Untuk Rayyan (Bagian I)




Gemuruh penonton terdengar dari luar gedung home teater sekolah. Aku pun berjalan cepat menuju tempat itu, lima menit lagi pertunjukan dimulai. Sepasang siswa, berseragam batik, menyambutku dengan senyum ramah, meminta tiket dan menyuruhku menulis nama di buku tamu.
 
Ilustrasi
“Sudah dimulai?” tanyaku.

“Belum, masih ada pembukaan dulu dari Glass Band,” jawab salah seorang dari mereka.

Aku menerima satu kardus roti dan sebotol air mineral, kemudian berjalan masuk, melewati lorong penonton VIP. Aku memang mendapatkan undangan VIP untuk pertunjukan hari ini.

Di kursi VIP, ada tiga yang kosong.

“Hey Rayyan, akhirnya kau datang juga,” seorang lelaki menyambutku, dia Tara, teman satu angkatan yang kini memilih berkarir disebuah EO. Rambutnya masih gondrong, kumis dan jenggotnya semakin lebat. Setelah lulus SMA, sepertinya dia semakin tak mempedulikan penampilannya.

Kami saling berpelukan erat. Sudah hampir setahun ini kami tak bertemu, karena kesibukanku di Jogja.

“Kau makin rapi saja,” pujinya. Entah pujian atau apa, seingatku dia memang tidak pernah suka dengan kerapian.

Aku duduk disampingnya. Sebelum acara dimulai, kami terlibat perbincangan. Suara kami beradu dengan gemuruh penonton dan iringan musik. Sampai tiba pertunjukkan dimulai.

Aku melirik selembaran pamflet pertunjukkan. Tokoh utamanya Fredo, sekaligus penulis skenario. Sutradaranya Rachel. Fredo adalah adik kelas dua tingkat di bawahku. Sekarang dia sudah kelas XII, dan mungkin ini adalah pertunjukan terkhirnya sebagai pelajar putih abu-abu. Sejak lulus dan pindah ke Jogja, aku tak pernah menghubunginya, dan dia pun juga tak menghubungiku.

Pertunjukkan kali ini live narrator. Bukan lipsing. Judul pertunjukkannya ‘bayang-bayang kekasih’. Fredo masuk diawal, dengan background danau diantara senja dan pegunungan, ditambah instrument biola ‘Game of Thrones Theme’ dari Taylor Davis, Fredo melakukan self-naration dengan bagus sekali. Intonasinya jelas, artikulasinya merasuk.

Bagaimana rasanya mencintai seseorang yang hanya bayang-bayang?

Kalimat itu terasa sangat menyentuh. Ditambah instrument lagu yang makin menusuk. Ini seperti membaca puisi, tanpa melihat naskahnya. Instrument kemudian berganti, masuk pula seorang perempuan cantik jelita, wajahnya putih, pipinya merah, dengan balutan selendang biru. Perempuan itu kutahu dari Tara, bernama Kiswi, siswi kelas XI IPA 3 yang sangat bertelenta.

 Dialog pun terjadi.

“Semakin banyak orang mencari sesuatu, yang sebenarnya sudah mereka miliki. Semakin banyak orang yang merasa kesepian, padahal ia dikelilingi banyak orang. Karena bayang-bayang yang ia ciptakan, ilusi yang ia kehendaki sendiri,” ucap Kiswi.
“Apa Maksudmu?” tanya Fredo.

Kiswi tak langsung menjawab. Ia menari gemulai mengitari Fredo, lalu mendekat dan menatap mata Fredo dengan lekat. Kiswi membelai lembut dada Fredo sambil berkata.
“Yang ada adalah ada,” jawab Kiswi, “Bukan yang tidak ada. Bukan bayang-bayang yang hanya bisa kau lihat, tapi tak bisa kau sentuh. Bukan imajinasi yang kau kagumi tapi tak pernah terjadi,” lanjutnya.

Fredo pun memegang kedua tangan Kiswi dan melepaskannya.

“Apa itu kekasih?” tanya Fredo ke arah penonton. Sekilas, ia melihatku. Mata kami saling bersitatap cukup lama. Aku tersenyum, sembari mengangkat satu tanganku, isyarat pujian atas penampilannya.

“Kekasih adalah orang yang kita cintai, meski yang kita cintai itu tidak ada dan tidak bisa kita miliki,” lanjutnya sambil masih menatapku.

“Apa?” Kiswi nampak terkejut.

“Ya. Kekasih itu bukan yang selalu ada. Tapi yang kau cintai. Yang ada belum tentu kau cintai, yang tidak ada bisa jadi cinta sejatimu. Cinta. Kekasih. Seseorang yang menjadi alasan kenapa kau tetap bernafas hingga saat ini.”

Instrument pun berganti. Delapan orang masuk, melakukan tarian zumba dengan tempo agak melambat. Drama berikutnya, Kiswi terduduk di sebuah batu dekat danau sambil menangis, sementara Fredo pergi meninggalkannya sambil berkata : Aku hanya ingin jatuh cinta pada kekasih yang aku cintai.

Para penari ikut pergi bersama Fredo. Suara gemuruh hujan berdatangan, ditambah instrument ‘Zelda Medley’. Lima perempuan datang menghampiri Kiswi, mencoba menghiburnya dan mengajak pergi dari danau, kemudian adegan berganti lagi.

Pertunjukan berlangsung selama 30 menit. Sebuah pertunjukan yang menakjubkan. Dialog-dialognya sangat filosofis. Pentonton gemuruh bertepuk tangan.

***
Selesai pertunjukkan, kami berkumpul di belakang panggung. Evaluasi bersama. Bagaimanapun juga, aku adalah senior kelompok teater ini. Selain aku, senior lain yang hadir adalah Tara, Geger, Syuman, Rudi, Qibty, dan Nrimo. Tara, Rudi, Syuman dan Geger masih setia membina mereka, karena tidak kuliah keluar kota.

“Fredo dan Kiswi, kalian sangat sempurna,” puji Syuman. Akupun turut memberikan applausekepada mereka.

Setelah evaluasi berakhir, aku dan senior lainnya duduk berbincang di kantin sekolah. Nostalgia. Setahun tak bertemu, rasanya seperti sudah lama sekali. Dari semua senior, nampak aku yang paling rapi.

Pagi ini, sesampainya dari stasiun aku langsung ke home teater sekolah. Perjalanan dari Jogja ke Blitar yang cukup melelahkan. Namun rasa lelah itu terobati dengan pertunjukkan dari Fredo, serta perbincangan hangat dan sedikit gila dari senior-senior teater.

Di sela-sela perbincangan, Fredo setengah berlari dan mengampiri kami.

“Ah, ternyata disini,” ucapnya sambil tersengal. Fredo kemudian bergabung dengan kami, dan satu jam kemudian yang lainnya membubarkan diri. Tinggal aku dan Fredo yang ada di kantin ini.

“Di Blitar sampai kapan, kak?” tanyanya.
“Aku besok sore harus kembali ke Jogja, karena senin ada kuliah,” jawabku.
“Cepat sekali.”
“Ya. Ini aku sempatkan hadir demi kamu.”
Fredo tertawa kecil.
“Darimana dapat ide cerita seperti itu?” tanyaku.
“Panjang ceritanya. Nanti malam ada acara? Sudah lama aku nggak ngajak kakak makan siomay dekat stasiun itu.”

“Hmm..” aku melirik jam, sebenarnya aku lelah sekali. Malam ini ingin rasanya aku instirahat di rumah. “Main ke rumah aja, rumahku sepi,” lanjutku.

“Rumah kakak memang selalu sepi,” responnya cepat.

Aku hanya tersenyum kecil. Dulu Fredo memang sering ke rumahku, apalagi pas awal dia ikut teater. Aku adalah mentornya. Rumahku memang sepi. Ayah baru saja dirotasi ke Kemenakertrans dan harus berkantor di Jakarta, sementara Ibu selalu sibuk dengan seminar dan penelitian diluar daerah, karena bekerja di lembaga penelitian. Adik sulungku di Pesantren, dua kakakku sudah menikah dan hidup diluar kota.

“Sudah lama kamu nggak nginap di rumahku, sekalian temenin aku nanti,” lanjutku sambil pamit pulang.

Bersambung ... 

By A Fahrizal Aziz

Ahmad Fahrizal Aziz

Blogger dan Aktivis Literasi

Posting Komentar

Tinggalkan komentar di sini, terima kasih sudah mampir.

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak