Buya Syafii, "Wasilah" Saya Ikut Muhammadiyah




Seperti biasa, saya berkunjung ke Perpustakaan Bung Karno Jumat siang, membaca koran atau majalah.

Majalah yang saya ambil pertama biasanya Rolling Stone atau Horison, tidak semua isinya dibaca, memilih beberapa saja.

Setelahnya, baru mengambil koran atau Majalah lain, ada Kompas, Jawa Pos, Majalah Tempo dan Gatra.

Dulu ruang koran dan majalah ada di lantai 1, sekarang pindah di lantai 2.

Itu sekitar tahun 2009, di penghujung masa SMA. Ada tulisan Buya Syafii Maarif di Kompas, saya lupa judulnya, hanya ingat di bagian bawah nama tertera keterangan: Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah.

Saya membaca isinya, meski tak terlalu paham, namun gaya menulis Buya itu menarik; ada sisi akademik, ada letupan opini yang menantang pikiran, dibalut dengan gaya semi sastrawi.

Meski belum paham, namun enak dibaca, dan mungkin itulah pertama kali saya membaca tulis Buya Syafii Maarif.

###

Lalu saya berjumpa lagi dengan buku yang beliau tulis, saya tidak ingat pasti judulnya. Antara dua buku ini, Peta Bumi Intelektualisme Islam di Indonesia atau Menerobos Kemelut.

Saya lupa mana yang saya baca terlebih dahulu, namun dari buku tersebut saya menemukan keasyikan membaca tulisan yang "agak berat".

Gaya menulis yang mengalir, kritis dan tidak membosankan, meskipun isinya cukup berat.

Buku itu saya pinjam di Perpustakaan Kampus, awal kuliah dahulu, dan itulah awal ketertarikan masuk Muhammadiyah.

###

Dalam benak saya kala itu, Muhammadiyah adalah organisasinya orang tua. Jadi, mana mungkin mahasiswa bisa bergabung?

Saya malah hendak bergabung dengan HMI karena merasa organisasi itu representasi Muhammadiyah.

Sedikit banyak saya tahu HMI ya dari tulisan Buya Syafii Maarif di buku tersebut. Buya menulis tentang Masyumi, HMI dan pendirinya, Lafran Pane, yang sekaligus dosennya saat menempuh doktorandus di IKIP Yogyakarta (sekarang UNY) selepas lulus dari Universitas Cokroaminoto.

Namun takdir kemudian membawa saya masuk ke IMM, lebih karena nama "Muhammadiyah" di belakangnya, bukan karena saya paham apa itu IMM dan bagaimana arah geraknya.

Kala itu--yang terlihat secara serius--membahas pemikiran-pemikiran Islam adalah IMM, figur penggeraknya yang terkenal di Malang adalah Pradana Boy ZTF, dosen UMM dan senior IMM Tamaddun.

2010, saat saya mahasiswa baru, Buya Syafii Maarif juga datang ke Malang untuk sebuah seminar yang digelar PSIF UMM.

Agenda-agenda seperti itulah yang membuat saya "betah" di IMM, dan pelan-pelan mulai mempelajari pemikiran dan gerakan Muhammadiyah.

Menemui Buya di Perpustakaan

Perpustakaan kampus berlangganan koran Republika, ada kolom bernama Resonansi dan secara reguler tulisan Buya Syafii Maarif tayang disitu bersama sederet kolomnis lain seperti Azyumardi Azra, Nasihin Masha dan lainnya.

Itulah momentum menarik setiap pagi atau disela break kuliah, "menemui" Buya Syafii Maarif di Perpustakaan melalui pikiran-pikiran yang tertuang di resonansi.

Buya banyak mengutip pemikiran tokoh dunia, salah satu yang menarik perhatian saya adalah saat ia mengartikulasikan pemikiran A.J Toynbee tentang peradaban eropa ibarat bergantung pada dahan yang lapuk.

Buya juga menginspirasi saya untuk menulis opini, belajar menulis esai setelah sebelumnya berkutat pada berita, cerpen dan puisi.

Setelah masuk IMM, energi itu semakin kencang, beberapa workshop kepenulisan saya ikuti, komisariat pun kerap mendelegasikan saya ke acara-acara sejenis itu.

Api intelektual itu semakin menyala dengan maraknya diskusi diskusi di internal IMM, Resist dan PSIF, atau diskusi formal bertajuk Pra-Muktamar, Kuliah Umum dan sebagainya.

Saya pun mulai belajar menulis opini dan dikirim ke media lokal seperti Koran Pendidikan.

Salah satu referensi utama saya ya karya Buya Syafii Maarif, tokoh-tokoh yang saya kutip ya berdasar pada tulisan beliau.

Sejak membaca tulisan Buya, saya jadi "mengenal" banyak nama intelektual dunia seperti Samuel P. Huntington, Noam Chomsky, Francis Fukuyama, A.J Toynbee, Fazlur Rahman, hingga kutipan-kutipan dari sastrawan M. Iqbal.

Kadang saya merenung bagaimana kemudian bisa masuk Muhammadiyah, melalui IMM, padahal sama sekali tidak memiliki latar belakang keluarga atau pendidikan Muhammadiyah.

Bagaimana yang mulanya mau ikut HMI setelah membaca tulisan-tulisan Buya Syafii Maarif, lalu justru ikut IMM dan masih terus membaca karya-karya Buya.

Di kedai kopi kadang-kadang saya dan teman HMI bertukar pikiran soal gagasan-gagasan dari pemikir Islam. HMI punya tokoh sekaliber Nurcholish Madjid (Cak Nur) yang selalu dibanggakan sebagai perumus NDP yang fenomenal itu.

Saya sebagai kader IMM, "patron" intelektualnya ya Buya Syafii Maarif. Padahal Buya bukan jebolan IMM, karena saat Buya kuliah IMM belum lahir.

Buya adalah tokoh Muhammadiyah, dan IMM adalah Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah.

Bagaimana bisa kemudian saya bergabung dalam organisasi Muhammadiyah "hanya karena" penasaran dengan sosok Buya Syafii Maarif yang tulisannya banyak saya baca dan kebetulan beliau adalah tokoh yang pernah mejabat sebagai ketua umum PP Muhammadiyah?

Mungkin itu jalan masuk saya ke Muhammadiyah, sebuah takdir ilahi.

Maka ketika tersiar kabar Buya Syafii Maarif meninggal, dunia serasa sunyi, saya termenung cukup lama, aktivitas apapun terhenti.

Saat membuka facebook, ungkapan bela sungkawa pun terus mengalir dan trending. Itu membuat saya tak bisa menahan air mata, sesenggukan di dalam kamar dan berulang kali mencabut tisu. []

Blitar, 29 Mei 2022
Ahmad Fahrizal A.

Posting Komentar

Tinggalkan komentar di sini, terima kasih sudah mampir di blog ini ya.

Lebih baru Lebih lama