10 populer curl

"Profesi" Aktivis



Ada humor di kalangan dosen. Jika ada mahasiswa IPKnya bagus, nilainya A atau minimal B, suatu kelak dia mungkin akan jadi rekan sesama dosen.

Namun, jika ada mahasiswa nilainya lebih banyak C+, kuliahnya molor, jago demonstrasi, anda perlu waspada. 

Lho kenapa? Bisa jadi kelak dia lah yang menentukan nasib dosen.

Humor renyah itu aku dapat dari Pak Pradana Boy, Ph.D. Dosen UMM.

Namun kita sedang tidak membahas wapres, yang konon tak punya ijazah SMA, namun jadi "atasan" para doktor dan profesor dalam hirarki politik di pemerintahan.

Termasuk atasan Rocky Gerung, yang ahli filsafat itu, ahli bersilat diksi.

Namun fenomena itu bukan hal baru. Aku dapati sendiri beberapa aktivis yang kini hidup mapan.

Di antara mereka, ada yang kuliahnya rajin, ada juga yang tidak. Namun bukan berarti bodoh.

Ada banyak orang yang suka belajar, namun malas sekolah/kuliah.

Belajar bisa di mana saja, kapan saja, lewat momentum apapun. Hanya saja tidak mendapat ijazah.

Sekolah ada waktunya, ada kurikulumnya, ada formalitasnya. Jika berhasil, akan lulus, yudisium, lalu dapat ijazah.

Menjadi aktivis mungkin adalah pembelajaran tersendiri, yang saking asyiknya sampai kuliahnya keteteran.

Bagaimana tidak asyik, jika menjadi aktivis ibarat "jalan tol" untuk meraih sesuatu, termasuk kekuasaan.

Menjadi aktivis adalah belajar "seni olah mengolah", terlebih jika jadi pimpinannya.

Jika mahasiswa biasa hanya datang dan pergi ke kelas, bertemu dosen, mengerjakan tugas dsb. 

Aktivis bisa duduk di ruang rektor, bisa ikut mengelola anggaran kampus, bisa berjumpa bupati, walikota, kapolres, dandim dll.

Aktivis bisa diundang acara A ke acara B, bisa ngopi dengan tokoh A, tokoh B, apalagi tokoh itu adalah seniornya sendiri di organisasi.

Aktivis bisa jadi sudah berpenghasilan, meski belum lulus, sementara teman seangkatannya yang telah lulus sedang keliling mencari lowongan kerja.

Lantas, aktivis itu sebenarnya "profesi" apa sehingga tiba-tiba mereka punya jabatan publik?

Di tingkat lokal, ada yang jadi tenaga dan staf ahli, komisioner, pejabat non ASN dlsb.

Di tingkat atasnya bisa jadi komisaris, menteri, wantimpres, dan entah apalagi karena saking banyaknya jabatan.

Di luar jabatan publik, ada yang kemudian menjadi pengurus parpol, ormas, hingga beragam komunitas.

Belum yang kemudian menjadi anggota dewan, atau tiba-tiba punya toko bangunan, perusahaan, hingga lembaga sosial.

Meski aktivis identik dengan mereka yang malas kuliah, namun rupanya mereka sangat rajin untuk urusan lain.

Rajin silarurahmi, rajin ngopi, cari relasi, dan... sebagaimana umumnya sebuah usaha, hal tersebut tidak selalu berhasil.

Tabik,
Ahmad Fahrizal Aziz