Tumbuh Suburnya Pegiat Literasi di Blitar, Apakah Akan Berdampak Baik?

Salah satu event parade puisi yang digelar FLP Blitar.

Jumlah pegiat literasi di Blitar sepertinya mengalami pertumbuhan yang cukup signifikan. Diksi "literasi" setidaknya sering digunakan dan semakin familiar.

Ini kabar menggembirakan, bahwa kepedulian untuk menumbuhkan minat baca misalnya, semakin tinggi, bahkan dibungkus lewat lembaga, komunitas hingga gerakan bersama.

Ahad lalu (8/5) saat saya berkunjung ke rumah Pak Budi Kastowo, Pustakawan perpustakaan Bung Karno itu menceritakan tentang munculnya suatu gerakan literasi yang kedepan bisa berkolaborasi dengan banyak elemen, termasuk negara.

Dari perbincangan itulah saya jadi teringat beberapa kali telepon dari Pak Rengga (Rumah Merdeka Kafe) yang juga membahas hal tersebut.

Ternyata itu satu ide besar yang didalamnya disokong oleh para pegiat senior dengan visi kedepan untuk membangun Blitar melalui literasi.

Ingatan di tahun 2008

Di tahun 2008, saya menjadi salah satu panitia pendirian Forum Lingkar Pena (FLP) Cabang Blitar.

Sebelum peresmian digelar, kegiatan "safari" dilakukan dengan mengunjungi beberapa tokoh di Blitar. Salah satu yang saya ikuti adalah pertemuan dengan Kyai Shodiq Pondok Ngegong.

Menurut beliau, mendirikan komunitas menulis di Blitar itu agak sulit karena "lahan kering", berbeda dengan Malang atau Surabaya.

Lahan kering yang dimaksud karena Blitar bukan daerah rujukan pendidikan, satu-satunya yang "basah" adalah UPT Perpustakaan Bung Karno yang merupakan Perpustakaan skala Nasional.

Namun saat peresmian pada 31 Agustus 2008, pesertanya meluber hingga ke luar aula, seluruh tiket terjual habis. Tak terpikirkan jika antusiasmenya begitu tinggi.

Salah satu peserta, seingat saya pejabat STIT Al Muslihun, menyampaikan jika lahirnya FLP di Blitar ini punya daya tarik tersendiri karena belum ada komunitas yang khusus tentang kepenulisan di Blitar.

Agenda bersama anggota baru di Kampung 1001, Sawentar, Kanigoro.


Itu di tahun 2008, ponsel pintar belum menjamur seperti saat ini, orang masih terbiasa dengan sms, komputer pentium, dan hanya segelintir saja yang mengakses internet itupun di warung internet.

Buku-buku (kemungkinan) besar masih dibaca dan menjadi referensi utama.

Komunitas hidup dan mati

Namun setelah FLP Blitar berdiri, tahun berikutnya saya harus hijrah ke Malang selama 7 tahun.

Kondisi FLP Blitar ternyata juga antara hidup dan mati, ada dan tiada. Tak seheboh awal berdirinya dulu.

Mendirikan suatu perkumpulan ternyata lebih mudah daripada mempertahankannya.

Sejak saya kembali ke Blitar pada pertengahan 2015, FLP Blitar sedang vakum.

Lalu, saya dan beberapa teman antara lain, Ahmad Saifudin (sekarang dosen UNU Blitar), Alfa Anisa, Mbak Lilik Nuktihana (Guru SD Aisyiyah Jatinom), Rere dan sederet teman lainnya mencoba mengaktifkan kembali FLP Blitar.

Salah satu agenda pertemuan di lantai II Perpustakaan Bung Karno.


Saat itu ada dua opsi untuk tetap menggunakan wadah FLP Blitar atau membuat wadah baru bernama Komunitas Penulis Blitar. Akhirnya dua opsi itupun diambil semua.

Dalam perkembangannya kami pun bertemu Pak Budi Kastowo, Pak Purwodarsono, teman-teman LPM, dan sederet orang yang mendukung eksis kembalinya FLP Blitar.

Beragam agenda digelar, termasuk menjalankan sistem organisasi agar ada regenerasi setiap 2 tahun sekali.

Sejak aktif kembali pada 2015 hingga sekarang 2022, FLP Blitar sudah berganti ketua sebanyak 4 kali.

Musyawarah cabang FLP Blitar di Unisba, 2017.

Selain kegiatan mingguan belajar tentang kepenulisan, kadang ada agenda menerbitkan buku bersama, siaran radio, menggelar event kesenian, hingga bakti sosial atau kampanye membaca menulis ke sekolah-sekolah.

Sebagai wadah untuk menampung karya pemula, dibuatlah blog www.flpblitar.com

Namun karena "hanya" komunitas, ketika dilanda pandemi kemaren dan segala aktivitas tatap muka dibatasi, FLP Blitar juga agak macet.

Karena namanya komunitas itu sifatnya sukarela, digerakkan oleh passion, kesamaan minat dan rasa tanggung jawab masing-masing. Tidak bisa dipaksa, apalagi diintruksi melalui surat edaran.

Meriahnya pegiat literasi

Saat ini, pegiat literasi di Blitar tumbuh subur. Mulai dari Perpustakaan Jalanan (Perjal), Taman Baca Masyarakat (TBM), hingga kelompok diskusi.

Ada yang sifatnya komunal, atau personal, hingga aksi kolaborasi berbasis event bersama.

Event kolaborasi Hari Puisi di Istana Gebang, 2017

FLP Blitar sendiri memang lebih fokus pada kegiatan kepenulisan dan keorganisasian, khususnya sebagai wadah belajar menulis untuk para pemula.

Maka ada yang mengkritik jika karya dari anggota FLP Blitar banyak yang masih mentah. Ya, wajar karena sebagian dari mereka baru memulai menulis, karya mereka diunggah ke www.flpblitar.com sebagai wujud perayaan.

Karya perdana sebaiknya dirayakan dulu, didukung bersama, dan didorong untuk terus berkarya.

Meskipun sama-sama sebagai komunitas literasi di Blitar, namun FLP mengambil "lahan" berbeda, yang berfokus pada kepenulisan, dan bukan perpustakaan.

FLP Blitar bahkan tak punya kantor, tak punya perpustakaan komunitas, hanya sebatas simpul atau lingkar kecil yang ingin terus bergerak.

Pertemuan biasanya digelar di Perpustakaan Bung Karno, di warung kopi, di taman kota, atau di rumah salah satu anggotanya.


Untuk apa gerakan literasi di Blitar?

Literasi itu sebenarnya luas, tak hanya milik komunitas literasi. Dalam aspek apapun, semua perlu literasi sebagai basis pengetahuan dasar.

Kadang-kadang muncul otokritik tersendiri di kalangan komunitas literasi, bahwa sekalipun dekat dengan buku, punya koleksi buku dan hidupnya identik dengan buku, namun belum tentu membacanya.

Sehingga, literasi perlu melalui 3 tahap penting yaitu:

Pertama, tahap penyediaan bacaan, dalam hal ini termasuk menyediakan buku-buku untuk dibaca masyarakat. Di era digital seperti sekarang ini, bacaan lebih bervariasi, bisa dalam bentuk digital atau portal website.

Kedua, tahap pengkajian. Makanya penting forum diskusi untuk mematangkan pemahaman, mendialogkan gagasan dan menarik kesimpulan.

Dalam konteks kedua ini, "membaca" bukan sekadar dari apa yang tertulis, namun juga dari yang tak tertulis untuk kemudian menjadi ide, gagasan dan tulisan baru.

Tahap ketiga adalah aksi. Untuk apa gerakan literasi ini? Apakah untuk--seperti yang dipopulerkan negara--kesejahteraan sosial berbasis inklusi sosial, atau untuk keadilan berbasis kebijakan yang sesuai kepentingan masyarakat.

Namun kesejahteraan juga tak melulu diukur dengan uang. Hidup sejahtera adalah hidup yang seimbang, bisa memenuhi kebutuhan diri, relasi sosial yang baik dan rasa aman.

Menghadiri undangan dari KPU Kota Blitar.

###

Ini menjadi tantangan besar karena penggunaan diksi "literasi" memikul tanggung jawab sosialnya tersendiri.

Semakin tinggi tingkat literasi, masyarakatnya pun semakin kritis melihat persoalan karena punya basis pengetahuan yang baik.

Saya pribadi agak takut menggunakan kata "literasi" karena ekspektasinya begitu tinggi.

Maka, dalam memilih nama komunitas, sebisa mungkin menghindari kata literasi, seperti Forum Lingkar Pena, Komunitas Muara Baca, Paguyuban Srengenge, dan terakhir ruangrasa.id

Tugas menghidupkan literasi pun sebenarnya, secara formal, tak terbatas pada Dinas Perpustakaan yang dalam nomenklaturnya dijadikan satu dengan Arsip.

Menghidupkan literasi adalah tugas bersama, suatu cita-cita besar, dan kita bersyukur karena sekarang diksi "literasi" semakin populer. []

Blitar, 11 Mei 2022
Ahmad Fahrizal A.

Posting Komentar

0 Komentar