Usaha Menerima Tubuh Kita Sendiri
Terutama saat memasuki usia remaja, perbincangan soal tubuh semakin gencar.
Tubuhku kurus, dan itu kerap jadi topik pembahasan, terutama saat momentum lebaran.
Mungkin gizinya kurang, lantas porsi makannya ditambah. Mungkin cacingan, coba belikan obat cacing. Usul beberapa orang.
Ada obat cacing yang rasanya manis seperti permen, bentuknya segitiga, model payung.
Atau mungkin karena penyakit typus, coba kasih ramuan kunir setiap hari. Usulan lainnya.
Semuanya serba "mungkin", karena memang hanya dugaan, tidak ada penjelasan medis.
Orang tuaku kian resah. Entah karena khawatir dengan kondisiku, atau takut atas stigma sosial karena punya anak kurus, seperti kurang terurus.
Setelah beranjak dewasa, aku kian menyadari bahwa punya badan kurus bukanlah masalahku.
Sejak kecil hingga sekarang, aku baik-baik saja dengan badan kurusku.
Orang lain lah yang menganggap itu masalah, berdasar pandangan mereka.
Sementara aku, justru nyaman-nyaman saja dengan badan kurus. Justru badan kurus lebih pas buatku yang pendek ini.
Dengan badan kurus, aku terlihat tinggi dan ramping.
Rupanya aku adalah korban "body image" sejak kecil, selama bertahun-tahun.
Bahwa body shaming tidak hanya menyasar pada yang gemuk, yang kurus justru lebih tragis dan menyakitkan.
Justru, saat itu, mereka yang gemuk malah dianggap lebih bahagia, gizi cukup, dan terurus.
Orang kurus? Beda lagi. Entah berapa butir permen payung yang sudah kutelan, atau seberapa banyak jamu nafsu makan yang kutenggak.
Untungnya, aku tak pernah termakan body image tersebut.
Aku tak pernah begitu peduli orang mau suka atau tidak. Bahkan hingga sekarang.
Perhatianku soal tubuh dan penampilan memang kurang dominan, cenderung cuek. Buat apa? Pikirku.
Rak lemariku berisi kaos hingga kemeja warna hitam dan navy. Modelnya pun sama.
Aku tak mau terlalu ribet buat mikir soal pakaian. Terpenting adalah bersih dan rapi, bukan?
Juga soal tubuh. Kukira punya tubuh slim ramping itu menyenangkan. Badan enteng, ukuran baju jarang berubah.
Semua sudah ada desain alamiahnya. Ada juga yang cocoknya memang berisi, atau gemuk.
Coba bayangkan teman kita yang gemuk lalu tiba-tiba langsing, atau aku yang tiba-tiba jadi gemuk. Mungkin terlihat aneh.
Ternyata, menerima tubuh kita sendiri bukan hal yang mudah, selalu ada kontradiksi antara kita si pengguna tubuh, dengan orang yang memandangnya.
Dalam psikologi hal itu disebut Body image discrepancy.
Ketika ada orang yang memberi saran, mungkin itu bentuk kepedulian. Tak keliru, tapi menyakitkan.
Aku merasakan itu bertahun-tahun, ketika tubuh seperti "tidak diterima" secara sosial karena kurang ini, kurang itu.
Suatu yang orang anggap bentuk kepedulian, justru seperti pagar stigma yang mengisolasi diri kita sendiri.
Suasana itu justru malah bikin mental kurang sehat, dampaknya bisa ke fisik. Bisa sakit beneran karena saking mikirnya.
Satu-satunya penolong adalah diri kita sendiri, menerima dan mencintai tubuh kita sendiri.
Kalaupun suatu saat ingin berubah, itu juga sebaiknya karena keinginan diri sendiri, patokannya adalah kesehatan.
Tabik,
Ahmad Fahrizal A.
