Perjalanan Menulis (bag. 27)




Berguru ke Jogja
 
makan siang bareng di Jogja
24 Juni 2013
Bus sudah terparkir di depan Masjid At Tarbiyah UIN Malang. Saya memarkirkan motor di lantai dasar Perpustakaan Pusat untuk dua hari kedepan. Malam itu saya ikut rombongan “berguru ke Jogja”, ke Universitas Negeri Yogyakarta dan Universitas Gadjah Mada. Berguru tentang pengelolaan Majalah.

Majalah Kampus Pewara Dinamika UNY, yang dikelola oleh Humas, pernah mendapatkan penghargaan sebagai Gold Winner dari SPS (Serikat Perusahaan Pers) untuk kategori Inhouse, Media Kampus. Penghargaan tersebut disampaikan langsung oleh ketua SPS kala itu, Dahlan Iskan, pada hari Jum’at 8 Februari 2013 di Hallroom Hotel Aryaduta, Manado.

Penghargaan semacam itu memang rutin dilakukan menjelang hari Pers Nasional pada 9 Februari. Media nasional, regional, dan inHouseatau media komunitas mendapatkan penghargaan dari masing-masing kategori.

Selain Majalah Kampus UNY, Majalah kampus lain yang juga mendapatkan penghargaan adalah Kabar UGM, yang juga dikelola Humas. Karena dua kampus ini berada di Yogyakarta, maka kami sekaligus mengunjungi keduanya.

***
Perjalanan dari Malang melewati Blitar, melalui jalur waterpark-sumberudel, menembus ke Pakel, Srengat, sampai beberapa Kota berikutnya. Perjalanan serupa terakhir kali saya alami ketika kelas IX Tsanawiyah, kala itu ada studi tour ke Candi Borobudur, Prambanan, dan Parangtritis, setelah sebelumnya ziarah wali 8 + Makam Raden Patah.

Bus yang kami tumpangi kali ini masih agak mending. Tempat duduknya bisa diatur agar pantat nyaman. Ada jarak yang agak renggang antar kursi, sandarannya pun bisa ditidurkan. Tidak tercium pula aroma mesin yang membuat perut mual. Wangi, ber-ac, dan ada fasilitas charge.

Kami berhenti sejenak di area transit bus antar kota di daerah Watualang, Ngawi. Kota terakhir di Jawa Timur sebelum masuk ke Solo, Jawa Tengah. Kira-kira jam 2 dinihari, kami makan malam. Meski itu terlalu pagi untuk disebut makan malam.

Lalu melanjutkan perjalanan melewati Solo, berhenti beberapa menit sebelum adzan subuh di Masjid Al Aqsa Klaten. Supir Bus begitu tepat memperkirakan waktunya. Disekitar Masjid ternyata banyak bus pariwisata dan mobil pribadi yang berhenti, disekitarnya pula banyak kamar mandi umum dan penjual yang membuka lapak-lapak dagangan. Subuh itu suasana sudah begitu ramai.

Selepas shalat, kami berpencar untuk mencari kamar mandi umum. Harus antri beberapa saat. Sembari menanti yang lain bersiap, terutama yang perempuan, sebagian dari kami ngopi sejenak di angkringan, sebagian berkeliling lapak-lapak untuk membeli sesuatu. Harganya lumayan terjangkau.

Perjalanan kemudian dilanjutkan ke Candi Prambanan, sembari menanti jam 10 pagi. Sesuai surat yang dikirimkan lewat Fax, kunjungan ke UNY akan berlangsung pukul 10 pagi.

Setelah itu langsung menuju kampus utama UNY, di daerah Karangmalang, dekat Plaza Jogja. Kami berjalan ke gedung rektorat. Disana sudah disambut empat orang, salah satunya kepala Humas sekaligus Pimred Majalah Kampus UNY.

Perbincangan meliputi tata kelola Majalah, serta pelatihan sumber daya manusia. Berbeda dengan majalah yang kami kelola, majalah kampus UNY melibatkan lebih banyak tenaga dosen. Mahasiswa hanya untuk posisi layouter dan karikatur. Sementara di majalah kami, peran mahasiswa begitu dominan.

Berikutnya, perjalanan berlanjut ke Bulaksumur, Kabupaten Sleman. Bus memasuki kampus UGM yang begitu luas, melewati wisma Kagama (Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada), dan terhenti tak jauh dari Graha Sabha Pramana, salah satu gedung fenomenal di kampus UGM yang desainnya mirip joglo sinom.

Agak jauh kami berjalan menuju rektorat, karena ada papan bertuliskan area bebas kendaraan. Sebenarnya disediakan sepeda kampus, namun kami memilih berjalan sembari menikmati rindangnya kampus yang memiliki motto “Pemimpin Peradaban Bangsa” ini. Kampusnya pun sangat bersih. Tak salah jika UGM merupakan kampus impian sebagian besar pelajar di Indonesia.

Di ruang pertemuan, kami disambut tiga orang, termasuk kepala Humasnya, Bu Wiwid. Sebelum memulai diskusi, kami masing-masing mendapatkan Majalah terbaru “Kabar UGM”. Dari jenis kertasnya saja, Majalah ini nampak mewah. Semua halamannya menggunakan kertas art paper, covernya juga art paper, namun gramasinya lebih tebal, teksturnya agak kasar, full colorpula.

Majalah tersebut didistribusikan ke civitas akademika dan alumni. Jaringan alumni UGM termasuk salah satu yang paling solid diantara Perguruan Tinggi lain, sampai memiliki wisma khusus Alumni. Kalau melihat dari segi kualitasnya, majalah itu pastilah mahal biaya produksinya.

Setelah sesi diskusi berakhir, sebagaimana tradisi kebanyakan orang, kami berfoto bersama. Setelah itu perjalanan berlanjut ke rumah makan, baru bertolak ke Masjid Gede Kauman. Selepas menjama’ shalat (jama’ takhir), kami berpencar masing-masing.

Saya jalan kaki menyusuri trotoar Malioboro, singgah ke gedung pusat oleh-oleh. Tiba-tiba, bau kemenyan menyengat hidung. []

Blitar, 1 April 2017
A Fahrizal Aziz

Ahmad Fahrizal Aziz

Blogger dan Aktivis Literasi

Posting Komentar

Tinggalkan komentar di sini, terima kasih sudah mampir.

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak