Binahong-Gendola, Daun Kehidupan

Petik daun di Rumah Gendola Blitar.

SESEORANG terlihat serius mengamati sulur berdaun yang merambat subur di samping rumah. Matanya berbinar saat memastikan jika itu adalah "daun ajaib" itu.

Ia menyebutnya Binahong Merah, begitupun orang sekitar, padahal itu Daun Gendola, lebih tepatnya.

Sekilas memang mirip, namun ada perbedaan dari warna, tekstur daun, juga batang. Meski cara pemanfaatannya nyaris sama.

Tetangga bercerita jika saudaranya sembuh dari penyakit batu ginjal karena rutin meminum air rebusan daun tersebut. Saya pun takjub.

Orang-orang tua banyak menceritakan khasiatnya untuk mengobati penyakit, termasuk kenikmatan lain ketika dimasak menjadi sayuran. Ajaib sekali ya?

***
Memasak daun gendola bersama telur dan tahu.

Daun Gendola sengaja saya budidayakan, awalnya untuk menyegarkan lingkungan sekitar, terinspirasi dari beberapa rumah yang pagarnya terlihat rimbun oleh tanaman bersulur.

Pilihan jatuh ke Gendola karena sifatnya yang mudah tumbuh, lebat, bahkan secara liar, tak membutuhkan waktu lama, meskipun juga cepat mati.

Karena desas desus dari tetangga akan khasiatnya, saya pun mencari tahu lebih banyak apa itu tanaman Gendola, ternyata sudah terbit sebuah buku yang khusus mengupas Gendola.

Buku tersebut ditulis oleh herbalis bernama Mas Dewo, dan kata pengantarnya adalah Mooryati Soedibyo, pemilik Mustika Ratu yang terkenal itu.


Sepertinya ini serius dan ilmiah, bukan sekadar desas desus, ada sisi empiriknya, ada penelitianya juga. Malah Bu Mooryati menduga jika Gendola punya kandungan yang baik untuk perawatan kulit.

Beberapa referensi dalam bahasa inggris pun juga tersedia, salah satunya di Iplantz.com. Tanaman Gendola disebut Ceylon Spinach, bahasa ilmiahnya Basella Alba.

Di beberapa daerah, Gendola disebut Lembayung Malabar, Bayam Malabar atau Genjeran. Termasuk dedaunan yang tumbuh liar, dipetik untuk dijadikan makanan.

Namun saya sendiri justru baru tahu kalau Daun Gendola biasa dijadikan sayur mayur layaknya jenis daun lain yang juga tumbuh liar.

Sepertinya generasi kami terpotong, sehingga tak begitu mengenali "daun ajaib" ini. Sejak saat itu saya bertekad membudidayakan Gendola bersama beberapa tanaman jenis lainnya.

Daunnya yang tebal dan kenyal, ternyata enak dijadikan campuran Mie Instan, dan tak memengaruhi rasa kuahnya.

Termasuk ketika dimasak bersama Nasi Goreng, sebagai pengganti Sawi. Enak sekali.

Seharusnya Daun Gendola bisa menjadi alternatif sayuran untuk pelengkap Pangsit dan Mie Ayam, tentu lebih hemat biaya karena mudah sekali dibudidayakan.
Mie instan tambah telur dan 9 lembar daun gendola.

Ternyata bukan hanya daunnya yang bermanfaat, bijinya jika direndam juga bisa dimanfaatkan sebagai pewarna merah alami.

Disamping rasanya yang enak, terpenting adalah khasiatnya. Berdasar buku karya Mas Dewo, Gendola bisa melawan beragam penyakit seperti diabetes, kanker, jantung dan sederet penyakit kelas berat lainnya.

Saya begitu takjub dengan beragam analisis dan penelitian ilmiah tentang Gendola. Luar biasa sekali ya? Padahal ini bukan tipe tanaman mahal, malah masuk kategori tanaman liar, menanamnya pun sangat mudah, kadang bisa tumbuh lebat dengan sendirinya di musim hujan.

Saya memperbanyak tanaman ini, bahkan rumah saya pun share loc-nya berubah menjadi Rumah Gendola Blitar.

Siapapun yang datang kesini boleh mengambil daun tersebut, gratis, tak diperjual belikan. Namun sebagian sudah habis dan harus sabar menunggu untuk tumbuh lagi.

Jika Gendola memang memiliki khasiat tinggi untuk kesehatan, berarti tak berlebihan jika disebut "daun kehidupan", hadiah Tuhan untuk manusia yang terlupakan, dan mari kita syukuri lagi kehadirannya. []

Blitar, 2 September 2022
Ahmad Fahrizal Aziz

Ahmad Fahrizal Aziz

Blogger dan Aktivis Literasi

Posting Komentar

Tinggalkan komentar di sini, terima kasih sudah mampir di blog ini ya.

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak