Sisi Mistik dalam Diri Kita




Selasa, 14 Juli 2020
Oleh Fahrizal A.

Banyak pengetahuan saya miliki, tidak semua dari hasil baca atau meneliti, sebagian lebih karena "pengetahuan warisan", khususnya terhadap orang-orang tertentu. Sampai orang mengira, saya seperti dukun.

Orang-orang tertentu itu seperti siapa? Misalnya, mereka para keturunan Raja, atau Prajurit, yang dalam dirinya "dijaga" atau tetap terhubung dengan leluhur. Ibaratnya, ada ilmu yang diwariskan.

Jadi saya bisa membaca, atau menebak lebih tepatnya, potensi dan kemampuan yang dimiliki seseorang, sekalipun sulit orang lain yakin.

"Masa anak kayak gitu kamu anggap hebat?" Bantah mereka.

"Iya, dalam dirinya ada sesuatu, mungkin dia masih keturunan raja, prajurit, atau orang penting pada masanya," jawab saya.

Ya. Tetapi kan, manusia berbeda satu sama lain, dan zaman berubah?

Betul. Itu yang kadang-kadang saya pikirkan. Sejauh mana faktor warisan itu berpengaruh dalam diri seseorang.

Lantas, saya bertanya pada yang ahli. Kenapa mereka harus dapat ilmu warisan?

Tentu, orang terdahulu itu, ingin anak dan keturunannya selamat. Ilmu-ilmu itupun diwariskan secara otomatis.

Ilmu yang dimaksud bagaimana? Sukar dijelaskan.

"Namun sebisa mungkin, kita harus independen, menemukan jati diri kita sendiri, jangan tergantung sama ilmu warisan," Tegasnya.

Ternyata, tidak hanya harta yang diwariskan, namun ilmu juga. Ilmu tertentu. Bukan ilmu akademik.

Jadi kalau saya?

"Mungkin keturunan para pencatat. Dahulu, dalam sebuah kerajaan, ada penulis kerajaan, bisa jadi demikian," Jelasnya.

Maka saya ditanya silsilah, dan tidak bisa menjawab, karena memang informasi itu terputus. Setahu saya, kakek nenek ya adalah petani.

Apakah anda, yang sedang membaca tulisan ini, percaya dengan hal demikian?

Memang sulit dijelaskan, namun ada sisi benarnya. Sering saya disebut "wikipedia berjalan", sebab menurut beberapa teman, saya mengetahui banyak hal. Kadang-kadang bikin saya jumawa, padahal toh nyatanya pengetahuan saya masih sangat terbatas.

Akan tetapi, menurut orang yang ahli tadi, saya tidak punya "ilmu warisan". Itu ditandai dengan tidak begitu kuatnya frekwensi ketika bertemu saya.

Alhamdulilah. Dengan begitu, saya berada pada frekwensi yang "aman". Tidak mengundang sesuatu hal.

"Mungkin semacam reinkarnasi, atau indigo, namun pada taraf tertentu," Lanjutnya.

Reinkarnasi, dalam pemahaman Buddha, adalah keberlanjutan hidup dalam sosok yang berbeda.

"Jadi ada pengetahuan bawaan yang mungkin masih keberlanjutan dari kehidupan sebelumnya."

Entahlah. Kalau memang itu benar, ya mau bagaimana lagi. Kadang-kadang saya merasa, mengetahui sesuatu secara detail dan mendalam, dan pengetahuan itu kadang masih sebatas asumsi.

Kadang saya menebak seseorang, dan benar. Lalu dia bertanya, kok bisa tahu?

Seingat saya, dia pernah menceritakan. Namun ia membantah, kapan bercerita?

Oh, mungkin saya halu. Namun bagaimana mungkin ke-haluan saya cukup presisi?

Hal itu membuat saya semakin takut menebak, atau menyimpulkan, sebelum benar-benar menggalinya sendiri.

Artinya, saya menolak semua konsep tentang warisan-warisan itu. Pengetahuan yang kini kita miliki, bisa hilang seiring pertambahan usia, ingatan-ingatan akan tergerus oleh waktu.

Kehidupan adalah hal baru, masing-masing kita sedang malakukannya untuk yang pertama.

Pengetahuan harus didapat dari membaca, mengamati, meneliti, berbincang dengan orang lain, hingga merefleksikan diri sendiri.

Ingatan juga perlu diabadikan lewat tulisan. Tidak ada yang mistis, semua sedang dijalani sebagaimana manusia biasa pada umumnya.

Tidak ada yang spesial. []

Ahmad Fahrizal Aziz

Blogger dan Aktivis Literasi

Posting Komentar

Tinggalkan komentar di sini, terima kasih sudah mampir.

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak