Sambil Merenung di Stasiun Bogor



Ada rak berisi buku-buku di dekat fasilitas charge gratis stasiun, namun tak ada yang memedulikannya.

Mereka lebih memilih duduk berbaris di antara kabel-kabel yang menjulur.

Siang itu sedikit mendung, lantai peron yang dingin menjadi peristirahatan sejenak.

Dari dalam KRL, sejak memasuki area Bogor, suasananya seperti pegunungan, sesekali melihat sampah berserakan di pinggiran rel. Namun sesampainya di stasiun, lingkungannya sangat bersih.

Selamat datang di Buitenzorg, sebutan Belanda untuk Bogor. Stasiun ini tepat di tengah kota, dekat dari ex Taman Wilhelmina yang beralih fungsi menjadi Taman, Terminal Barang dan bangunan Plaza.

Sekarang diintegrasikan menjadi alun-alun kota Bogor.

Kondisi dalam gerbong KRL siang ini cukup lengang, berbeda halnya ketika pagi dan sore. Tak terlihat kepadatan dari Gondangdia hingga ke Bogor.

Namun penumpangnya beraneka ragam, mulai dari Ibu-ibu yang baru berbelanja dari Pasar Tanah Abang, para remaja berseragam, dan seorang pria yang sekilas mirip aktor Dimas Andrean.

Gerbong KRL ternyata ada bagian khusus perempuan, yang kaum pria tak boleh memasukinya.

Pintunya terbuka dan tertutup secara otomatis, suara announcer terdengar merdu. Suara announcer menjadi kenangan tersendiri ketika menaiki KRL dan Kereta Api.

Setelah turun dari KRL, para penglaju harus berjalan cukup jauh menuju tempat tap out kartu penumpang dan jalan utama untuk naik angkot atau memesan ojek online.

Area dalam stasiun.

Stasiun Bogor yang bangunan utamanya masih mempertahankan gaya lama tersebut bersisian dengan bangunan modern.

Terdapat beberapa billboard reklame di sepanjang selasar menuju pintu keluar.

Pemandangan di dalam dan di luar stasiun sangatlah kontras. Trotoar luar stasiun ramai pedagang kaki lima, seperti pasar tumpah. Aneka makanan ringan dan pernak pernik disajikan.

Para pedagang sebagian mangkal dengan gerobak, sebagian lagi berkeliling, termasuk di jembatan penyebrangan. Ramai dan sesak.

Pemandangan dari JPO.

Buitenzorg artinya tempat tanpa kecemasan. Mungkin ada benarnya, banyak orang berlibur di Bogor, namun bukan di tengah kota.

Mobil-mobil melaju ke arah Cisarua pada akhir pekan atau libur panjang, menyegarkan mata di area perkebunan sembari menghangatkan diri dengan secangkir teh panas.

Bung Karno pun juga mengagumi keindahan alam Bogor, ia termasuk yang menginisiasi pengelolaan kafe Riung Gunung sebagai paket wisata mancanegara. 

Kafe itu dulunya berlokasi di bangunan tua yang terhubung dengan tangga jembatan "legendaris" tengah jalan menuju Puncak Bogor. 

Orang-orang kini kerap menyebut tempat itu sebagai petilasan Bung Karno. []

Ahmad Fahrizal Aziz
Kompilasi Travel Note



Ahmad Fahrizal Aziz

Blogger dan Aktivis Literasi

Posting Komentar

Tinggalkan komentar di sini, terima kasih sudah mampir.

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak