Kenapa Kita (Selalu) Ingin Terlihat Hebat?




Apa kita akan sempat menjadi orang hebat?

###

Di era sosial media, banyak orang mengunggah beragam pencapaian, kiprah dan seturut prestasi lain yang menurutnya perlu dibagikan.

Mungkin ekspresi keberhasilan hidup, ada dinamika yang terus naik.

Memang tidak keliru, siapa sih yang tak ingin jadi orang hebat? Bahkan sebatas terlihat hebat pun sudah menggembirakan diri sendiri.

Saya pun juga mengalami hal tersebut. Ingin menunjukkan pencapaian yang berarti, berbagi aktivitas ini itu, karya ini itu dan lain sebagainya.

Namun entah kenapa, tiga tahun belakangan ini, pikiran itu sedikit berubah.

Alih-alih ingin terlihat paling wah, justru seperti malah menikmati kondisi tidak ingin menunjukkan apapun.

Pikiran tersebut tak berarti menghentikan segala aktivitas. Masih kerap menulis, mengurus organisasi, ikut beragam program, menyanggupi ajakan ngopi, dan ya ... segala aktivitas rutin lainnya.

Semua seperti berjalan biasa saja, meskipun kadang ada sedikit pujian, soal tulisan misal, soal sikap, perspektif atau prestasi non akademik lainnya.

Bukan berarti tak disyukuri, tentu bersyukur dan sedikit berbangga pada diri sendiri sambil membatin: ternyata bisa ya.

Untungnya, sejak lama sudah memahami arti tahu diri, sehingga tak begitu punya ekspektasi atau perbandingan dengan siapapun.

Mengingat siapa sih diri saya? hanya orang biasa. Terkesan apolite, di tengah gemuruh manusia yang memoles dirinya di bio instagram agar terlihat keren-menawan sehingga layak open endorse.

###

Meski demikian, orang kerap kali menilai elitis, dari profiling sekilas. Beberapa kali itu terjadi, dan ya biarlah.

Seiring berjalan, sebagian dari mereka berujar: dulu saya agak takut kenal sampean.

Takut dalam arti, bukan seperti takut bertemu hal menyeramkan, takut untuk menyesuaikan sikap.

Berarti betul kata Borges, hidup manusia adalah kutipan terbuka, dan orang bisa dengan bebasnya mengutip sisi mana menurut pandangan mereka.

Terkadang, justru yang tak terlalu menunjukkan siapa dirinya, adalah sosok misterus.

Tiga tahun terakhir, facebook saya sebatas jadi tempat mengintip. Instagram sesekali menjadi tempat untuk narsis, namun intensitas untuk "berbagi kiprah" itu jauh berkurang.

Buat apa, saya pikir. Lagipula, banyak teman yang kiprahnya jauh lebih hebat.

Misal, mereka yang dekat dengan kekuasaan justru tak pernah tampak berfoto dengan pejabat pemegang kekuasaan tersebut.

Sementara saya, yang bertemu mungkin hanya sekali itu saja, berfoto ria dan mengunggahnya ke sosial media untuk menunjukkan satu pencapaian penting: berfoto dengan pejabat.

Namun ada benarnya juga, pejabat itulah orang pentingnya, sementara saya hanya ingin terlihat penting.

##

Kadang menjadi "bukan apa-apa" itu asyik juga, kita tak perlu membatasi peran karena merasa punya kiprah ini itu.

Saat kita merasa sudah hebat, justru semacam ada batasan dalam melihat sesuatu.

Orang lain kadang kita anggap kurang representatif dibanding kita.

Padahal, semua orang berhak bersuara, termasuk dengan kelucuan dan keluguan mereka. Kadang itulah suara sebenarnya dari realitas.

Padahal, dengan tidak sebagai "apa-apa", kita bisa leluasa mendengar, dan juga bebas berbicara.

Tak dihalangi oleh pagar-pagar ekspektasi, saat bicara lalu tidak sesuai harapan pendengar, pasti akan muncul anggapan: latar belakangnya begini kok statementnya begitu ya.

Belum lagi ekspektasi yang berupa: kukira dia hebat, ternyata biasa aja.

Bahkan saat diam pun akan dipertanyakan: kok anda diam saja, anda kan sudah berkiprah, jadi harus berpendapat dong.

Bayangkan ketika orang tak merepresentasikan kita "apa-apa", kita mungkin lebih santai, orang lain pun juga lebih bebas berkata-kata.

Saat itulah kita mungkin akan menemukan paradoks dan humor kehidupan yang nyata.

Namun bukan berarti memiliki identitas sosial itu keliru, bukan berarti kita dikenal sebagai "apa dan siapa" adalah suatu kesalahan.

Barangkali itu bagian dari apresiasi hidup, applause atas kiprah dan karya yang telah kita hasilkan.

Meskipun, sebagai apa kita dimata orang lain juga bisa bermacam-macam.

Saya dimata orang lain mungkin dikenal sebagai seorang pembaca, pegiat literasi, penulis (mungkin) atau aktivis.

Namun dimata Ibu, mungkin saya hanya seorang anak lelaki yang beranjak dewasa.

Di mata guru matematika saya hanya seorang murid malas yang sulit memahami pelajaran.

Di mata pacar, saya mungkin seorang yang kurang sensitif dan masih kekanak-kanakan.

Di mata yang lain, mungkin saya dianggap musuh, pesaing, atau orang membosankan yang tak perlu dilibatkan dalam banyak hal. Bermacam-macam, bukan?

Manusia itu kompleks, bahkan saat kita bertemu orang baru, otak kita secara otomatis akan terus menafsir tentang sosok tersebut sampai kita merasa bisa menarik kesimpulan tentangnya.

Padahal manusia sangat mungkin berubah.

Saat kita menganggap diri kita hebat dengan memoles profil dan berbagi banyak pencapaian di sosial media, bagi orang lain mungkin tidak.

Di mata banyak orang justru kita terlihat menyedihkan karena seperti haus akan pengakuan.

Namun jangan khawatir, pasti ada juga yang memang mengakui kehebatan kita, dan diakui itu kadang lebih menyenangkan.

Apalagi diakui tanpa perlu mengaku. Ditemukan tanpa perlu memperkenalkan. Kapan ya bisa begitu?

Jumat, 22 Juli 2022
Ahmad Fahrizal Aziz

Ahmad Fahrizal Aziz

Blogger dan Aktivis Literasi

1 Komentar

Tinggalkan komentar di sini, terima kasih sudah mampir.

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak