Prof. Amin Abdullah, dan Catatan Seorang Difable



Kenapa tidak dari dulu saja saya kuliah disini, ya? tulisnya kepada saya melalui pesan singkat. Sebelumnya, dia menceritakan beberapa fasilitas yang memudahkan dia untuk kuliah disana, mulai dari pelayanan administrasi, hingga fasilitas gedung lainnya. Di Masjid, ada tangga khusus (bukan tangga sebenarnya, tapi disebut Ram), begitu pun di gedung-gedung lainnya. Hal ini membuat dia yang sedikit mengalami kesulitan untuk menaiki tangga, bisa dengan mudah mengakses lokasi.

Juga ketika harus mengurusi hal-hal administratif lainnya, ada bahkan yang tuna daksa dan tuna netra, namun bisa terlayani dengan baik melalui PLD (Pusat layanan Difable). Maka tak heran jika di kampus itu, kita bisa mendapati banyak mahasiswa difable, yang memiliki kekurangan dari segi fisik.

Setahun yang lalu, saya mendengarkan seminar yang dibawakan Prof. Amin Abdullah, meski seminar tidak merujuk secara khusus dalam social work, tapi beliau sedikit menyinggung tentang itu.

Kata Prof. Amin ketika menjadi rektor, dia prihatin dengan banyaknya anak bangsa yang cerdas dan berkompeten, namun kurang memiliki kesempatan untuk belajar karena keterbatasan fisik. Akhirnya, beliau mengirim dosen-dosen untuk kuliah dalam bidang social work selama enam tahun di Canada, khusus untuk mempelajari difable. Setelah kembali, dibukalah pusat layanan difable disana dan banyak anak-anak difable yang berani melanjutkan kuliah tanpa perlu takut kerepotan atau merepotkan banyak pihak.

Menurut Prof. Amin, ini salah satu kemasan hermeneutik. Menurutnya, Islam harus mampu menjawab persoalan ummat dan keberpihakan terhadap kaum mustadafin (dalam hal ini kaum difable). Islam harus menjadi solusi.

Gagasan Prof. Amin yang mendirikan pusat layanan difable ini sama sekali tidak mendapatkan tantangan tajam, meski disebut sebagai kemasan hermeneutik. Berbeda ketika beberapa tokoh berbicara soal hermeneutik, dan obyeknya adalah pluralitas. Maka akan langsung mendapatkan serangan berupa labeling liberal, fasiq, sesat, bahkan kafir.

Sama ketika (Alm) Dr. Moeslim Abdurrahman bicara soal kemiskinan dan keberpihakan terhadap petani, tidak ada satu pun yang mendebat. Meski Dr. Moeslim mengatakan jika itu adalah kemasan hermeneutik juga. Namun ketika Dr. Moeslim berbicara tentang syariat Islam, beragam label langsung disematkan padanya.

Tapi biar saja, seiring waktu, seiring manusia memahami banyak hal secara substansial dalam hidup ini, semakin dia tidak akan mudah melabeli orang lain. Termasuk gagasan Prof. Amin Abdullah tentang pusat layanan difable tersebut. Untuk berbuat baik, orang tidak membutuhkan pujian.

Dan kita semua pasti tahu mana kampus yang memiliki pusat layanan difable itu. Mana lagi kalau bukan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. (*)

Ahmad Fahrizal Aziz

Blogger dan Aktivis Literasi

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak