Seksualitas Properti



Malam itu saya berkunjung ke warnet, hendak memposting beberapa tulisan ke blog dan mengirimkan hasil editan untuk majalah melalui email. Warnet lumayan ramai. Hanya tersisa satu komputer yang kosong. Saya masuk biliknya dan seorang yang berada di bilik depan memanggil saya “Mas..” saya hanya memberikan isyarat ekspresif. “Sampean sini saja, saya sudah bilang operator pindah kesitu,” lanjutnya.

Akhirnya kami bertukar tempat. Ia baru saja menutup billing, jadi saya tinggal login saja, tak perlu menghidupkan komputer seperti biasanya. Saat baru masuk, Masyaallah. Ada banyak sekali situs porno yang masih terdisplay dengan jelas. Ditengahnya ada keterangan closing tab or cancel. Mungkin lelaki paruh baya tersebut baru saja membuka banyak situs porno dan sudah menekan tombol (x). Tapi karena dia membuka banyak situs dengan open link new tab, jadi belum hilang. Sementara dia sudah logout. Barangkali, dengan logout billing, otomatis hilang juga tab mozila fork-nya.

Saya hanya tertawa geli melihat apa yang baru saja bapak itu tonton. Tapi kenapa dia pindah komputer? Lalu saya klik closing tab dan memulai browser baru. Membuka email, facebook, dan 4songs.PK sekaligus mendownload lagu. Jujur, saya tak begitu tertarik dengan video-video porno tersebut. Bukannya saya sok suci. Tidak. Tapi saya sudah bosan menonton begituan. Saya sudah mengenal internet sejak kelas 3 smp dan dulunya juga pernah menonton begituan, sampai mata saya kena minus. Dan isinya ya begitu-begitu saja. Tak ada yang menarik.

Untungnya, saya tak kecanduan. Dan andaikan kini menolak untuk menonton video porno seperti itu, saya punya alasan logis. Bagi saya video porno itu hanyalah semacam seksualitas properti, adegan seksnya serba artifisial. Mulai dari cerita, mimik ekspresi dan desahannya. Kita hanya bisa menikmatinya dengan mata dan rasa. No more. Sama seperti melihat pajangan-pajangan di etalase mall atau di pameran lukisan. Hanya sekedar properti saja. Apa yang menarik?

Video porno lebih banyak kita nikmati dalam fantasi dan imajinasi. Isn’t real. Apalagi video porno komersial yang memang didesain untuk pasar tertentu. Kita bisa mendapati pentrasi seksual yang bukan karena cinta, tapi karena kebuasan dan libidoistik. Menonton video porno membuat kita semakin dangkal melihat manusia, terutama lawan jenis. Kita hanya akan melihat lawan jenis sekedar properti, obyek seksual, seperangkat daging yang bisa memuaskan hasrat kita. kita akan kesusahaan melihatnya lebih mendalam. Terutama dari sisi nilai-nilai (values).

Pola pikir kita akhirnya tereparasi. Istilah ‘cinta pada pandangan pertama’ itu, seolah mengukuhkan budaya dangkal tersebut. Perempuan, yang pertama adalah bentuk fisiknya, seksi, putih, cantik, manis, montok, dll. Yang tidak memiliki kriteria tersebut, berusaha semaksimal mungkin untuk berdandan, diet, ke salon, membeli baju-baju mahal agar terlihat cantik fisik dan menarik. Ini sungguh mengerikan. Kaum lelaki yang suka nonton video porno, tapi kaum perempuan ikut terkena imbas psikologisnya. Gila!

Perempuan yang tidak ikut arus seperti itu, dan sibuk belajar, sibuk berkarya, sibuk aktif di kegiatan sosial masyarakat, dianggap melawan kodrat. Di tuduh memperjuangkan gender yang merupakan budaya barat. Padahal, budaya barat yang mana? seksualitas properti itu jauh lebih ‘barat’ dibandingkan perempuan yang sibuk belajar, menjadi pintar, dan akhirnya menggugat. Tragis!

Tak salah, jika pekerjaan yang menggunakan brain ‘seksual properti’ mendapatkan gaji tinggi, dan banyak orang yang mau membayar mahal untuk itu. PSK yang masih montok, seksi, muda, dan cantik, penghasilan perbulannya bisa belasan juta. Hanya modal fisik. Artis yang modal kecantikan, menjadi sangat populer, digilai, dan di bayar tinggi dalam sebuah pertujukan. Kalau pun nyanyi, kadang suaranya pas-pasan. Tapi yang penting ia cantik dan seksi. Dan yang mematok itu adalah industri. Industri pun berfikiran seperti itu karena ada pasar.

Jangan coba membandingkan gaji orang-orang diatas dengan Guru, dosen, atau aktivis perempuan lainnya, yang bekerja di kantoran, sebagai karyawan dll. Jauh. harga “tubuh” jauh lebih mahal dari harga “otak”. Tubuh hanya perlu dipoles dengan make up, tapi otak tidak bisa demikian. Butuh proses untuk mengolah otak lebih berguna. Akhirnya, banyak perempuan terjebak memoles tubuh dan malas mengolah otak. Padahal, tak sedikit juga perempuan yang otaknya cerdas, menduduki jabatan menarik atau berpenghasilan tinggi. Tapi sekali lagi –mereka tak akan pernah bisa menjadi trend. Yang menjadi trend tetaplah yang mengeksplore tubuh.

Inikah efek dari seksualitas properti tersebut?

Saya sudah jengah memikirkan hal itu. Saya fokus kembali ke layar monitor. Beberapa lagu sudah selesai saya download, dan berniat mendengarkannya dengan headseat. Tapi ternyata headseat tak berfungsi dengan baik. Suaranya cetar tak beraturan, membuat telinga sakit. Saya melirik lagi lelaki paruh baya yang berpindah ke bilik depan.

Pantas saja dia berpindah tempat! Kampret!

28 Desember 2014
A Fahrizal Aziz

Ahmad Fahrizal Aziz

Blogger dan Aktivis Literasi

Posting Komentar

Tinggalkan komentar di sini, terima kasih sudah mampir.

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak