Ritus Kesunyian (13)





****
Di rumah Egar
“Bagaimana hari pertamanya pindah kesana, Mang?” terdengar suara Pria dari balik telepon, ia berbincang dengan Mamang, sopir pribadi Egar.
“Semoga saja berjalan lancar tuan, oh iya. Semalam nyonya menelepon, jika nyonya keberatan Aden masuk sekolah itu dan meminta dipindahkan lagi. Bagaimana tuan?” tanya Mamang.
Pria bertubuh tambun itu menghelas nafas, lalu dengan tegas menjawab.
“Untuk kali ini ikuti kata-kata saya, Mang. Selama ini Egar sudah mengikuti keputusan nyonya dan saya juga ikut keputusannya, untuk sekali ini saja jangan pernah pindahkan Egar dari sekolah itu jika bukan dia sendiri yang memintanya. Nanti biar saya yang bicara dengan nyonya.”
“Iya tuan saya mengerti. Kira-kira kapan tuan ke Malang?” tanya Mamang.
“Kurang tau Mang, kerjaan di Singapore masih banyak. Nanti saja summer weekend saya akan ke Malang. untuk sekarang ini masih belum bisa.”
Dan percakapan pun terputus, Mamang menghela nafas. Lalu menutup dan memasukkan ponselnya ke dalam saku celana.
“Begini ya orang kaya itu hidupnya, serba sibuk, sampai lupa keluarga” pekik Mamang.
****
Singapore
Seorang perempuan berjalan dengan langkah tegas, matanya tertuju ke arah sebuah pintu yang sudah sejak lama menunggunya. Sejurus kemudian pintu itu terbuka secara otomatis, dan di dalam sudah duduk beberapa orang dari berbagai negara: ada yang tinggi tegap dengan kulit putih kemerah-merahan, ada yang berpostur pendek dengan mata sipit, ada juga yang berkulit hitam dengan setelan jas yang gagah.
Mereka semua melayangkan senyum kepada perempuan itu, lalu perempuan itu menyalami mereka satu per satu.
“Welcome to my country,” pekik salah seorang berkebangsaan melayu,”This’is an intelectual from Indonesia, she was created the concept about e-learning,” lanjutnya.
Seluruh hadirin nampak terpukau dengan perempuan tersebut, tidak banyak intelektual Indonesia yang berhasil membangun konsep Pendidikan sampai dikenal oleh kalayak luas seperti dirinya. Terlebih konsep Pendidikannya sangat relevan dengan era modern dan kemajuan teknologi seperti ini. Dialah Profesor Wahliya, Ibu Egar. Perempuan yang sangat disegani.

Ahmad Fahrizal Aziz

Blogger dan Aktivis Literasi

Posting Komentar

Tinggalkan komentar di sini, terima kasih sudah mampir.

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak