10 populer curl

Puisi-puisi Fahrizal Tahun 2010 (1)


Puisi-puisi yang saya tulis ulang dari buku catatan di tahun 2010. Bagian 1

1. Berikanlah Kekuatan

Sabtu, 29 Mei 2010

04.56, di Wonosari–Lawang–Malang

Berikanlah Kekuatan

Pagi ini ku masih beruntung,
Menatap teduh wajahMu di tempat asing nan baru
Seperti tak ada sebuah hasrat yang membelenggu
Mungkin ini adalah jawaban untuk perubahan itu,
Yang akan sepi dari luka tak terperi
Yang akan sunyi dari bisikan pekat terlewat
Yang akan jauh dari angan yang menerka tajam

Tuhan,
Tetap berikanlah kekuatan,
Agar ku mampu menepis
Suara syetan yang beringis
Agar ku mampu melawan
Tentara-tentara yang berkehendak awan
Agar ku mampu memahami
Apa yang tengah bersemayam di hati


2. Simbol Kekuatan

Ahad, 30 Mei 2010

05.35, di Wonosari–Lawang–Malang

Simbol Kekuatan

Lihatlah dirimu,
Seperti karang kokoh di lautan,
Yang tegar nan kuat dihantam debur ombak

Lihatlah dirimu,
Seperti Matahari pagi,
Yang tak pernah lelah menyapa meski tlah lemah

Aku, kita adalah simbol kekuatan
Yang tetap optimis, meski hati pernah menangis
Yang tetap tertawa, meski raga nan jiwa terluka
Yang tetap peduli, meski selalu tersakiti


3. Wanita

05.55, di Wonosari–Lawang–Malang

Wanita

Wanita,
Kaulah embun jiwa
Yang membasahi rongga-rongga asmara

Wanita,
Kaulah simbol keindahan, kelembutan dan senyum damai

Wanita,
Martabatmu adalah harta termahalmu
Kesucianmu adalah nilai paling berharga di hidupmu
Dan air matamu
Adalah luka semua orang.


4. Ingatlah

05.24, di Mahad

Ingatlah

Ingatlah,
Masa ketika mata tak mampu terbuka
Masa ketika mulut tak mampu berkata
Yang ada hanya diam tak berdaya

Ingatlah,
Waktu ketika semua tlah berlalu
Waktu ketika senja tak lagi menyapa
Waktu ketika mentari tak lagi menyinari
Dan waktu, ketika air mata menjadi sia-sia

Siapkah kita,
Bertemu Tuhan dengan beban berat di jasad

Siapkah kita,
Bertemu Tuhan dengan kedurhakaan yang melekat

Siapkah kita,
Bertemu Tuhan dengan pakaian lusuh dan bernoda.


5. Cinta Sejati

05.53

Cinta Sejati

Cinta Sejati,
Datang dari hati yang suci
Yang mengerti dan menerima segala bentuk ketidaksempurnaannya

Cinta Sejati,
Datang untuk menjaga, bukan untuk meninggalkan luka
Datang untuk memberi, bukan untuk berhasrat memiliki

Dan cinta sejati,
Adalah yang selalu setia, meski luka datang menjelma
Adalah yang tetap peduli, meski hati tlah pernah tersakiti.


6. Di Luar Fitrah


Selasa, 1 Juni 2010 05.10, di Ma'had


Maafkan aku, Yang telah membuatmu terusik. 

Maafkan aku, Yang terlalu berharap padamu. 

Namun, aku hanya mengikuti apa yang tengah bergemuruh di hati. 

Aku hanya mengikuti langkah Di mana gelora berarah, 

Meskipun hasrat ini di luar fitrah, Tapi, aku kan tetap menetap di hatimu. Meski, tak mungkin kita bersatu.


7. Yang Terpendam


07.45


Ku hanya ingin kau tahu Sebentuk kagumku padamu Serpihan rasaku terhadapmu 

Ku tak peduli nanti, Entah kau mau mencaci maki 

Entah kau mau meludahi 

Atau entah kau mau mengkhianati


Yang terpendam, Ku sudah utarakan hasrat terpendam Ku sudah katakan rasa yang selama ini menggelegak. 

Karena apa yang tengah bergejolak Adalah karunia Ilahi yang tak mungkin terpendam.


8. Rinduku (1) 


Rabu, 2 Juni 2010 07.08, di Ma'had


Terlintas di benakku, Raut wajah sendu yang lucu 

Terdengar di telingaku, Bisikan syahdu suaramu

Ah, mungkinkah ku tengah mendekatkanmu 

Yang kini jauh dari tatapan mataku 

Yang kini berdiri di tempat yang mungkin tepat

Kapankah kita bertemu, Meski ku tak lagi berharap itu, Karena harapan itu, Hanya kan membuatku mendramatisir dan melukai.


9. Bebas


07.16, di Ma'had


Kapankah, Ya Rabb, Ku mampu lepaskan belenggu itu, Ku mampu lepaskan jeruji itu, Aku lelah, lemah, tak terarah.

Jika harus bergelut dengan para bedebah, 

Dan aku pasti kalah, 

Karena relungku rapuh dan melemah. 

Karena jiwaku perih dan terluka. 

Karena ragaku luluh nan sayu.

Ya Rabb, Ku ingin terlepas dari hasrat pilu 

Yang setiap waktu goreskan sembilu 

Yang setiap jam berderak mengiris kalbu.


10. Lupakan Angan


Kamis, 3 Juni 2010 06.52, di Ma'had


Aku tahu segala inginmu 

Dan setiap rasa yang kau hujamkan ke jantungku 

Namun maafkan aku, Meski darah kau tukar dengan nanah

Aku takkan bisa menyondongkan hatiku 

Pada mihrab kasihmu 

Karena mawar tak bisa dipaksa untuk mekar 

Karena hati tak bisa dipaksa untuk bersemi

Lupakan setiap angan 

Tepis segala harapan 

Karena aku, hanyalah serpihan jejak 

Yang hilang dan kini menyeruak

Karena aku, hanyalah puing-puing sajak 

Yang lepak dan sempat terjebak.