Bukan Salah Mereka yang Bertanya: Kapan Nikah?


Lebaran adalah momentum bertemu banyak orang, termasuk kerabat jauh yang mungkin hanya bertemu saat Hari Raya Idulfitri ini.

Tentu, dalam pertemuan itu akan muncul perbincangan ringan, gojlok-gojlokan atau timpalan humor untuk meramaikan suasana.

Bagi mereka yang sudah cukup umur dan belum menikah akan mendapat pertanyaan, kapan menikah? Sudah ada calon belum?

Pertanyaan tersebut sangat biasa, apalagi di kalangan masyarakat muslim dan pergaulan sosial yang menjadikan pernikahan sebagai fase penting dalam hidup.

Mereka yang belum menikah dianggap masih menjadi "beban" orang tua, terlebih anak perempuan.

Beban dalam hal ini bukan terkait ekonomi, karena banyak yang belum menikah dan sudah mandiri, punya karir dan pekerjaan serta relasi sosial yang bagus.

Juga masih ada yang sudah menikah, punya anak, namun secara ekonomi masih menjadi beban orang tua.

Dalam keluarga muslim Jawa, menikahkan adalah tanggung jawab orang tua, terutama perempuan secara perwalian, wali nikahnya adalah bapak kandungnya atau yang sedarah.

Dari sini kita bisa memahami beban psikis seorang bapak yang memiliki anak perempuan cukup umur.

Meskipun pada prakteknya juga banyak pernikahan yang dibiayai kedua mempelai sendiri, karena memang ekonominya sudah mendukung.

Lalu kenapa belum menikah?

Ada banyak faktor kenapa mereka yang sudah cukup umur belum menikah, faktor ini yang jarang dipahami orang, terutama kerabat jauh yang hanya bertemu kala lebaran.

Mungkin yang bersangkutan sudah ingin menikah, namun belum ada pasangan, entah karena tidak ada yang mendekatinya atau sudah bertemu dan belum ada kecocokan.

Alasan lainnya adalah faktor ekonomi yang belum tertata dan dia sedang berjuang untuk membangun basis ekonominya.

Meskipun ada beragam dalil yang menyatakan bahwa menikah bisa memperbaiki rezeki, namun faktanya itu relatif. 

Dia, dengan perspektif modern, tetap ingin menguatkan basis ekonominya terlebih dahulu. Biasanya mereka sudah punya calon, atau berencana melamar calonnya saat masa itu tiba.

Sementara ada juga yang belum menikah karena belum ingin, padahal sudah punya basis ekonomi. Meskipun sudah diingatkan nanti kalau menunda menikah kaitannya sama punya anak.

Perempuan biasanya paling khawatir karena dihinggapi informasi masa kesuburan. Dalam kajian-kajian Kespro direkomendasikan menikah antara usia 21-25 tahun untuk perempuan. Namun dia tetap belum ingin, namanya juga belum ingin, mau bagaimana lagi?

Ada banyak faktornya, bisa karena kondisi keluarga, misal dia anak broken home. Meskipun tak semua anak broken home mengalami ini, karena sebab perceraian orang tua pun juga macam-macam: bisa karena KDRT, perselingkuhan salah satunya, hingga bercerai secara baik-baik karena sudah tidak cocok.

Meskipun sama-sama dari keluarga broken home, efek traumanya juga berbeda-beda.

Berkaitan dengan efek trauma, faktor percintaan yang gagal di masa remaja dan dewasa awal juga memengaruhi. Misalnya pernah merasakan ditinggal pas lagi sayang-sayangnya.

Namun ada juga yang belum menikah karena harus membantu keluarga, semisal orang tuanya terlilit hutang atau sedang sakit.

Dia termasuk anak berbakti yang ingin meringankan beban orang tuanya dulu, sebagian pendapatannya dialihkan untuk kebutuhan orang tua.

Dia akan menikah ketika orang tuanya sudah mulai terlepas dari beban hidup, atau setidaknya--secara batin--membuatnya lega karena telah berbakti kepada orang tua sebelum memikul tanggung jawab lain.

Terakhir, mereka yang memutuskan belum menikah bisa jadi karena hal privat yang tak bisa diungkap, entah karena punya penyakit--dan sedang proses penyembuhan--atau karena alasan privat lain yang tak bisa dia ungkapkan.

Tentu, bagaimanapun, itu tetaplah wilayah privasi seseorang yang patut dihargai.

Bersikap biasa saja

Ketika orang menanyakan kapan nikah? sebaiknya sikap kita biasa saja.

Bisa jadi itu sebentuk kepedulian, atau minimal warning of life (Alarm hidup). Kadang-kadang kita memerlukan itu karena terlena/ enjoy with our self.

Di kehidupan perkotaan yang kompleks, banyak yang sudah terbiasa hidup menyendiri, menikmati pekerjaan, gaji dan relasi. Menganggap hidup seperti itu sudah cukup.

Mereka yang sudah menikah (couple), ada juga yang memilih tak punya anak (childfree) dengan beragam alasannya.

Namun dalam kehidupan tradisional dan sistem religi kita, menikah adalah bagian sakral, termasuk punya anak. Pertanyaan "kapan nikah" adalah bukti betapa sakralnya momentum tersebut. []

Blitar, 2 Mei 2022

Ahmad Fahrizal Aziz

Blogger dan Aktivis Literasi

Posting Komentar

Tinggalkan komentar di sini, terima kasih sudah mampir.

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak