Tuhan menciptakanmu untuk menghapus airmatanya


Ilustration

Perempuan, mereka bisa leluasa menangis saat ada masalah yang mendera, atau saat ada peristiwa yang mengharukan. Hal yang susah dilakukan oleh laki-laki. Perempuan bisa dengan mudah memeluk temannya dan mengutarakan segala keluh kesah di hatinya? Tapi laki-laki? Tidak bisa seperti itu. dan memang tidak banyak laki-laki yang ingin bersikap seperti itu, begitu pun aku.

Namun menjadi laki-laki ternyata tidak mudah. Ia bisa memendam banyak hal dalam hidup ini. Stigma negatif kadang akan muncul ketika ia tak memendamnya ; cengeng, banci, manja dan lain sebagainya. Kadang tak sedikit yang mencoba melupakannya, menguburnya dalam-dalam. Bahkan, jikalau memungkinkan, ia pasti akan meminta kepada Tuhan agar “melumpuhkan ingatannya” tentang masalah-masalah itu. Berat sekali.

Keduanya memiliki kelemahan dan kekurangan masing-masing. Laki-laki lebih bisa menyimpan rahasia, tapi perempuan? Tidak semua bisa. Tapi perempuan bisa langsung mengurangi beban hidupnya dengan bercerita, dengan itu orang disekitarnya bisa lekas memahami dia. Tapi laki-laki? Kadang ia harus beradaptasi. Memilih menderita dengan gejolak terpendam, daripada mengumbar permasalahan yang ada. Akhibatnya cukup fatal ; miras, narkoba, minimal rokok atau kopi. Tapi tidak semua begitu. Ada juga yang memilih jalan yang lebih aman ; sastra. Jangan dipikir karya sastra hanya reka-reka, aku sering menuliskan permasalahan hidup melalui sajak-sajak yang ambigu. Rasanya akan lega ketika ada yang membaca, meskipun tak menyelesaikan masalah yang ada.

Dalam lamunan itu, kadang aku berfikir, Apakah harus begini sebagai laki-laki? Ingin aku seperti perempuan, yang dengan mudah mengumbar keluh kesah. Bagi kalian mungkin aneh, jangan-jangan aku terlalu melankolis? Eh, atau mungkin aku seorang homoseksual yang berkeinginan menjadi perempuan? Terserah. Apapun persepsi itu. aku tak pernah peduli.

Sampai suatu ketika ada seorang perempuan datang padaku, dia cukup cantik, anggun dan sorot matanya tajam. Ada buih yang menepi dimatanya. Hmm... perempuan itu adalah pacarku. Lucu ya? Aku memang pernah pacaran. Tidak sekali dua kali, tapi berkali-kali.

“Mas,” sapanya.

“Iya, kamu kenapa, dek?” tanyaku.

Dia tak menjawab, langsung dia berlari ke arahku dan sejurus kemudian merebah dalam pelukku. Tangisnya tersedu. Ada apa? Ada masalah apa? Aku was-was. Kita belum muhrim. Takut orang lain melihat dan menimbulkan fitnah. Dalam rebahan itu, ia bercerita banyak hal. Tentang keluarganya yang mulai tak akrab lagi. Tentang Ayah Ibunya yang memutuskan untuk berpisah. Kompleks sekali. Aku menenangkan dengan membelai lembut rambutnya.

“Kenapa hidup ini tak adil bagiku?” keluhnya sambil terus menangis.

Aku memeluknya dengan erat, mencoba memberikan ketenangan yang berlebih. Tak peduli lagi tentang kehalalan itu. Ini adalah saat dimana laki-laki –apalagi seorang kekasih—akan sangat dibutuhkan.

“Dek, hidup ini memang tak seindah surga. Tapi aku ada disini untuk kamu, mari kita ciptakan keindahan itu. Menangislah, jika itu bisa membuatmu lebih baik. Aku akan selalu menemani,” ucapku.

Memang. Perempuan butuh ini semua, ia butuh pelukan, butuh kata-kata yang menguatkan. Laki-laki tak terlalu membutuhkannya. Lagi-lagi aku berfikir. Bagaimana jadinya jika aku memiliki sifat seperti dia? Aih, aku baru tahu. Laki-laki punya caranya sendiri untuk mengobati kesedihannya, tak perlu pelukan.

Hmm.. aku tak boleh ikut menangis, bukan? Saat dia menangis dalam pelukanku, aku harus menguatkannya. Sejurus kemudian ada sebuah bisikan,”Tuhan menciptakanmu, untuk menghapus airmatanya.” Aku tercenung. Terdiam, seperti berdiri dalam keheningan. Sementara dia terus menangis dalam pelukanku. Aku semakin erat mendekapnya.


Blitar, 1 12 13
A Fahrizal Aziz

Ahmad Fahrizal Aziz

Blogger dan Aktivis Literasi

Posting Komentar

Tinggalkan komentar di sini, terima kasih sudah mampir.

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak