Pelantikan GPMB Kabupaten Blitar. Cerita, Renungan dan Harapan


SUDAH cukup sering kami bertemu di kedai kopi, kantor perpustakaan, atau rapat-rapat kecil, sejak akhir tahun 2020 hingga pertengahan 2022.

Pembahasannya hampir sama: terkait struktur kepengurusan dan mendiskusikan posisi Gerakan Pemasyarakatan Minat Baca (GPMB), sebagai organisasi mitra perpustakaan daerah.

Berulang kali membaca AD/ART dan ternyata bukan hal mudah bagi orang non birokrasi seperti saya untuk memahaminya. Perlu petunjuk dari langit.

Jakarta, awal tahun 2020

Para pegawai masih senam pagi di teras Perpustakaan Nasional yang megah itu, namun pengunjung bisa menunggunya di Ruang Heritage.

Ada sebuah liflet berlogo GPMB, lantas saya teringat cerita Bu Rahayuningtyas (Bu Ning). Kala itu, beliau bercerita tentang GPMB.

Tentu saya cuek dan mengira itu mirip dengan MGMP (sering tertukar penyebutannya), bedanya kalau GPMB adalah komunitasnya para pustakawan yang memang bekerja di Perpustakaan Daerah, Kecamatan ataupun Desa.

Tak terlalu menarik bagi saya yang "orang biasa" ini.

Saya mampir ke Perpustakaan Nasional sekadar ingin tahu kemegahannya, meski ponsel berulangkali berbunyi karena jam 09.00 harus lekas ke Gondangdia menuju Bogor via KRL.

Tak sempat membuat kartu anggota.

Pertengahan 2020

Bu Ning kembali bercerita tentang GPMB saat pertemuan FLP Blitar yang dihadiri Bu Afifah Afra, yang baru diundang menjadi narasumber Dinas Perpusip Kota Blitar.

Wajahnya berbinar saat saya bercerita tentang GPMB. Ya, di dalam KRL yang lengang menuju Bogor saya mencarinya di Google dan menemukan subdomain website GPMB di Perpustakaan Nasional.

Ternyata ada ya komunitas kayak gini di lingkungan pemerintah?

Lantas saya diundang ke rumah beliau untuk "pengenalan" GPMB Kabupaten Blitar. Ada Pak Setiawan Adi, Mas Hendra, Mbak Celvian, Mbak Lilik, Mbak Karis, dan Pak Kasi (Maaf lupa namanya).

Undangan itu hari Rabu, 7 Oktober 2020. Bu Ning menyajikan gado-gado dan es buah, sambil menyampaikan jika tanggal 9 Oktober adalah Musyawarah Daerah GPMB Kabupaten Blitar.

9 Oktober kapan? 2020, dan itu dua hari lagi.

"Lewat zoom, tolong dibantu votingnya nanti," jelasnya.

Saya tercekat sambil membatin. Dua hari lagi? Singkatnya Musyawah Daerah super kilat itupun menjadikan Pak Setiawan Adi sebagai ketua GPMB Kabupaten Blitar periode 2020-2023.

Setelah itu, Pak Dadik (panggilan akrabnya) mengundang saya dan mas Hendra untuk rapat membahas apa itu GPMB.

"Yang kemaren seperti apa?" tanya Pak Dadik.

Dan kami saling berpandangan. Sebab hal yang sama pun juga hendak kami tanyakan ke beliau.

***


Pak Dadik melempar pertanyaan: apakah kita sudah legal?

Saya diminta menjadi sekretaris bersama Mbak Celvian, dalam SK terbaru ditulis sekretaris I dan II.

Pak Dadik merasa jika Musyawarah Daerah, laporan dan persuratan diurus oleh pengurus sebelumnya sebagai bekal mengurus pelantikan.

Saya dan Mbak Celvian juga belum banyak tahu, hingga saya menghubungi Bu Ning untuk meminta serah terima berkas.

Tentu sebagai sekretaris yang nantinya lebih banyak ke urusan eksternal saya perlu mempelajari berkas-berkas terdahulu sebagai acuan.

Namun tak ada berkas apapun yang dilimpahkan ke saya, bahkan stempel pun tak ada. Lha apa selama ini GPMB tak pernah bersurat?

"Buat yang baru saja," lanjut Bu Ning.

Di sela kebingungan soal status keorganisasian, kami tetap menyusun struktur dan menghubungi pihak-pihak yang bisa memperkuat formasi GPMB Kabupaten Blitar kedepan.

Tentu saya mengajak "orang luar" dari komunitas dan usia-usia muda untuk penyegaran.

Lagipula, GPMB itu sudah otomatis punya anggota dari kalangan Pustakawan karena memang organisasi yang didirikan para pustakawan.

Pak Dadik, meski bukan pustakawan, namun sangat dekat dengan dunia buku dan perpustakaan karena memiliki TBM.

Apalagi Mbak Celvian dkk yang memang bekerja dan beraktivitas di bidang tersebut. Jadi untuk keanggotaan bukan hal yang sulit.

***


Pertemuan akbar dengan calon pengurus PD GPMB Kabupaten Blitar pun pertama kali digelar, Jumat 27 November 2020, disambut Pak Herman Widodo selaku Kadis dan Pak Yohannes selaku Kabid layanan Perpustakaan.

Pak Dadik berpendapat karena kepengurusan ini belum dilantik dan dikukuhkan, maka belum sah dan belum bisa bersurat, beliau meminta agar persuratan menggunakan kop dinas terlebih dahulu.

Namun situasi sepertinya tidak mendukung, karena Desember adalah pemilihan bupati, lanjut ke pelantikan bupati baru dan memasuki masa-masa mutasi jabatan.

Memasuki tahun 2021 hingga akhir tahun, seperti tak ada kejelasan lanjutan terkait GPMB Kabupaten Blitar. Saya mengira its over. Sudah selesai sebelum dimulai.

Mekanisme dan aturannya yang masih mengawang, karena berkegiatan di dinas, itu juga sangat bergantung pada penganggaran.

Awal tahun 2022, pembahasan kembali dimulai, namun beberapa calon pengurus harus dirombak ulang karena banyak yang mengundurkan diri atau slow responses.

Pada kesempatan ini juga membahas Lemon Seger, suatu kegiatan rutin GPMB yang bisa didukung oleh Dinas menyesuaikan program internal.

Lebih satu tahun terombang ambing dalam ketidakjelasan, dan serasa kena prank karena ditodong menjadi pengurus oleh Bu Ning tanpa dibekali berkas apapun.

Hal yang secara keorganisasian tak pernah saya temui, bahkan di ekstrakurikuler tingkat sekolah sekalipun.

Namun itu membuat saya belajar banyak hal dan sedikit tahu suasana birokrasi, sesuai quote populer: Life is a journey, not a Destination.

***

Pertemuan calon pengurus GPMB Kabupaten Blitar dimulai lagi dari awal, bersama pimpinan baru Dinas Perpusip dengan suasana yang lebih stabil.

Pelantikan dan pengukuhan pun menemukan momentum bebarengan dengan acara Bazar Literasi yang sekaligus dihadiri Bupati.

Menjelang acara Mbak Celvian menghubungi saya terkait pengajuan SK pengurus.

"Sesuai arahan kadis ya seharusnya dari PD GPMB Kabupaten Blitar yang mengajukan ke PD GPMB Jawa Timur," jelasnya.

Rutenya adalah, PD GPMB Kabupaten Blitar mengajukan SK ke PD GPMB Jawa Timur sekaligus permohonan pelantikan.

Lalu PD GPMB Jawa Timur membuatkan SK dan dikirimkan ke Dinas Perpusip untuk diajukan ke Setda agar dikukuhkan oleh Bupati Blitar.

Kehadiran Bupati pun secara bersamaan membuka Bazar Literasi, meresmikan gedung Perpustakaan Daerah, Pengukuhan PD GPMB Kabupaten Blitar, santunan anak yatim, dan pemberian penghargaan Literasi Awards.

Akhirnya Pengurus Daerah GPMB Kabupaten Blitar secara sah dikukuhkan dengan penyesuaian SK periode 2022-2025.

***

Setelah sah dilantik, lalu apa?

Memang ini menjadi hal yang harus dipikirkan, semacam harapan yang perlu diwujudkan berkaitan dengan gerakan membangun minat baca.

Di luar program literasi inklusi yang belakangan lebih berfokus ke literasi terapan, sepertinya kepenulisan dan sastra menjadi hal menarik untuk digiatkan kembali.

Karanganyar, 19 November 2022
Ahmad Fahrizal Aziz


Ahmad Fahrizal Aziz

Blogger dan Aktivis Literasi

Posting Komentar

Tinggalkan komentar di sini, terima kasih sudah mampir di blog ini ya.

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak