Ritus Kesunyian (11)



****
Pagi itu kelas sudah sepi, para siswa sudah meninggalkan kelas untuk mengikuti olah raga di lapangan. Hanya tersisa Awan, Sofia dan Egar. Mereka tidak mengikuti olahraga pagi itu, karena alasan masing-masing.
“Kamu nggak ikut olahraga, kenapa?” tanya Sofia pada Egar.
Egar tak lekas menjawab, ia malah serius berselancar didunia maya dengan tabletnya itu. Sementara Awan mengamati dari depan percakapan mereka berdua sambil membuka-buka komik kesayangannya.
“Egar, punya telinga nggak sih?” Sofia mulai terpancing emosi, karena beberapa kali pertanyaannya diacuhkan Egar, padahal mereka adalah teman sebangku.
Egar menolehkan pandangannya ke arah Sofia, “Apakah itu penting untuk saya jawab?” jawabnya.
Sofia semakin jengkel, wajahnya terlihat merah murka. Baru dua hari duduk bersama Egar, sudah membuatnya seperti itu, meskipun awalnya Sofia merasa beruntung bisa satu bangku dengan pria itu, tapi melihat sikapnya yang dingin, Sofia pun mengoreksi anggapannya.
“Kamu nggak pernah bisa menghargai orang ya, ditanya baik-baik malah gayanya seperti itu,” ucap Sofia.
“Lalu kenapa Kamu marah-marah?”
Sofia tak mau lagi membalas kata-kata Egar, dengan segera ia berdiri dan meninggalkannya. Sementara Awan masih duduk sambil membaca komik dibangku depan, ia tak berniat mengejar Sofia. Kini hanya ada dia dan Egar di kelas itu.
“Terkadang gadget lebih berharga dari manusia yang bernyawa ya, Bro,” celetuk Awan.
Egar tak menunjukkan ekspresi apa-apa, meskipun ia tahu jika kata-kata itu ditujukan padanya. Ia tak bergeming sedikitpun.
“Secanggih apapun teknologi, ia tak akan mampu menemani kesendirian seseorang,” lanjut Awan.
Kali ini ucapan Awan membuat Egar sedikit gelisah, ia alihkan pandangannya ke arah Awan. Sebuah kata-kata yang membuatnya terusik ; kesendirian?
“Apa kita pernah punya masalah?” tanya Egar.
“Hmm... masalah apa? Sepertinya kita tak pernah punya masalah, justru kamu yang memiliki masalah,” jawab Awan dengan santai.
“Maksud kamu? Saya tidak ada waktu untuk meladeni hal-hal yang sepele seperti ini,” tegas Egar.
“Saya juga tidak ada waktu untuk meladeni manusia yang seperti bukan manusia,” balas Awan.
Egar pun terkesiap, ia letakkan tabletnya diatas meja dan serius memandang ke arah Awan yang sudah memutar tubuhnya menghadap ke arah Egar. Tatapan mata mereka saling beradu.
“Kamu menyebut saya manusia yang tidak seperti manusia?” tanya Egar.
“Ah enggak, siapa yang bilang seperti itu? ya, kalau saja kamu merasa tersindir, mungkin ada sesuatu yang salah dengan diri kamu.”
Egar tak menjawab, dengan malas ia berdiri dan berjalan keluar kelas meninggalkan Awan. Awan pun melakukan hal yang sama, ia beranjak dari duduknya, menyusul Egar. Jujur saja, ia ingin tahu lebih dalam tentang kepribadian Egar yang sangat misterius tersebut.
Sementara Egar berjalan menuju kantin sekolah, memesan segelas mocca dan duduk sambil melanjutkan aktivitasnya berselancar didunia maya, membaca situs-situs berita dan artikel-artikel yang dapat menambah wawasannya. Awan mengikutinya sampai ke kantin sekolah, lalu ia memesan segelas mocca dan berjalan ke arah Egar.
“Boleh aku duduk disini?” tanya Awan.
Egar tak menjawab, ia tetap fokus membaca.
“Kak Refan, boleh duduk disini?” lanjut Awan.

Ahmad Fahrizal Aziz

Blogger dan Aktivis Literasi

Posting Komentar

Tinggalkan komentar di sini, terima kasih sudah mampir.

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak