Mencari yang sempurna


no one perfect

Selepas shalat jum’at di Masjid Imam Bukhori Kota Malang, saya bertemu seorang bapak yang agak gemuk, matanya sedikit sipit dan senyumnya ramah. Ia menggunakan kemeja rapi, duduk di serambi sambil mendekap tas jinjing, mungkin berisi laptop dan separangkat berkas penting lainnya. Saya duduk disampingnya sambil mengaduk-ngaduk isi tas, mencari kunci montor yang tak ada di saku celana. Bapak itu menyapa dengan ramah, berbasa-basi dan sejurus kemudian kami pun terlibat perbincangan.

Dia menanyakan tempat kuliah, umur, dan sekelumit hal. Saya menjawab apa adanya, sambil melirik jam tangan, lalu ia bercerita hal-hal yang privatif. Saya agak heran, gaya bicaranya lepas seperti panah yang hendak dilepaskan dari busurnya. Apa tampang saya mirip psikolog atau ahli horoskop?

Bapak itu menjelaskan, sudah sekitar satu bulan ini cerai dengan istrinya, dan kini dia dihadapkan pada sengketa warisan gono-gini berupa rumah, tanah, dan aset pribadi lainnya. Mereka baru dikaruniai satu orang anak, dan itulah yang membuatnya berat. Sementara anaknya lebih memilih ikut sang Ibu dengan berbagai alasan yang logis.

Ia tampak seperti orang kebingungan, apa begini rasanya bercerai? Bathin saya. Bapak itu juga menjelaskan kalau perceraian itu dikarenakan adanya disharmonisasi dengan sang istri. Selama hampir satu jam, saya menjadi pendengar yang baik dan tentunya tak mampu memberikan saran-saran. Saya tidak paham dunia yang terlampau disinklinasi ini.

Kata bapak itu, istrinya cantik, putih, jelita dan disuka banyak lelaki. Istrinya juga sangat fashionable. Orang bilang ia perempuan sempurna. Istrinya bekerja di sebuah bank negara dan tentu gajinya sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup, setidaknya untuk mengenyangkan perut. Dialah perempuan yang sejak dulu menjadi kriterianya, dan ia sangat bahagia ketika mendapatkannya.

Saya benar-benar terhanyut dalam cerita nostalgia itu, bapak satu anak ini benar-benar bercerita dari hati. Saya masih sangat muda dan memang tak mudah mencerna banyak hal, termasuk bapak bertubuh tambun yang menganut realisme platonik ini. Dalam konteks yang lain, saya percaya bahwa ide/gagasan tak selalu sejalan dengan individu. Orang boleh saja bilang dirinya ideal, tapi dalam keadaan yang tak disangka-sangka, hal itu bisa berubah total

Saya tahu kalau bapak ini mengira bahwa perempuan dengan kriteria diatas adalah kulmunasi dari angan-angan sucinya, yang kemudian diijabahi Tuhan. Tapi diluar itu, ada fluktuasi personal yang mampu mengoyak segala hal yang bersifat teoritis dan sistematis. Setiap manusia memiliki biotron yang tak banyak dipahami manusia lain.

Jika memang keterpilihan perempuan itu adalah untuk mencari sempurna, maka saya hanya memaknainya sebagai ungkapan yang menghibur. Dia sempurna kan? bukankah itu sangat enak di dengar, sangat menghibur kita semua. Berbeda dengan ungkapan. Dia tak cocok dengan kamu, dia punya kekurangan a, kekurangan b, kekurangan c. Dan kita harus tahu, bahwa realita kadang yang tak seindah angan-angan, tak senikmat utopia yang bersemayam kuat dialam bawah terdasar dari otak kita.

Sekarang, setelah akhirnya bapak tambun itu bercerai dengan perempuan pujaannya, apakah realisme platonik itu masih berguna? Apakah sejuta “kesempurnaan” yang dulu dijadikan dasar keputusan masih menjadi hal yang indah? Entahlah. Saya tak berani menanyakan hal itu. Karena terkadang idealisme monistik tak selalu mampu menjawab banyak hal.

Jika mencari kesempurnaan, itu layaknya menonton film imajinasi yang kita buat sendiri di dalam otak kita. Nikmat dan Menggembirakan, tapi kita harus bersiap-siap jika sewaktu-waktu hal realistis itu akan menggempur kenyamanan yang kita buat sendiri.

Blitar, 28 Juni 2014
A Fahrizal Aziz

Ahmad Fahrizal Aziz

Blogger dan Aktivis Literasi

Posting Komentar

Tinggalkan komentar di sini, terima kasih sudah mampir.

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak