memang basah atau tergenang, bukan di seluruh kawasan resapan.

4. Perdu dan Tanaman Bawah Hutan

Di bawah pepohonan besar terdapat lapisan vegetasi yang lebih rendah. Lapisan ini juga penting untuk menjaga kondisi tanah.

Tanaman yang dapat dikembangkan antara lain kopi (Coffea canephora), kakao (Theobroma cacao), kapulaga (Amomum cardamomum), kunyit (Curcuma longa), jahe (Zingiber officinale), porang (Amorphophallus muelleri), dan kecombrang (Etlingera elatior).

Sebagian tanaman tersebut dapat tumbuh di bawah naungan pohon.

Kopi dan kakao, misalnya, dapat dikembangkan melalui sistem agroforestri. Masyarakat tetap bisa memperoleh hasil ekonomi tanpa harus membuka seluruh tutupan hutan.

Tanaman bawah juga mencakup pakis (Nephrolepis sp.), pegagan (Centella asiatica), dan berbagai tumbuhan penutup tanah.

Akar wangi (Chrysopogon zizanioides) dapat ditanam pada lokasi tertentu untuk membantu mengendalikan erosi.

Vegetasi bawah berfungsi melindungi permukaan tanah dari pukulan air hujan dan mengurangi aliran air yang terlalu cepat.

5. Lumut, Jamur, dan Serasah Daun

Ada bagian hutan yang sering diabaikan, yaitu lantai hutan.

Di sana terdapat lumut, jamur, cacing tanah, kayu lapuk, dan tumpukan daun kering.

Padahal, bagian ini memiliki peran penting dalam menjaga kualitas tanah.

Daun-daun yang jatuh akan terurai menjadi bahan organik. Jamur dan mikroorganisme membantu proses penguraian. Cacing tanah mengolah bahan organik dan membentuk rongga-rongga di dalam tanah.

Hasilnya adalah tanah yang memiliki kandungan bahan organik dan struktur yang mendukung peresapan air.

Lumut juga membantu mempertahankan kelembapan pada permukaan tempatnya tumbuh.

Karena itu, lantai hutan tidak perlu dibersihkan seperti halaman rumah. Serasah daun dan kayu lapuk sebaiknya dibiarkan selama tidak menimbulkan gangguan atau bahaya.

6. Membagi Kawasan Hutan Mata Air

Jika ingin membangun hutan konservasi mata air, kawasan sebaiknya dibagi menjadi beberapa zona.

Pertama, zona inti mata air.

Area ini berada di sekitar titik keluarnya air. Vegetasi asli harus dipertahankan. Hindari penebangan, penggalian, dan pembangunan yang mengganggu kondisi sumber air.

Kedua, zona penyangga.

Area ini dapat ditanami beringin, gayam, aren, bendo, kepundung, duwet, dan bambu lokal sesuai kondisi lahannya.

Ketiga, zona resapan.

Area ini perlu memiliki tutupan vegetasi yang baik. Pohon besar, pohon buah, perdu, dan tumbuhan bawah dapat dikombinasikan untuk melindungi tanah.

Keempat, zona agroforestri.

Pada bagian luar kawasan konservasi, masyarakat dapat mengembangkan kopi, kakao, durian, nangka, dan tanaman produktif lainnya. Pengelolaannya tetap harus mempertahankan fungsi perlindungan lingkungan.

Pembagian tersebut membantu masyarakat memanfaatkan kawasan tanpa menghilangkan fungsi konservasinya.

7. Mata Air Tidak Cukup Dijaga dengan Menanam Pohon

Menanam pohon merupakan bagian dari konservasi, tetapi bukan satu-satunya cara menjaga mata air.

Keberadaan mata air dipengaruhi kondisi geologi, lapisan akuifer, jenis batuan, kemiringan tanah, curah hujan, dan jalur keluarnya air tanah.

Hutan membantu menjaga siklus air melalui perlindungan tanah, peresapan air, dan pengurangan erosi. Namun, pohon tidak otomatis menciptakan mata air baru.

Karena itu, konservasi perlu dimulai dengan mengenali kawasan tangkapan air. Vegetasi asli dipertahankan, lahan kritis dipulihkan, dan aliran air hujan dikelola agar tidak langsung terbuang.

Untuk kawasan Blitar dan Kediri, jenis tanaman lokal perlu menjadi prioritas. Kondisi tanah dan iklim di dataran rendah tentu berbeda dengan kawasan perbukitan dan lereng pegunungan.

Pada akhirnya, hutan mata air bukan hanya kumpulan pohon besar. Ada pohon buah, bambu, perdu, pakis, lumut, jamur, cacing tanah, dan berbagai organisme lain yang membentuk satu ekosistem.

Semua memiliki peran dalam menjaga kondisi hutan.

Jika ingin menjaga mata air tetap mengalir, yang harus dirawat bukan hanya sumber airnya, melainkan seluruh kawasan yang menjadi tempat air berasal dan meresap ke dalam tanah.

✦
PERBAIKI HIDUPMU
Temukan perspektif baru tentang dirimu
KLIK DISINI ↗