10 populer curl

Kenapa "Miskin" Sekarang Sangat Berat?



Waktu kecil dulu, bisa belanja ke Swalayan, rasanya sudah naik kasta.

Swalayan yang paling bergengsi saat itu adalah Mustika. Kasta berikutnya, Sinar Makmur.

Tragisnya, aku tak pernah menjangkau tempat itu. Entah kenapa orang tuaku tak pernah mengajakku ke Mustika, mungkin karena itu tempat belanjanya "orang kaya".

Orang biasa, belanjanya ke pasar tradisional.

Tapi itu bukan hal berat, rata-rata temanku juga punya pandangan sama, hanya satu dua orang yang bercerita bahwa mereka baru dari Mustika, dan kami sangat kagum padanya.

Sekarang, belanja ke swalayan adalah hal yang sangat biasa.

Apalagi sejak indomart dan alfamart masuk hingga ke pelosok-pelosok desa.

Namun bukan berarti kami sudah kaya. Tempat itu kini bisa dijangkau oleh banyak orang.

Jika ada yang tidak bisa menjangkaunya, di era sekarang, alangkah beratnya, baik secara materi dan mental.

Pada tahun yang sama pula, ponsel adalah barang mewah, sekalipun hanya ponsel monoponic layar abu-abu.

Satu ponsel kadang untuk satu keluarga, satu nomor untuk beragam urusan, termasuk janjian kencan malam minggu.

Biasanya ada disclaimernya: ini nomor bapakku, jangan dibalas.

Namun, tidak punya ponsel pada era itu bukan hal berat, karena hanya segelintir orang yang punya, lebih banyak yang nebeng bapak/ibunya.

Sekarang, ponsel adalah barang biasa, bahkan tak cukup satu. Fiturnya pun ajaib, bisa video call, bisa rekam video kualitas 4K, layar amoled.

Punya ponsel sejenis itu di zaman sekarang, bukan berarti orang kaya, sebab sebagian besar orang juga memilikinya.

Jika ada yang masih menggunakan ponsel polyponic, atau bahkan nebeng ponsel bapak/ibunya, tentu berat sekali.

Artinya, jadi "miskin" di era sekarang tentu lebih berat secara psikis. Berat secara materi sudah pasti.

Beda dengan dulu, saat kita dan sekitar kita rata-rata sama "miskinnya".

Sama-sama jarang pergi ke swalayan, sama-sama nebeng ponsel orang tuanya.

Sekarang? Rasanya jarang yang mengalami itu, bukan karena sudah menjadi kaya, namun standar kemiskinan yang (sepertinya) meningkat.

Tabik,
Fahrizal