Yang Khas dari Suatu Daerah


Oleh : Ahmad Fahrizal Aziz


Kuliner khas kini tak lagi benar-benar khas. Misalkan brem madiun. Kita tidak perlu jauh-jauh kesana untuk mendapatkannya, bisa dibeli di toko oleh-oleh terdekat.


Atau bakpia patok yang khas Jogja. Kini bakpia dijual dimana-mana. Tidak perlu ke Jogja, bisa didapat di toko oleh-oleh Semarang, Kudus, Trenggalek, dan lain-lain.


Kuliner khas, seperti batagor dan siomay Bandung, soto Lamongan, kerak telor Jakarta, mie ayam Solo, ayam betutu Bali, dan nasi Padang juga sudah banyak hadir di berbagai kota.


Jadi apalagi yang khas? Waktu dulu ke Bandung, saya mampir pasar baru, ada warung batagor. Rasanya ya sama saja dengan batagor yang dijual di Blitar. Malah penjualnya orang Sukabumi.


Tidak ada lagi yang benar-benar khas. Termasuk sate madura. Kini sate dimana-mana juga ada. Banyak yang sudah meng-copy atau disebarluaskan oleh para perantau.


Apalagi dengan munculnya aplikasi jual beli online. Kita bisa memesan pudak dari Gresik, atau lumpia Semarang, atau bandeng tanpa duri yang diproduksi sekitar pantura.


Yang khas hanya tinggal suasana, dan perasaan kita. Batagor yang rasanya sama, ketika menyantapnya di Kota Bandung dengan di Malang, tentu berbeda. Bedanya pada suasana.


Nasi kucing dan kopi ojos, yang ada juga di sekitaran Sidoarjo, namun beda rasa kalau menikmatinya di Jogja. Begitu pula dengan nasi padang yang asli buatan Bundo dengan Bundo kota lain.


Kalau bepergian keluar kota, mau cari oleh-oleh yang benar-benar khas, yang adanya cuma di daerah tersebut juga susah. Misalkan yang khas di Wonogiri adalah kacang mede, di kota-kota lain kacang mede juga ada.


Tetapi suasana tidak bisa ditawar. Kalau direnungkan lebih mendalam lagi, apa sih yang istimewa dari Jogja? Bagi yang beberapa kali kesana pasti ya biasa saja.


Okelah, Jogja memang melahirkan banyak seniman dan tokoh dalam lintas bidang, seperti Kota Bandung dan Malang. Itu yang spesial. Ada cara merayakan suasana dengan seni. Ada lagu Kla Project yang terkenal.


Jogja tercipta dari rindu, kata orang. Berbagai narasi, angan-angan, dan segala yang dihunjamkan ke benak kita membuat apa yang di Jogja menjadi istimewa.


Itulah hebatnya daya cipta. Jogja spesial karena ada orang-orang seperti itu, yang pandai menarasikan sesuatu, sekaligus mendramatisirnya.


Di Blitar juga ada. Saya bayangkam betapa syahdunya jalanan dari perempatan lovi hingga alun-alun, atau suasana sore yang tenang di pelataran istana gebang. Permainan musik akustik di Ampyteater Makam Bung Karno pada sore dan malam hari yang tentu memukau.


Tak kalah syahdu. Namun hati kita tidak sepenuhnya disitu. Hati kita berada di tempat lain, yang jauh disana, di Jogja, Malang, Batu, Bandung, atau Bali yang menurut kita menawarkan suasana lebih syahdu.


Yang khas, dan benar-benar khas, hanyalah cara kita memaknai suasana.


Begitulah. Salam rindu. []


Blitar, 8 Agustus 2018

Ahmad Fahrizal Aziz

Blogger dan Aktivis Literasi

Posting Komentar

Tinggalkan komentar di sini, terima kasih sudah mampir.

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak