Waktu-waktu untuk Tidak Membaca Buku
Hingga semester 4 perkuliahan, aku masih terbiasa pulang kampung naik kereta api.
Biasanya mengambil jadwal Jumat malam, pukul 19.20. Kereta Api Penataran rute terakhir Surabaya-Blitar lewat Malang.
Harga tiketnya masih Rp5.500, beli di lokasi, bentuknya seperti kartu domino.
Biasanya aku mencangking satu buku, untuk bacaan selama perjalanan.
3 jam di dalam gerbong kereta tentu cukup asyik untuk membaca buku, bukan?
Nyatanya buku-buku tersebut nyaris tak terbaca, karena terlalu asyik berbincang dengan orang sebangku.
Saat itu isi gerbong kereta api sangat variatif; masih ada pedagang asongan, pengamen dan penumpang gelap.
Copet dan pelempar batu juga masih ada. Meriah sekaligus menakutkan.
Beda dengan penumpang kereta api sekarang yang relatif lebih tertib, karena pengetatan regulasi.
Dahulu gerbong kereta api adalah "lokomotif cerita".
Aku bisa duduk bersebelahan atau berhadapan dengan teman sesama mahasiswa, atau orang super random yang darinya bisa muncul banyak cerita.
Misalnya, yang kuingat, seorang pria berambut kuncir, berwajah tegas, dengan sedikit bekas luka di wajahnya.
Dia bercerita pernah berenang melewati Selat Madura. Namun dia tidak pernah mengaku pekerjaannya, mungkin saja kopasus.
Atau, ibu-ibu yang membawa belanjaan super banyak, berkardus kardus, baru kulakan dari Surabaya.
Tetiba ia bercerita saat mulai merintis tokonya, jatuh bangunnya, hingga cerita anak cucunya.
Belum lagi kalau ketemu aktivis mahasiswa, yang lagi "mabuk" bacaan-bacaan kiri, yang sepanjang jalan topiknya mengkritisi rezim atau membahas konspirasi global.
Atau ketika tempat duduk penuh, dan harus menepi di dekat pintu bordes yang terbuka, biasanya ada mas mas perokok sedang ndlosor "slow living".
Bau pesing dari toilet di depannya tak jadi soal selama asap masih bisa mengempis dari hidungnya.
Apakah ragam keunikan semacam itu masih bisa ditemui sekarang ini?
***
Kukira memang ada waktu-waktu untuk tidak membaca buku.
Karena setiap orang, pabila digali lewat percakapan, ibarat "buku terbuka", tidak hanya berdasar pengetahuannya, namun juga pengalaman.
Ada saja hal baru yang bisa dipetik dari beragam percakapan itu, sekalipun sebagian terasa aneh.
Kemampuan mendengarkan ku, sepertinya teruji secara informal di gerbong-gerbong kereta api waktu itu.
Bertemu orang yang mau bercerita, dan aku yang memperpanjang ceritanya lewat pantikan pertanyaan.
Bagiku mendengar cerita dari orang lain, dan itu empiris atau berbasis pengalaman, adalah suatu yang eksklusif.
Mendengarkan kehidupan nyata yang telah terjadi, sama antusiasnya seperti membaca buku bagus yang masih dalam bentuk dummy.
Jadi, bagiku ngobrol juga sama asyiknya dengan membaca buku. Meski kadang melelahkan.
Tabik,
Fahrizal
