Aku dan Film (1)





Banyak blog atau website yang membuat review tentang film, kadang aku juga tertarik untuk melakukan hal tersebut. Namun ternyata, arus informasi sudah begitu derasnya, sehingga tiap film yang hendak kureview, pasti sudah di review orang lain.

Menonton film adalah aktivitas yang sering aku lakukan, bahkan sejak masih SD, sejak masih eranya VCD, aku sering menyewa kaset di rental. Kaset pertama kali yang pernah aku sewa adalah Petualangan Sherina, meski sebenarnya sudah pernah menonton film tersebut di televisi.

Selain film dalam negeri, aku juga sering menyewa film luar negeri. Tidak semua aku ingat judulnya, selain Titanic dan beberapa film horor, dulu film-film Hongkong juga memiliki daya tarik tersendiri, tentunya film laga yang berkaitan dengan kungfu. Misalkan seperti Saolin Soccer.

Namun aku jadi tertarik untuk sedikit mengomentari film secara lebih umum, tentu dari sudut pandang penikmat. Termasuk mengomentari sutradara, director, sampai penulis skenarionya. Hal ini setidaknya penting untuk diriku sendiri, dalam rangka mengapresiasi film dalam skala yang lebih luas, tidak saja aktor atau aktrisnya yang memang jago dalam akting.

Menariknya pula, di era digital semacam ini, kita pun bisa mengakses film dari berbagai negara, apalagi yang sudah diupload ke youtube. Film luar negeri, selain produksi Hollywood dan Bollywood, aku pun juga sangat familiar dengan film-film dari Jepang dan Thailand.

Memang ada film dari Korea (selatan) yang juga banyak membanjiri pasar di Indonesia, namun aku pribadi hanya pernah menonton beberapa. Termasuk film dari Tiongkok dan Taiwan, beserta serialnya.

Aku mendapat referensi banyak film ketika di Malang, sekitar 6 tahun lamanya di Malang, dan hanya beberapa kali dalam sebulan kembali ke Blitar. Karena kota besar dan dekat dengan bioskop, sehingga bisa sekaligus update film-film terbaru. Belum lagi jika teman punya file film terbaru.

Film pertama yang aku tonton di Bioskop itu berjudul Garuda di dadaku. Di usia 17 tahunan itulah aku baru masuk bioskop. Ketika Aliyah, seringnya menonton film dari komputer. Biasanya komputer organisasi atau warnet. Kalau bagus, biasanya aku pinjam untuk burning ke kaset VCD. Kebetulan aku sudah bisa melakukan buring sendiri, tidak hanya film, tapi juga lagu.

Film yang hits sekali waktu aku aliyah itu adalah Laskar Pelangi. Sampai beberapa teman minta diburningkan. Beberapa kali pula, disela-sela agenda organisasi, kami nonton bareng film tersebut menggunakan LCD Proyektor di Aula. Misalkan, keesokan harinya ada acara Diklat, sore sebelumnya janjian untuk nonton bersama.

Sebelum Laskar Pelangi, sebenarnya sempat hits Ayat-ayat cinta (AAC), namun tak berselang lama film tersebut tergerus oleh popularitas Laskar Pelangi. Film AAC sendiri ramai diperbincangkan di organisasi yang aku ikuti, karena penulisnya merupakan senior dari organisasi kepenulisan tersebut. Sayang, meski film tersebut “meledak” di bioskop, namun yang muncul justru perbincangan negatif. Terutama dari setting tempatnya yang tidak berada di Mesir, sebagaimana novelnya.

Sebelum menonton filmnya, aku memang pernah membaca novelnya, dari segi pemeran sepertinya tidak ada masalah, bahkan Soundtrack yang dinyanyikan oleh Rossa pun menjadi hits kala itu. Yang banyak dikritik adalah lokasi syuting dan adaptasi alur cerita. Untuk mengadaptasi novel menjadi film memang cukup sulit, atau cenderung tidak memuaskan, karena lawannya adalah imajinasi pembaca.

Namun yang agak berbeda adalah Laskar Pelangi. Aku sudah terlebih dahulu membaca novelnya sebelum menonton filmnya. Mungkin rekor membaca terbaikku adalah ketika membaca Laskar Pelangi. Novel yang terbalnya lebih dari 500 halaman tersebut rampung dalam waktu kurang dari seminggu. Untuk ukuran diriku sendiri, itu luar biasa.

Menonton Laskar Pelangi pula membuatku semakin kagum dengan Riri Riza, Sutradara papan atas yang selalu berpartner dengan Mira Lesmana tersebut barangkali bisa disebut salah satu sineas terbaik, dan jika dihitung dari jumlah banyaknya penonton dari film yang dihasilkan, barangkali masih yang terbanyak di Indonesia.

Berawal dari film Petualangan Sherina yang konon menjadi titik awal kebangkitan kembali film Indonesia, dilanjutkan dengan film Ada Apa dengan Cinta (AADC), lalu Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, dan masih banyak film lainnya karya Riri Riza yang menyedot Jutaan penonton.

Sang Pemimpi sendiri aku tonton di Bioskop ketika di Malang. Dari segi cerita, aku lebih suka Sang Pemimpi. Apalagi ketika tokoh Arai diperankan oleh Randi Ahmad. Mungkin karena waktu itu berkaitan dengan usiaku yang baru saja lulus Aliyah, sehingga penghayatannya lebih baik dibandingkan ketika menonton Laskar Pelangi yang sebagian besar tokohnya anak SD.

Sayangnya, ketika menonton film aku jarang mencari tahu siapa nama artisnya, apalagi nama sutradara, produser, sampai penulis skenario. Sehingga yang sering banyak diingat adalah alur ceritanya.

Kedepan, aku ingin lebih luas lagi mengapresiasi sebuah film dalam tulisan-tulisan berikutnya. []

Blitar, 13 Februari 2017
A Fahrizal Aziz

Ahmad Fahrizal Aziz

Blogger dan Aktivis Literasi

Posting Komentar

Tinggalkan komentar di sini, terima kasih sudah mampir.

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak