Tempe dan Aktivis Literasi

Tempemovement.com



AMEDEUS DRIANDO menjelaskan secara gamblang apa itu Tempe, ia mengupas dari sisi sejarah, kandungan gizi hingga social impact. Menurutnya, orang Indonesia, sejauh ini, bisa terhindar dari ledakan obesitas karena Tempe.


Penjelasan Driando begitu ilmiah, menarik dan mencerahkan, untuk suatu yang kita pikir hanya Tempe. Makanan murah meriah yang bisa kita temukan dengan mudah di Warteg dan penjual sayur keliling.


Namun di tangan seorang Driando, Tempe jadi sangat bergengsi dan penuh kebanggaan. Ia bersama kakeknya, Prof. Winarno, menginisiasi suatu gerakan bernama Tempe Movement.


Padahal Driando bukan penemu Tempe, ia penikmat Tempe seperti jutaan orang di Indonesia, ia juga membuat Tempe layaknya para pembuat tempe lainnya.


Namun ia memiliki literasi lebih luas terkait Tempe dibandingkan orang lain.


Ia tak terlibat dalam jual-beli Tempe, lebih ke kampanye makan Tempe, melakukan penelitan tentang Tempe, mengisi workshop pembuatan Tempe dan mencipta inovasi dari Tempe yang mungkin sangat beguna di masa mendatang.


Ia menyebut Tempe adalah "peternakan" masa depan yang lebih cepat dipanen, kandungan proteinnya tak kalah dengan daging sapi.


***


Itu baru Tempe, belum hal lainnya. Kita menyadari pentingnya literasi sebagai pencerahan, ada pengetahuan dan pemahaman terkait suatu hal.


Bangsa dengan literasi yang baik berpeluang untuk menemukan jati dirinya. Sayangnya kegiatan literasi sejauh ini lebih berorientasi pada hal-hal praktis, disederhanakan sebagai hobi.


Dengan literasi yang baik, Tempe yang selama ini kita anggap biasa saja, bahkan kastanya di bawah makanan olahan, ternyata punya nilai keadaban yang tinggi di mata ilmu gizi.


Mereka yang makan hanya berlauk Tempe dan Tahu terkesan nelangsa, padahal itu adalah lauk yang baik untuk tubuh.


Aktivis Literasi memiliki kesempatan besar untuk menyibak tabir tersebut, suatu keadaban lokal, sejarah bangsa dan hal lain yang perlahan tergerus oleh nilai-nilai dari luar.


Tugas aktivis literasi adalah menciptakan bungkus makna dari realitas di sekitar, menambal lubang-lubang sosial yang dibiarkan menganga karena terlalu sibuk dengan ceremoni dan administrasi.


Bayangkan andai literasi kita kuat, makanan tradisional mungkin memenuhi etalase utama kafe-kafe di pusat kota.


Minuman seperti Wedang Uwuh dan Ronde akan sama bergengsinya dengan Matcha dan Ocha, yang di negeri asalnya juga termasuk minuman tradisional.


Kita hanya perlu menggali lagi khazanah diri lewat buku-buku yang sudah lama tak dibaca, mendengar dari orang-orang tua, menulis ulang kekayaan besar itu agar dipahami lebih banyak orang.


Ini sekaligus menjawab pertanyaan: aktivis literasi menawarkan apa?


Aktivis literasi menawarkan perubahan mindset, dan itu bukan sesuatu yang mudah sebab sangat berkaitan dengan siapa yang membawanya, the medium is the message.


Hal yang pertama diubah oleh aktivis literasi adalah dirinya, untuk mencerminkan jika ia memang seorang aktivis literasi yang terlibat langsung dengan kebiasaan membaca buku, menulis dan menebarkan pengetahuan baru pada sekitar. []


Blitar, 10 Oktober 2022

Ahmad Fahrizal Aziz

Ahmad Fahrizal Aziz

Blogger dan Aktivis Literasi

Posting Komentar

Tinggalkan komentar di sini, terima kasih sudah mampir.

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak