Antologi JJKK, FLP Blitar, dan Gerakan Literasi






04 Desember 2016 adalah hari bersejarah, tidak saja bagi FLP Blitar yang akhirnya menerbitkan antologi cerpen JJKK (Jejak-jejak Kota Kecil), juga bagi Blitar raya. Bahwa satu dari beberapa komunitas menulis, akhirnya menelurkan sebuah karya. Ini sekaligus memberikan atmosfir tersendiri bagi gerakan literasi di bumi bung karno.

Tahun 2008, diusia 16 tahun, saya terlibat kepanitiaan pendirian FLP Blitar bersama para senior, orang-orang hebat yang sudah lama mengenal dunia literasi, para praktisi pendidikan, dan para pecandu baca. Mendengar nama FLP, langsung terlintas nama-nama penulis beken yang bukunya banyak nangkring di rak-rak toko buku dan perpustakaan. Suasana penuh semangat, serta hasrat meluap-luap untuk lekas menghasilkan karya.

Sayang, belum genap setahun pasca berdirinya, saya harus hijrah ke Malang untuk urusan pendidikan. Saya pun beralih nimbrung ke FLP Malang, bertemu penulis-penulis hebat, para juara lomba, akademisi yang menguasahi seluk beluk karya sastra, serta para writerpreneur yang getol menerbitkan karya-karya secara independen. Meski saya memilih untuk menekuni dunia Jurnalistik, ketimbang dunia sastra yang dulu memberikan energi tersendiri ketika mengenal FLP. Mungkin dunia jurnalistik kala itu memberikan ruang yang lebih nyaman bagi mahasiswa, yang kadang harus bergelut dalam dunia aktivis.

Dunia sastra jadi serasa sebagai jalan sunyi, bahkan untuk sekedar menulis puisi pun, saya harus menguras isi perasaan. Meski diam-diam saya menyakini ucapan Mathew Arnold, bahwa sastra adalah organisasi tertinggi dari kegiatan intelektual manusia.

Bersama FLP, menerbitkan buku adalah impian tersendiri. Pertengahan tahun 2013, harapan itu terwujud ketika saya mendapatkan amanah menjadi ketua FLP Ranting UIN Malang. Terbit antologi cerpen berjudul “Bianglala Lakon”. Sebelumnya, FLP Malang juga baru menerbitkan dua antologi cerpen : Perempuan Merah Lelaki Haru, dan Ada Kisah di Setiap Jejak. Terbitnya antologi Bianglala Lakon membuat gelar karya di tahun itu semakin meriah.

Tinggal FLP Blitar, kapan?

Awal tahun 2015, di hari ahad yang cerah, saya bertemu Mbak Lilik dan Mas Saifudin di lobi Perpustakaan Bung Karno. Sejak kepindahan Mbak Gesang Sari ke Jakarta, Mbak Lilik lah yang sementara menjadi penanggung jawab FLP Blitar. Dalam beberapa pertemuan tersebut, hadir pula Alfa Anisa, Rere dan Adinda. Kami ngobrol sederhana seputar dunia kepenulisan, dan bagaimana menghidupkan kembali diskusi kepenulisan di Blitar raya.

Setelah itu, terjadilah diskusi kecil untuk memilih Ketua FLP Blitar di Lt. II Perpustakaan Bung Karno. Terjadilah tarik ulur dan rasa sungkan. Mbak Lilik sudah tidak bersedia karena didera kesibukan, begitupun dengan Mas Saifudin awalnya, sampai kemudian muncul nama Alfa Anisa, yang kebetulan masih Mahasiswa, dan puisi-puisinya sudah termuat di beberapa koran. Namun Alfa pun juga tidak bersedia. Akhirnya, dengan berbagai pertimbangan, Mas Ahmad Saifudin bersedia menjadi Ketua FLP Blitar.

Maka untuk membuka informasi awal, dibuatlah fanspage Komunitas Penulis Kota Blitar di Facebook. Dari fanspage tersebut banyak orang bertanya tentang keberadaan komunitas penulis Blitar, dua diantaranya adalah Bu Imro’ dan Bu Dewi Arifin, yang kemudian turut serta dalam kegiatan FLP Blitar. Sebelum itu, Irsyad yang sepertinya sedang galau berat, tumben-tumbenan bertanya tentang hari kumpulnya FLP Blitar, yang membuatnya bergabung. Mbak Sari pun memberikan isyarat untuk menghubungi beberapa anggota sebelumnya, namun tidak semuanya terjangkau. Yang terjangkau, salah satunya adalah Nezli. Informasi tentang FLP Blitar pun kian terdengar, yang membuat beberapa orang bergabung, salah satunya Mbak Rizkha.

Tempat kegiatan pun beberapa kali berganti. Pernah mendapatkan tempat khusus di SMK Telkom, kadang juga di Lobi Perpustakaan Bung Karno, di beberapa cafe, sampai kemudian Pak Budi Kastowo (Pustakawan dari Perpustakaan Bung Karno), memberikan isyarat untuk menggunakan lt. II sebelah barat, tempat koleksi khusus buku-buku Soekarno, atau tentang Soekarno. Tempatnya representatif, ber-AC, dan berdinding kaca.

Singkat kata, salah satu program untuk menandai kembali kebangkitan FLP Blitar adalah dengan menerbitkan buku. Berdasar kesepakatan, dipilhlah buku kumpulan cerpen. Pasca lebaran 2015, niat itu dilaksanakan. Cerpen dikumpulkan, beberapa dibedah terlebih dahulu, untuk kemudian direvisi. Sempat beberapa kali berganti formasi karena proses seleksi. Rencananya satu penulis satu cerpen. Namun karena mempertimbangkan tebal buku, maka beberapa penulis menyumbangkan dua cerpen.

Sembari menunggu layout dan desain cover selesai, maka dipilihlah beberapa alternatif penerbitan. Karya perdana ini akan diterbitkan secara mandiri, dengan dana dari beberapa penulis sendiri. Diskusi alot juga terjadi untuk menentukan judul antologi, sampai kemudian dipilihlah jalan tengahnya, JJKK (Jejak-jejak Kota Kecil).

Antologi ini memang tidak memiliki tema besar. Temanya bebas, namun titik fokusnya ada pada setting tempat. Sebagaimana judul, settingnya sebagian besar berlokasi di Blitar. Meski beberapa cerpen yang tidak bersetting Blitar, juga tetap dimunculkan karena alasan tertentu.

Cerpen saya yang berjudul “Lelaki Pilihan Abi” dipasang di halaman depan. Cerita dalam cerpen itu memang umum ditulis oleh para penulis FLP, setidaknya, baik tema maupun penokohannya. Dalam cerpen itu ada adegan kenduri, yang notabene adalah tradisi NU. Lucunya, tak berselang lama antologi ini mendapatkan sponsor dan support dari UNU (Universitas Nahdlatul Ulama) Blitar.

Teman saya yang pernah tahu cerpen ini kemudian mengomentari, dikiranya cerpen itu memang ditaruh di depan karena launchingnya di Aula PCNU, dan sponsornya adalah UNU. Padahal tidak demikian. Mungkin berjodoh saja. Teman-teman FLP Blitar pun tahu kalau saya Muhammadiyah. Saya merasa tidak harus membatasi diri pada ideologi, bahkan membatasi diri pada yang berbeda sama sekali.

Termasuk satu cerpen saya yang berjudul “Sylira & kenangan hujan” yang agak “nyamping”, sempat menjadi obyek kritik. Kita hanya belum terbiasa untuk yang tak biasa.

Setelah naskah terkumpul, desain cover sudah ditentukan, serta layout selesai, butuh sekitar 15 hari untuk proses percetakan sampai pengiriman. Akhirnya 100 eksemplar perdana antologi JJKK datang ke Blitar dengan selamat, melalui jasa travel dari Jogja.

Secara bersamaan, pengurus FLP Blitar juga sedang memikirkan bagaimana agar gerakan literasi kedepan bisa lebih meriah. Selain agenda launching, juga digagaslah dua agenda lain, yaitu motivasi kepenulisan dan open recruitment (OR). Tiga sesi dalam satu acara. Dibuatlah pamflet dan disebarkan ke berbagai sekolah dan lembaga. Satu hari jelang hari H, lebih dari 100 pendaftar masuk. Bahkan pada hari H, berdasar catatan buku registrasi, lebih dari 150 yang datang.

Formulir pun dibagikan, ada 53 yang mendaftarkan diri. 53 pendaftar ini pun akan ditindaklanjuti, untuk kemudian melalui sesi OR yang sesungguhnya. Jumlah tersebut terbilang banyak, melebihi ekspektasi awal. Dengan begitu, gerakan literasi di Blitar kedepan bisa lebih meriah. Atmosfir positif untuk mengkampanyekan membaca dan menulis. Perpustakaan Bung Karno lt. II akan semakin ramai ketika hari ahad siang, dimana itulah jadwal kami berkumpul rutinan.

Akhirnya, sambil menyeruput secangkir cappucino, saya ucapkan selamat atas munculnya kembali gerakan literasi di Blitar raya, yang dimotori oleh FLP Blitar dan Penulis hebat di dalamnya. Nasrun minnallah wa fathun qarib.

Blitar, 6 Desember 2016
A Fahrizal Aziz
www.fahrizal-aziz.id

Kumpulan foto :














Ahmad Fahrizal Aziz

Blogger dan Aktivis Literasi

Posting Komentar

Tinggalkan komentar di sini, terima kasih sudah mampir.

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak